Romney kian tempel Obama
Rabu, 17 Oktober 2012 - 10:13 WIB
Romney kian tempel Obama
A
A
A
Sindonews.com - Calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) dari Republikan Mitt Romney berhasil meraih USD170,5 juta (Rp1,63 triliun) untuk dana kampanye, hanya pada September ini. Saat ini, Republikan memiliki USD191,2 juta (Rp1,83 triliun) dana tunai di tangan mereka. Dana tersebut diperuntukkan biaya iklan, gaji staf, biaya kantor, dan biaya kampanye menjelang pemilu 6 November.
Angka itu perolehan donasi Romney pada September itu, hampir mendekati donasi yang diperoleh Obama dan Komite Nasional Demokrat. Obama dan sekutunya telah yang telah memperoleh USD181 juta (Rp1,74 triliun) pada September lalu. Namun, kubu Demokrat tidak memaparkan berapa jumlah dana tunai yang dimiliknya.
Dengan demikian, donasi kampanye besar-besaran itu menjadi simbol bahwa kampanye pemilu presiden kali ini termahal dalam sejarah pemilu AS. September lalu merupakan bulan pertalian kedua, di mana Demokrat mampu menundukkan tim kampanye Romney. Padahal, selama tiga bulan sebelumnya Republikan mampu memimpin dalam perolehan dana kampanye itu. September merupakan bulan yang sangat keras bagi Romney.
Posisinya selalu melemah. Apalagi, saat itu dia menyebut 47% rakyat AS menjadi warga yang selalu bergantung pada pemerintah. Namun, Romney bangkit setelah memenangi debat pada 3 Oktober silam dengan Obama.“Hanya kurang satu bulan, kami akan melanjutkan kerja keras untuk mendapatkan dana agar Romney dan Paul Ryan menang pada November mendatang. Mereka bakal membawa perubahan nyata bagi rakyat AS,”kata Spencer Zwick, ketua keuangan tim kampanye Romney, dikutip Reuters.
Posisi Obama dan Romney juga bersaing sangat ketat. Jajak pendapat harian Reuters/ Ipsos pada Senin (15/10) menunjukkan Obama memimpin 47%, berbanding dengan 45% milik Romney. “Pertarungan ini sangat ketat,” kata Obama dalam email yang dikirim kepada pendukungnya, untuk menarik dukungan dana. Sementara itu, Obama dalam tekanan kuat dalam debat yang berlangsung pada Selasa (16/10) waktu setempat.
Dia harus menang dan tampil sempurna untuk mendapatkan momentum terbaiknya. Obama juga diminta untuk menjelaskan perbedaan kebijakan yang lebih signifikan dibandingkan Romney. “Semua tekanan bakal diberikan kepada Obama saat ini, karena penampilan buruknya pada debat pertama,”kata Andrew Taylor, pakar politik dari Universitas Negeri North Carolina.“ Obama harus memperkukuh kapal dan harus membangkitkan kepercayaan diri kubu Demokrat lagi,”terang Taylor.
Obama dan tim kampanye telah berjanji bakal tampil total dalam debat selama 90 menit di Universitas Hofstra di New York. Kali ini Obama akan menampilkan berbagai isu kebijakan tanpa mengungkapkan permasalahan pribadi. Romney saat ini kerap dianggap gagal mengomunikasikan diri dengan rakyat biasa. Namun, posisinya sedang aman menjadikan dia harus tetap menjaga momentum agar berpihak kepadanya.
Baik Romney maupun Obama harus akrab dengan format gelanggang kota yang menjadi konsep debat kedua. “Format itu menjadikan mereka dapat berbicara langsung kepada rakyat. Publik juga dapat melihat langsung dengan mata kepala sendiri dan mencoba untuk mengoneksikan, ”kataTaylor. Sementara itu, Romney semakin mengurangi kesenjangan poin yang diperolehnya dalam jajak pendapat likeability (favorit) dibandingkan dengan Obama.
Obama masih memimpin dalam jajak pendapat tersebut dengan 22 poin.Survei itu dilaksanakan hingga 14 Oktober. Sebelumnya, selisih yang diperoleh Obama mencapai 28 poin sebelum debat pertama. Dalam pertanyaan siapa kandidat yang lebih enak dan nyaman ketika bertemu masyarakat, selisih Obama mencapai 24 poin atau turun dari 28.
