Biden Ciptakan Momentum
Minggu, 14 Oktober 2012 - 09:11 WIB
Biden Ciptakan Momentum
A
A
A
Sindonews.com - Penampilan agresif Joe Biden dalam debat calon wakil presiden (cawapres), menciptakan momentum bagi Barack Obama yang akan berdebat melawan calon presiden dari Partai Republik Mitt Romney, Selasa (16/10) depan.
Setelah Obama yang pasif saat debat melawan Romney pekan lalu, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berhasil membakar kembali semangat kubu Partai Demokrat dalam debat Kamis (11/10) malam melawan Ryan.
Biden menyerang pasangan Romney itu dalam isu pajak, pelayanan kesehatan, dan kebijakan luar negeri. Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan setelah debat menunjukkan 42% pemilih menganggap Biden menang,dibandingkan 35% yang memilih Ryan.Sebanyak 23% menyatakan mereka tidak tahu siapa yang lebih unggul. “Debat wakil presiden tidak mengubah hasil pemilu,tapiinimungkintelahsedikit meningkatkan gelombang pasang,”ujar pengumpul suara Ipsos,Julia Clark. Gejala memanasnya pertarungan itu tampak dari persaingan ketat antara Romney dan Obama.
Laporan Reuters/ Ipsos yang dirilis Jumat (12/10) menunjukkan Romney unggul 1% poin dibandingkan Obama. Romney 46% dan Obama 45%. Padahal pada survei Reuters/Ipsos yang dirilis Kamis (11/10), Romney masih memimpin 3%. Sebagian besar responden ditanya lagi sebelum debat wakil presiden tersebut. Lebih dari 51 juta warga AS menonton debat wakil presiden tersebut. Hasil survei itu langsung dirilis Jumat (12/10) dan menunjukkan pergeseran pemilih untuk mendukung Obama.
Kubu Partai Republik berupaya keras mencegah pe-nampilan Biden menciptakan momentum bagi Demokrat. Karena itu,Republik menyerang perilaku Biden selama debat, bukan substansi permasalahan yang diperdebatkan kedua calon wakil presiden tersebut. Republik menyebut Biden terlalu banyak menyeringai dan kasar terhadap Ryan selama debat tersebut.Mereka berharap komentar Biden tentang keamanan di kompleks diplomatik AS di Benghazi, Libya, pada 11 September lalu dapat merusak kredibilitas Obama dalam kebijakan luar negeri.
Saat ditanya di Kentucky tentang apakah misi di Libya meminta tambahan keamanan dalam beberapa bulan sebelum serangan, Biden mengatakan,“ Baik, kami tidak mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak keamanan lagi. Kami tidak tahu mereka menginginkan lebih banyak keamanan lagi.” Saat kampanye di Richmond, Virginia,Romney menuduh Biden memberikan pernyataan yang bertentangan dengan keterangan pejabat Departemen Luar Negeri AS,yang pekan ini mengatakan bahwa konsulat itu telah menunjukkan kekhawatiran tentang keamanan sebelum serangan yang menewaskan Duta Besar AS untuk Libya, Christopher Stevens dan tiga warga AS lainnya.
“Dia menggandakan penyangkalan,” ujar mantan gubernur Massachusetts itu di depan para pendukungnya. Romney dan Ryan bertemu Jumat (12/10) malam untuk berkampanye di Lancaster, Ohio. Dia memuji penampilan pasangannya itu dengan sebutan “wakil presiden hebat ini.” “Ada satu orang di panggung dengan perhatian, yang menghormati, mantap, dan tenang. Di sana ada satu orang di panggung yang Anda ingin bersamanya jika mereka dalam krisis dan inilah pria itu di sini,”papar Romney.
Demokrat menganggap sikap Republik atas insiden Libya itu hanya untuk memolitisasi sebuah tragedi. Biden pun terus melanjutkan tekanannya terhadap kubu Republik dengan mengunjungi negara bagian tempat tinggal Ryan di Wisconsin, pada Jumat (12/10). Di sana, Biden mengecam sikap Ryan dalam isu aborsi dan perang di Afghanistan. “Jika ada seseorang yang meragukan tentang apa yang dipertaruhkan dalam pemilu ini dalam masalah hak asasi perempuan dan Mahkamah Agung (MA), saya yakin mereka sudah mengetahuinya kemarin malam,” tutur Biden yang ditemani istrinya, Jill, di depan lebih dari 2.000 pendukung Demokrat.
