Iran mampu buat bom nuklir dalam 10 bulan
Rabu, 10 Oktober 2012 - 10:54 WIB
Iran mampu buat bom nuklir dalam 10 bulan
A
A
A
Sindonews.com - Iran dapat memproduksi cukup uranium untuk membuat satu bom nuklir dalam dua hingga empat bulan, kemudian memerlukan delapan hingga 10 bulan untuk membuat perangkatnya.
Demikian diungkapkan para pakar dalam laporan terbaru tentang program nuklir Iran. Menurut mereka,Teheran mengalami kemajuan dalam pengayaan uranium, tapi Amerika Serikat (AS) dan pengawas persenjataan PBB dapat mendeteksi setiap upaya terobosan.
Laporan yang dirilis Institute for Science and International Security itu memperkirakan cadangan uranium dan tingkat pengayaan uranium berdasarkan data dari sejumlah inspeksi program nuklir Iran yang dilakukan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
”Untuk mengumpulkan 25 kilogram uranium pengayaan tinggi yang diperlukan untuk membuat satu bom nuklir, Iran akan memerlukan paling cepat dua hingga empat bulan.Untuk mencapai tujuan itu,Iran harus mengolah uranium pengayaan 3,5% dan simpanan uranium pengayaan20%,”paparlaporan tersebut, dikutip AFP.
Laporan itu tampaknya sesuai perkiraan pemerintah AS bahwa jika Iran memutuskan membuat sebuah bom,Teheran memerlukan waktu beberapa bulan lagi untuk membuat bahan bakunya dan kemudian beberapa bulan lagi untuk membuat peralatannya.
Temuan terbaru ini untuk mengonfirmasi pernyataan David Albright, salah satu pakar yang menyusun laporan tersebut pada bulan lalu dan ahli dalam proyek nuklir Iran. ”Saat Iran memiliki cukup uranium pengayaan tinggi, Teheran memerlukan waktu delapan hingga 10 bulan untuk membuat satu senjata nuklir,” katanya.
Menteri Pertahanan AS Leon Panetta menjelaskan, pada 11 September silam bahwa pihaknya memiliki waktu satu tahun jika Iran memutuskan membuat senjata nuklir. Waktu itu diperlukan Iran untuk keluar dari traktat nonproliferasi nuklir dan membuat bom sehingga AS dan aliansinya dapat bereaksi jika perlu.
”Meskipun waktu Iran diperpendek, upaya Teheran pada tahun depan tidak dapat lepas dari deteksi IAEA atau AS. Lebih dari itu, AS dan aliansinya mempertahankan kemampuan untuk merespons dengan kekuatan penuh terhadap setiap keputusan Iran melanggarnya.
Tahun depan atau setelah itu, periode yang diperlukan di fasilitas nuklir Natanz dan Fordow tampaknya cukup lama untuk membuat Iran memutuskan mengambil risiko,”papar laporan tersebut.
Namun,saat suplai uranium pengayaan 20% milik Iran meningkat, waktu yang diperlukan untuk memproduksi material untuk sebuah bom atau beberapa bom akan berkurang. Meluasnya jaringan sentrifugal Iran dapat mempersulit para pengawas untuk melacak kemajuan Iran. “Iran mungkin berupaya memiliki kemampuan memproduksi uranium untuk persenjataan yang lebih cepat daripada yang dapat dideteksi para pengawas IAEA,”ungkap laporan itu.
Meskipun berulang kali dituduh Barat dan berbagai temuan dari pengawas IAEA, Iran menegaskan program nuklirnya murni untuk tujuan damai.AS mendapat tekanan Israel untuk menetapkan batas waktu untuk aksi militer. Namun, AS lebih memilih memperketat sanksi untuk memaksa Teheran ke meja negosiasi.
Demikian diungkapkan para pakar dalam laporan terbaru tentang program nuklir Iran. Menurut mereka,Teheran mengalami kemajuan dalam pengayaan uranium, tapi Amerika Serikat (AS) dan pengawas persenjataan PBB dapat mendeteksi setiap upaya terobosan.
Laporan yang dirilis Institute for Science and International Security itu memperkirakan cadangan uranium dan tingkat pengayaan uranium berdasarkan data dari sejumlah inspeksi program nuklir Iran yang dilakukan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
”Untuk mengumpulkan 25 kilogram uranium pengayaan tinggi yang diperlukan untuk membuat satu bom nuklir, Iran akan memerlukan paling cepat dua hingga empat bulan.Untuk mencapai tujuan itu,Iran harus mengolah uranium pengayaan 3,5% dan simpanan uranium pengayaan20%,”paparlaporan tersebut, dikutip AFP.
Laporan itu tampaknya sesuai perkiraan pemerintah AS bahwa jika Iran memutuskan membuat sebuah bom,Teheran memerlukan waktu beberapa bulan lagi untuk membuat bahan bakunya dan kemudian beberapa bulan lagi untuk membuat peralatannya.
Temuan terbaru ini untuk mengonfirmasi pernyataan David Albright, salah satu pakar yang menyusun laporan tersebut pada bulan lalu dan ahli dalam proyek nuklir Iran. ”Saat Iran memiliki cukup uranium pengayaan tinggi, Teheran memerlukan waktu delapan hingga 10 bulan untuk membuat satu senjata nuklir,” katanya.
Menteri Pertahanan AS Leon Panetta menjelaskan, pada 11 September silam bahwa pihaknya memiliki waktu satu tahun jika Iran memutuskan membuat senjata nuklir. Waktu itu diperlukan Iran untuk keluar dari traktat nonproliferasi nuklir dan membuat bom sehingga AS dan aliansinya dapat bereaksi jika perlu.
”Meskipun waktu Iran diperpendek, upaya Teheran pada tahun depan tidak dapat lepas dari deteksi IAEA atau AS. Lebih dari itu, AS dan aliansinya mempertahankan kemampuan untuk merespons dengan kekuatan penuh terhadap setiap keputusan Iran melanggarnya.
Tahun depan atau setelah itu, periode yang diperlukan di fasilitas nuklir Natanz dan Fordow tampaknya cukup lama untuk membuat Iran memutuskan mengambil risiko,”papar laporan tersebut.
Namun,saat suplai uranium pengayaan 20% milik Iran meningkat, waktu yang diperlukan untuk memproduksi material untuk sebuah bom atau beberapa bom akan berkurang. Meluasnya jaringan sentrifugal Iran dapat mempersulit para pengawas untuk melacak kemajuan Iran. “Iran mungkin berupaya memiliki kemampuan memproduksi uranium untuk persenjataan yang lebih cepat daripada yang dapat dideteksi para pengawas IAEA,”ungkap laporan itu.
Meskipun berulang kali dituduh Barat dan berbagai temuan dari pengawas IAEA, Iran menegaskan program nuklirnya murni untuk tujuan damai.AS mendapat tekanan Israel untuk menetapkan batas waktu untuk aksi militer. Namun, AS lebih memilih memperketat sanksi untuk memaksa Teheran ke meja negosiasi.
(aww)