Rusia bantah kirim bom curah ke Suriah
Senin, 15 Oktober 2012 - 20:38 WIB
Rusia bantah kirim bom curah ke Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Laporan mengenai penggunaan bom curah (klaster) dalam perang domestik Suriah mulai bergulir. Aktivis HAM mendapat informasi bahwa bom yang digunakan pasukan Suriah didapat dari Rusia, namun Rusia tidak mengkonfirmasi laporan itu.
"Banyak pasokan senjata ilegal di Timur Tengah dan sulit bagi kita untuk menyelidikinya," ujar Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, seperti dikutip Russia Today, Senin (15/10/2012).
"Tidak ada konfirmasi untuk hal ini, wilayah Timur Tengah memang dipenuhi senjata, tidak hanya di Suriah, negara-negara lainnya juga sama," imbuhnya.
Lavrov menjelaskan sulitnya mengidentifikasi senjata-senjata yang masuk ke Suriah. Dan selama ini, sebagian besar negara di dunia ini melarang penggunaan bom curah lewat sebuah perjanjian di Amerika Serikat (AS) pada 1999 silam. Meski demikian, Rusia, AS, China, dan Suriah menolak untuk meratifikasi perjanjian itu.
Salah satu alasan dari larangan penggunaan bom curah didasarkan karena, pecahan bom itu juga bisa meledak. Ledakan dari pecahan bom curah sangat berpotensi melukai banyak warga sipil.
Pemerintah Suriah sendiri tidak mengeluarkan komentar mengenai tuduhan bom curah tersebut. Mereka tetap membungkam diri ketika diminta menanggapi tuduhan dari kelompok pengawas HAM yang berbasis di New York, Human Right Watch (HRW).
HRW mendapat informasi penggunaan bom mematikan itu lewat sebuah video amatir dan wawancara dengan warga Suriah. Warga mengklaim, Angkatan Udara Suriah menjatuhkan bom curah di Maaret al-Numan.
"Banyak pasokan senjata ilegal di Timur Tengah dan sulit bagi kita untuk menyelidikinya," ujar Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, seperti dikutip Russia Today, Senin (15/10/2012).
"Tidak ada konfirmasi untuk hal ini, wilayah Timur Tengah memang dipenuhi senjata, tidak hanya di Suriah, negara-negara lainnya juga sama," imbuhnya.
Lavrov menjelaskan sulitnya mengidentifikasi senjata-senjata yang masuk ke Suriah. Dan selama ini, sebagian besar negara di dunia ini melarang penggunaan bom curah lewat sebuah perjanjian di Amerika Serikat (AS) pada 1999 silam. Meski demikian, Rusia, AS, China, dan Suriah menolak untuk meratifikasi perjanjian itu.
Salah satu alasan dari larangan penggunaan bom curah didasarkan karena, pecahan bom itu juga bisa meledak. Ledakan dari pecahan bom curah sangat berpotensi melukai banyak warga sipil.
Pemerintah Suriah sendiri tidak mengeluarkan komentar mengenai tuduhan bom curah tersebut. Mereka tetap membungkam diri ketika diminta menanggapi tuduhan dari kelompok pengawas HAM yang berbasis di New York, Human Right Watch (HRW).
HRW mendapat informasi penggunaan bom mematikan itu lewat sebuah video amatir dan wawancara dengan warga Suriah. Warga mengklaim, Angkatan Udara Suriah menjatuhkan bom curah di Maaret al-Numan.
(esn)