Selama debat,Ryan dan Biden ditanya tentang bagaimana kepercayaan Katolik Roma mereka memengaruhi sikap mereka tentang aborsi. Biden yakin aborsi harus dilegalkan. Ryan menentangnya, kecuali dalam kasus pemerkosaan,incest, atau mengancam nyawa ibu yang mengandung. “Anggota Kongres Ryan menyatakan dengan sangatjelasbahwadiadan Gubernur Romney siap memberlakukan pendapat pribadi mereka pada setiap orang.
Sudah jelas kemarin malam bahwa mereka tidak percaya dalam melindungi akses wanita pada pelayanan kesehatan,”katanya. Biden juga memukul Ryan terkait sikap kubu Republik dalam masalah perang di Afghanistan. Pemerintahan Obama berencana memindahkan semua pasukan AS dari Afghanistan pada akhir 2014. Romney dan Ryan berdalih memberlakukan batas waktu yang tegas dapat membuat Taliban di Afghanistan semakin berani memerangi pasukan AS di sana.
“Saya katakan dengan sangat jelas atas nama presiden dan saya, bahwa kita meninggalkan Afghanistan pada 2014, titik.Tidak ada jika dan atau tetapi,” tegas Biden.“Anggota Kongres Ryan,dia menyatakan sangat jelas bahwa Gubernur Romney memiliki pendapat sangat berbeda. Meskipun dia mengatakan dia berpikir kita harus keluar pada 2014,meskipun dia mengatakan itu masuk akal, dia katakan kita seharusnya tidak mengumumkan itu dan saat diminta untuk menjamin Anda akan keluar, dia katakan itu tergantung.”
Momentum Beralih
Penampilan Biden dalam debat tersebut memberi Obama peluang untuk menstabilkan kampanyenya setelah kekalahannya dalam debat melawan Romney. Obama kini memiliki peluang untuk menegaskan argumennya mengapa dia harus menjabat periode kedua di Gedung Putih. Debat calon presiden akan diselenggarakan Selasa (16/10) di Hofstra University, Hempstead, New York.Di sinilah Obama harus mampu menghentikan peningkatan popularitas Romney sejak keduanya bertemu di Denver,3 Oktober silam.
Setelah debat di Denver itu, Romney unggul tipis di sebagian besar jajak pendapat nasional. Perubahan situasi setelah penampilan Biden itu sangat penting bagi Obama sejak konvensi Demokrat pada September lalu. Obama melakukan perjalanan ke Williamsburg,Virginia, Sabtu (13/10) untuk berlatih debat selama tiga hari.Adapun Romney masih kampanye di Virginia dan Ohio. Demokrat yakin Obama dapat unggul dalam debat Selasa (16/10) mendatang.“Presiden menonton debat itu kemarin malam,menganggap wakil presiden melakukan pekerjaan hebat membahas isu-isu pemerintahan,” papar Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney,mantan kepala juru bicara Biden.
“Saya yakin dia (Obama) akan menciptakan hal serupa dalam debat pekan depan. Gelak tawa Biden pada Kamis (11/10) malam merupakan petunjuk semangat dan gairah yang sangat besar yang dia bawa pada posisinya sebagai wakil presiden,”papar Carney. Biden, 69, tampil lebih unggul dibandingkan Ryan,42,karena pengalamannya dalam kebijakan luar negeri dan isu-isu domestik. Penampilan Ryan dalam debat itu juga menunjukkan bahwa dia memiliki pengetahuan yang luas dan cocok bagi posisi wakil presiden.
Biden banyak melontarkan pertanyaan tajam untuk menyerang Ryan dalam isu-isu yang membuat Obama frustrasi dalam debat pertamanya. Biden menyambar kebijakan pengembalian pajak yang diusulkan Romney yang membuat para pemilik rumah kehilangan rumahnya. Biden juga mengecam pernyataan Romney yang menyebut 47% warga AS merupakan parasit yang tidak produktif. Data pemeringkat Nielsen menunjukkan lebih dari 51,4 juta warga AS menonton debat antara Biden dan Ryan. Mereka menonton melalui 12 saluran TV kabel dan jaringan penyiaran.
Jumlah penonton itu menurun dibandingkan saat debat presiden pertama pekan lalu. Dalam debat calon presiden 3 Oktober antara Obama dan Romney,jumlah penonton mencapai 67,2 juta. Jumlah tersebut menjadikan debat itu sebagai satu dari 10 debat yang paling banyak ditonton dalam 30 tahun terakhir. Yang pasti, para pengamat memperkirakan pertarungan menuju Gedung Putih kali ini akan semakin memanas seiring debat presiden ketiga dan terakhir yang akan digelar 22 Oktober di Florida.
