Uni Eropa siapkan sanksi baru bagi Iran
Senin, 15 Oktober 2012 - 19:58 WIB
Uni Eropa siapkan sanksi baru bagi Iran
A
A
A
Sindonews.com - Uni Eropa (UE) bersiap untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran. Seperti dikutip dari BBC.co.uk, Senin (15/10/2012), tiga negara anggota UE, Inggris, Prancis, Jerman mendesak UE untuk menjatuhkan sanksi lebih berat bagi Iran, terkait program nuklir Iran.
Rancangan sanksi baru ini digagas menjelang pertemuan para Menteri Luar Negeri UE di Luksemburg. "Pertemuan Menteri UE akan membahas sanksi baru, yang menjadi tanda bahwa UE akan terus memberikan tekanan," ujar William Hague, Menteri Luar Negeri Inggris.
Para diplomat mengatakan, langkah-langkah perumusan sanksi baru akan terfokus pada bidang perdagangan, transaksi keuangan antara bank-bank Eropa dengan bank-bank Iran, dan impor gas alam. Beberapa pengecualian masih diberlakukan. Seperti transaksi yang melibatkan pembelian bantuan kemanusiaan, makanan, dan obat-obatan
Para pebisnis di Eropa akan diminta untuk mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk otorisasi, sebelum mereka dapat membiayai transaksi barang yang diizinkan. Nantinya, juga akan ada larangan baru soal jaminan kredit ekspor perdagangan jangka pendek. Sebelumnya, jaminan kredit ekspor perdagangan jangka menengah dan jangka panjang dengan Iran sudah dilarang.
Perusahaan di Eropa juga tidak akan diizinkan untuk menjual aluminium dan grafit ke Iran. Dua bahanbaku ini ditenggarai bisa digunakan dalam program nuklir dan rudal balistik. Uni Eropa juga akan melarang impor gas alam dari Iran.
Para analis mengatakan, sanksi sepihak yang diberlakukan oleh AS dan Uni Eropa, serta yang dikenakan oleh Dewan Keamanan PBB, telah menimbulkan kerusakan yang signifikan pada ekonomi Republik Islam itu. Awal bulan ini, kerusuhan pecah ketika mata uang Iran, Rial, jatuh ke posisi terendah terhadap dolar.
Negara-negara Barat mencurigai program nuklir Iran merupakan kedok untuk mengembangkan senjata, hal yang tegas-tegas dibantah oleh Iran. Pemerintah Iran mengatakan, pengayaan uranium hingga 20% dilakukan untuk reaktor riset medis di Teheran. Namun, para ahli di Barat mengatakan, uranium itu bisa diubah menjadi senjata nuklir dalam waktu enam bulan.
Rancangan sanksi baru ini digagas menjelang pertemuan para Menteri Luar Negeri UE di Luksemburg. "Pertemuan Menteri UE akan membahas sanksi baru, yang menjadi tanda bahwa UE akan terus memberikan tekanan," ujar William Hague, Menteri Luar Negeri Inggris.
Para diplomat mengatakan, langkah-langkah perumusan sanksi baru akan terfokus pada bidang perdagangan, transaksi keuangan antara bank-bank Eropa dengan bank-bank Iran, dan impor gas alam. Beberapa pengecualian masih diberlakukan. Seperti transaksi yang melibatkan pembelian bantuan kemanusiaan, makanan, dan obat-obatan
Para pebisnis di Eropa akan diminta untuk mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk otorisasi, sebelum mereka dapat membiayai transaksi barang yang diizinkan. Nantinya, juga akan ada larangan baru soal jaminan kredit ekspor perdagangan jangka pendek. Sebelumnya, jaminan kredit ekspor perdagangan jangka menengah dan jangka panjang dengan Iran sudah dilarang.
Perusahaan di Eropa juga tidak akan diizinkan untuk menjual aluminium dan grafit ke Iran. Dua bahanbaku ini ditenggarai bisa digunakan dalam program nuklir dan rudal balistik. Uni Eropa juga akan melarang impor gas alam dari Iran.
Para analis mengatakan, sanksi sepihak yang diberlakukan oleh AS dan Uni Eropa, serta yang dikenakan oleh Dewan Keamanan PBB, telah menimbulkan kerusakan yang signifikan pada ekonomi Republik Islam itu. Awal bulan ini, kerusuhan pecah ketika mata uang Iran, Rial, jatuh ke posisi terendah terhadap dolar.
Negara-negara Barat mencurigai program nuklir Iran merupakan kedok untuk mengembangkan senjata, hal yang tegas-tegas dibantah oleh Iran. Pemerintah Iran mengatakan, pengayaan uranium hingga 20% dilakukan untuk reaktor riset medis di Teheran. Namun, para ahli di Barat mengatakan, uranium itu bisa diubah menjadi senjata nuklir dalam waktu enam bulan.
(esn)