Insiden Libya, Washington tolak penambahan staf keamanan
Jum'at, 12 Oktober 2012 - 10:11 WIB
Insiden Libya, Washington tolak penambahan staf keamanan
A
A
A
Sindonews.com - Konsulat Amerika Serikat (AS) di Benghazi menjadi sasaran empuk karena lemahnya sistem keamanan. Hal ini lantaran Washington menolak mengirimkan tambahan staf keamanan, meskipun ancaman Al-Qaeda meningkat.
Pernyataan itu diungkapkan petugas keamanan regional Eric Nordstrom kepada panel penyidik kongres dari Komite Reformasi Pemerintah pada Rabu (10/10) waktu setempat “Sudah sangat jelas, kami tidak mendapatkan dukungan tambahan staf keamanan hingga insiden itu terjadi,” ujar Nordstrom dalam pemeriksaan selama empat jam, dikutip AFP. Nordstrom mengatakan bahwa dia meminta bantuan keamanan sebanyak lebih dari 12 agen.
“Namun,direktur regional Departemen Luar Negeri AS justru mengatakan bahwa dia meminta matahari, bulan, dan bintang,”katanya. Sebagai respons, Nordstrom mengungkapkan hal yang membuatnya frustrasi dalam tugasnya, bukan masalah beratnya pekerjaan.
“Itu bukan penderitaan, bukan pertempuran, bukan pula ancaman.Namun, bagaimana menghadapi dan bertarung melawan orang, program, dan personel yang seharusnya mendukung saya. Dan saya tambahkan,bagi saya,Taliban ada di dalam gedung itu,” tegasnya,dikutip AFP.
Kesaksian Nordstrom menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Presiden AS Barack Obama. Partai Republik di kongres sangat memanfaatkan insiden itu, untuk menyerang ketidakmampuan Obama mengamankan para diplomatnya di negara asing. Dalam insiden 11 September di Konsulat Benghazi, empat warga AS tewas diserang kelompok bersenjata di Libya.Salah satu korban tewas adalah Duta Besar AS untuk Libya, Chris Stevens,yang menjadi diplomat senior pertama yang tewas dalam tugas sejak 1979.
Dua petugas keamanan lainnya juga bersaksi bahwa permintaan pasukan tambahan di pos AS di Tripoli dan Benghazi memang ditolak Washington. Para petugas regional menegaskan mereka sangat frustrasi karena tidak ada perencanaan matang dalam sistem keamanan di fasilitas diplomatik AS.
Letnan Kolonel Andrew Wood,yang bertugas di Tripolisejak Februari hingga Agustus,sepakat bahwa AS bertempur dalam peperangan yang kalah. “Kita bahkan tidak diizinkan menjaga apa yang kita punya,” tuturnya.
Wood dan Nordstrom menyalahkan Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS Charlene Lamb,yang bertanggung jawab atas keamanan 275 fasilitas diplomatik di seluruh dunia. Lamb menolak permintaan penambahan petugas keamanan di Benghazi. Namun, Lamb membela diri karena militer AS telah memberi pelatihan untuk staf lokal Libya melakukan tugas keamanan. “Keputusan akhir dibuat oleh pimpinan saya,”ujarnya.
Pernyataan itu diungkapkan petugas keamanan regional Eric Nordstrom kepada panel penyidik kongres dari Komite Reformasi Pemerintah pada Rabu (10/10) waktu setempat “Sudah sangat jelas, kami tidak mendapatkan dukungan tambahan staf keamanan hingga insiden itu terjadi,” ujar Nordstrom dalam pemeriksaan selama empat jam, dikutip AFP. Nordstrom mengatakan bahwa dia meminta bantuan keamanan sebanyak lebih dari 12 agen.
“Namun,direktur regional Departemen Luar Negeri AS justru mengatakan bahwa dia meminta matahari, bulan, dan bintang,”katanya. Sebagai respons, Nordstrom mengungkapkan hal yang membuatnya frustrasi dalam tugasnya, bukan masalah beratnya pekerjaan.
“Itu bukan penderitaan, bukan pertempuran, bukan pula ancaman.Namun, bagaimana menghadapi dan bertarung melawan orang, program, dan personel yang seharusnya mendukung saya. Dan saya tambahkan,bagi saya,Taliban ada di dalam gedung itu,” tegasnya,dikutip AFP.
Kesaksian Nordstrom menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Presiden AS Barack Obama. Partai Republik di kongres sangat memanfaatkan insiden itu, untuk menyerang ketidakmampuan Obama mengamankan para diplomatnya di negara asing. Dalam insiden 11 September di Konsulat Benghazi, empat warga AS tewas diserang kelompok bersenjata di Libya.Salah satu korban tewas adalah Duta Besar AS untuk Libya, Chris Stevens,yang menjadi diplomat senior pertama yang tewas dalam tugas sejak 1979.
Dua petugas keamanan lainnya juga bersaksi bahwa permintaan pasukan tambahan di pos AS di Tripoli dan Benghazi memang ditolak Washington. Para petugas regional menegaskan mereka sangat frustrasi karena tidak ada perencanaan matang dalam sistem keamanan di fasilitas diplomatik AS.
Letnan Kolonel Andrew Wood,yang bertugas di Tripolisejak Februari hingga Agustus,sepakat bahwa AS bertempur dalam peperangan yang kalah. “Kita bahkan tidak diizinkan menjaga apa yang kita punya,” tuturnya.
Wood dan Nordstrom menyalahkan Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS Charlene Lamb,yang bertanggung jawab atas keamanan 275 fasilitas diplomatik di seluruh dunia. Lamb menolak permintaan penambahan petugas keamanan di Benghazi. Namun, Lamb membela diri karena militer AS telah memberi pelatihan untuk staf lokal Libya melakukan tugas keamanan. “Keputusan akhir dibuat oleh pimpinan saya,”ujarnya.
(aww)