Setelah Obama yang pasif saat debat melawan Romney pekan lalu, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berhasil membakar kembali semangat kubu Partai Demokrat dalam debat Kamis (11/10) malam melawan Ryan.
Biden menyerang pasangan Romney itu dalam isu pajak, pelayanan kesehatan, dan kebijakan luar negeri. Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan setelah debat menunjukkan 42% pemilih menganggap Biden menang,dibandingkan 35% yang memilih Ryan.Sebanyak 23% menyatakan mereka tidak tahu siapa yang lebih unggul. “Debat wakil presiden tidak mengubah hasil pemilu,tapiinimungkintelahsedikit meningkatkan gelombang pasang,”ujar pengumpul suara Ipsos,Julia Clark. Gejala memanasnya pertarungan itu tampak dari persaingan ketat antara Romney dan Obama.
Laporan Reuters/ Ipsos yang dirilis Jumat (12/10) menunjukkan Romney unggul 1% poin dibandingkan Obama. Romney 46% dan Obama 45%. Padahal pada survei Reuters/Ipsos yang dirilis Kamis (11/10), Romney masih memimpin 3%. Sebagian besar responden ditanya lagi sebelum debat wakil presiden tersebut. Lebih dari 51 juta warga AS menonton debat wakil presiden tersebut. Hasil survei itu langsung dirilis Jumat (12/10) dan menunjukkan pergeseran pemilih untuk mendukung Obama.
Kubu Partai Republik berupaya keras mencegah pe-nampilan Biden menciptakan momentum bagi Demokrat. Karena itu,Republik menyerang perilaku Biden selama debat, bukan substansi permasalahan yang diperdebatkan kedua calon wakil presiden tersebut. Republik menyebut Biden terlalu banyak menyeringai dan kasar terhadap Ryan selama debat tersebut.Mereka berharap komentar Biden tentang keamanan di kompleks diplomatik AS di Benghazi, Libya, pada 11 September lalu dapat merusak kredibilitas Obama dalam kebijakan luar negeri.
Saat ditanya di Kentucky tentang apakah misi di Libya meminta tambahan keamanan dalam beberapa bulan sebelum serangan, Biden mengatakan,“ Baik, kami tidak mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak keamanan lagi. Kami tidak tahu mereka menginginkan lebih banyak keamanan lagi.” Saat kampanye di Richmond, Virginia,Romney menuduh Biden memberikan pernyataan yang bertentangan dengan keterangan pejabat Departemen Luar Negeri AS,yang pekan ini mengatakan bahwa konsulat itu telah menunjukkan kekhawatiran tentang keamanan sebelum serangan yang menewaskan Duta Besar AS untuk Libya, Christopher Stevens dan tiga warga AS lainnya.
“Dia menggandakan penyangkalan,” ujar mantan gubernur Massachusetts itu di depan para pendukungnya. Romney dan Ryan bertemu Jumat (12/10) malam untuk berkampanye di Lancaster, Ohio. Dia memuji penampilan pasangannya itu dengan sebutan “wakil presiden hebat ini.” “Ada satu orang di panggung dengan perhatian, yang menghormati, mantap, dan tenang. Di sana ada satu orang di panggung yang Anda ingin bersamanya jika mereka dalam krisis dan inilah pria itu di sini,”papar Romney.
Demokrat menganggap sikap Republik atas insiden Libya itu hanya untuk memolitisasi sebuah tragedi. Biden pun terus melanjutkan tekanannya terhadap kubu Republik dengan mengunjungi negara bagian tempat tinggal Ryan di Wisconsin, pada Jumat (12/10). Di sana, Biden mengecam sikap Ryan dalam isu aborsi dan perang di Afghanistan. “Jika ada seseorang yang meragukan tentang apa yang dipertaruhkan dalam pemilu ini dalam masalah hak asasi perempuan dan Mahkamah Agung (MA), saya yakin mereka sudah mengetahuinya kemarin malam,” tutur Biden yang ditemani istrinya, Jill, di depan lebih dari 2.000 pendukung Demokrat.