Romney memimpin dalam beberapa pertanyaan, seperti kandidat yang lebih taat beragama. Romney merupakan penganut Mormon unggul 40% dibandingkan Obama yang menganut Protestan dengan 31%.Kegagalan Obama dalam debat pertama menjadikan posisinya dalam penilaian kemampuan berpidato jatuh sebanyak 12 menjadi 16 poin.
Angka itu perolehan donasi Romney pada September itu, hampir mendekati donasi yang diperoleh Obama dan Komite Nasional Demokrat. Obama dan sekutunya telah yang telah memperoleh USD181 juta (Rp1,74 triliun) pada September lalu. Namun, kubu Demokrat tidak memaparkan berapa jumlah dana tunai yang dimiliknya.
Dengan demikian, donasi kampanye besar-besaran itu menjadi simbol bahwa kampanye pemilu presiden kali ini termahal dalam sejarah pemilu AS. September lalu merupakan bulan pertalian kedua, di mana Demokrat mampu menundukkan tim kampanye Romney. Padahal, selama tiga bulan sebelumnya Republikan mampu memimpin dalam perolehan dana kampanye itu. September merupakan bulan yang sangat keras bagi Romney.
Posisinya selalu melemah. Apalagi, saat itu dia menyebut 47% rakyat AS menjadi warga yang selalu bergantung pada pemerintah. Namun, Romney bangkit setelah memenangi debat pada 3 Oktober silam dengan Obama.“Hanya kurang satu bulan, kami akan melanjutkan kerja keras untuk mendapatkan dana agar Romney dan Paul Ryan menang pada November mendatang. Mereka bakal membawa perubahan nyata bagi rakyat AS,”kata Spencer Zwick, ketua keuangan tim kampanye Romney, dikutip Reuters.
Posisi Obama dan Romney juga bersaing sangat ketat. Jajak pendapat harian Reuters/ Ipsos pada Senin (15/10) menunjukkan Obama memimpin 47%, berbanding dengan 45% milik Romney. “Pertarungan ini sangat ketat,” kata Obama dalam email yang dikirim kepada pendukungnya, untuk menarik dukungan dana. Sementara itu, Obama dalam tekanan kuat dalam debat yang berlangsung pada Selasa (16/10) waktu setempat.
Dia harus menang dan tampil sempurna untuk mendapatkan momentum terbaiknya. Obama juga diminta untuk menjelaskan perbedaan kebijakan yang lebih signifikan dibandingkan Romney. “Semua tekanan bakal diberikan kepada Obama saat ini, karena penampilan buruknya pada debat pertama,”kata Andrew Taylor, pakar politik dari Universitas Negeri North Carolina.“ Obama harus memperkukuh kapal dan harus membangkitkan kepercayaan diri kubu Demokrat lagi,”terang Taylor.
Obama dan tim kampanye telah berjanji bakal tampil total dalam debat selama 90 menit di Universitas Hofstra di New York. Kali ini Obama akan menampilkan berbagai isu kebijakan tanpa mengungkapkan permasalahan pribadi. Romney saat ini kerap dianggap gagal mengomunikasikan diri dengan rakyat biasa. Namun, posisinya sedang aman menjadikan dia harus tetap menjaga momentum agar berpihak kepadanya.
Baik Romney maupun Obama harus akrab dengan format gelanggang kota yang menjadi konsep debat kedua. “Format itu menjadikan mereka dapat berbicara langsung kepada rakyat. Publik juga dapat melihat langsung dengan mata kepala sendiri dan mencoba untuk mengoneksikan, ”kataTaylor. Sementara itu, Romney semakin mengurangi kesenjangan poin yang diperolehnya dalam jajak pendapat likeability (favorit) dibandingkan dengan Obama.
Obama masih memimpin dalam jajak pendapat tersebut dengan 22 poin.Survei itu dilaksanakan hingga 14 Oktober. Sebelumnya, selisih yang diperoleh Obama mencapai 28 poin sebelum debat pertama. Dalam pertanyaan siapa kandidat yang lebih enak dan nyaman ketika bertemu masyarakat, selisih Obama mencapai 24 poin atau turun dari 28.
Romney memimpin dalam beberapa pertanyaan, seperti kandidat yang lebih taat beragama. Romney merupakan penganut Mormon unggul 40% dibandingkan Obama yang menganut Protestan dengan 31%.Kegagalan Obama dalam debat pertama menjadikan posisinya dalam penilaian kemampuan berpidato jatuh sebanyak 12 menjadi 16 poin.
(aww)