Selama debat,Ryan dan Biden ditanya tentang bagaimana kepercayaan Katolik Roma mereka memengaruhi sikap mereka tentang aborsi. Biden yakin aborsi harus dilegalkan. Ryan menentangnya, kecuali dalam kasus pemerkosaan,incest, atau mengancam nyawa ibu yang mengandung. “Anggota Kongres Ryan menyatakan dengan sangatjelasbahwadiadan Gubernur Romney siap memberlakukan pendapat pribadi mereka pada setiap orang.
Sudah jelas kemarin malam bahwa mereka tidak percaya dalam melindungi akses wanita pada pelayanan kesehatan,”katanya. Biden juga memukul Ryan terkait sikap kubu Republik dalam masalah perang di Afghanistan. Pemerintahan Obama berencana memindahkan semua pasukan AS dari Afghanistan pada akhir 2014. Romney dan Ryan berdalih memberlakukan batas waktu yang tegas dapat membuat Taliban di Afghanistan semakin berani memerangi pasukan AS di sana.
“Saya katakan dengan sangat jelas atas nama presiden dan saya, bahwa kita meninggalkan Afghanistan pada 2014, titik.Tidak ada jika dan atau tetapi,” tegas Biden.“Anggota Kongres Ryan,dia menyatakan sangat jelas bahwa Gubernur Romney memiliki pendapat sangat berbeda. Meskipun dia mengatakan dia berpikir kita harus keluar pada 2014,meskipun dia mengatakan itu masuk akal, dia katakan kita seharusnya tidak mengumumkan itu dan saat diminta untuk menjamin Anda akan keluar, dia katakan itu tergantung.”
Momentum Beralih
Penampilan Biden dalam debat tersebut memberi Obama peluang untuk menstabilkan kampanyenya setelah kekalahannya dalam debat melawan Romney. Obama kini memiliki peluang untuk menegaskan argumennya mengapa dia harus menjabat periode kedua di Gedung Putih. Debat calon presiden akan diselenggarakan Selasa (16/10) di Hofstra University, Hempstead, New York.Di sinilah Obama harus mampu menghentikan peningkatan popularitas Romney sejak keduanya bertemu di Denver,3 Oktober silam.
Setelah debat di Denver itu, Romney unggul tipis di sebagian besar jajak pendapat nasional. Perubahan situasi setelah penampilan Biden itu sangat penting bagi Obama sejak konvensi Demokrat pada September lalu. Obama melakukan perjalanan ke Williamsburg,Virginia, Sabtu (13/10) untuk berlatih debat selama tiga hari.Adapun Romney masih kampanye di Virginia dan Ohio. Demokrat yakin Obama dapat unggul dalam debat Selasa (16/10) mendatang.“Presiden menonton debat itu kemarin malam,menganggap wakil presiden melakukan pekerjaan hebat membahas isu-isu pemerintahan,” papar Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney,mantan kepala juru bicara Biden.
“Saya yakin dia (Obama) akan menciptakan hal serupa dalam debat pekan depan. Gelak tawa Biden pada Kamis (11/10) malam merupakan petunjuk semangat dan gairah yang sangat besar yang dia bawa pada posisinya sebagai wakil presiden,”papar Carney. Biden, 69, tampil lebih unggul dibandingkan Ryan,42,karena pengalamannya dalam kebijakan luar negeri dan isu-isu domestik. Penampilan Ryan dalam debat itu juga menunjukkan bahwa dia memiliki pengetahuan yang luas dan cocok bagi posisi wakil presiden.
Biden banyak melontarkan pertanyaan tajam untuk menyerang Ryan dalam isu-isu yang membuat Obama frustrasi dalam debat pertamanya. Biden menyambar kebijakan pengembalian pajak yang diusulkan Romney yang membuat para pemilik rumah kehilangan rumahnya. Biden juga mengecam pernyataan Romney yang menyebut 47% warga AS merupakan parasit yang tidak produktif. Data pemeringkat Nielsen menunjukkan lebih dari 51,4 juta warga AS menonton debat antara Biden dan Ryan. Mereka menonton melalui 12 saluran TV kabel dan jaringan penyiaran.
Jumlah penonton itu menurun dibandingkan saat debat presiden pertama pekan lalu. Dalam debat calon presiden 3 Oktober antara Obama dan Romney,jumlah penonton mencapai 67,2 juta. Jumlah tersebut menjadikan debat itu sebagai satu dari 10 debat yang paling banyak ditonton dalam 30 tahun terakhir. Yang pasti, para pengamat memperkirakan pertarungan menuju Gedung Putih kali ini akan semakin memanas seiring debat presiden ketiga dan terakhir yang akan digelar 22 Oktober di Florida.
(esn)