China picu peningkatan kekuatan pasukan maritim
Selasa, 09 Oktober 2012 - 06:58 WIB
China picu peningkatan kekuatan pasukan maritim
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia membeli kapal selam dari Korea Selatan (Korsel) dan sistem radar pantai dari China dan Amerika Serikat (AS).
Vietnam mendapatkan kapal selam dan jet tempur dari Rusia.Sementara Singapura yang merupakan importir senjata terbesar kelima di dunia,juga menambah persenjataan canggihnya.
Khawatir terhadap China dan terguyur kesuksesan ekonomi, Asia Tenggara meningkatkan belanja peralatan militer untuk melindungi jalur pengiriman, pelabuhan, dan perbatasan maritim yang penting bagi laju ekspor dan energi.
Sengketa wilayah di Laut China Selatan yang diduga mengandung deposit gas dan minyak bumi, telah mendorong Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei untuk menangkal pertumbuhan kekuatan Angkatan Laut China. Meskipun berada jauh dari gejolak di Laut China Selatan, keamanan maritim juga menjadi fokus utama Indonesia, Thailand,dan Singapura.
“Perkembangan ekonomi mendorong mereka membelanjakan uang untuk pertahanan melindungi investasi, jalur laut, dan zona ekonomi eksklusif mereka. Tren terbesar ialah dalam pengawasan dan patroli maritim dan pantai,” papar James Hardy, editor Jane’s Defence Weekly, IHS Asia-Pasifik, kepada Reuters. Saat ekonomi Asia Tenggara booming, anggaran pertahanan tumbuh 42% dalam arti sesungguhnya sejak 2002 hingga 2011.
Data ini berdasarkan laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). Yang menjadi daftar terlaris adalah kapal perang,kapal patroli, sistem radar, dan pesawat tempur, serta kapal selam dan rudal antikapal yang sangat efektif untuk menutup akses jalur laut.
“Kapal selam merupakan sesuatu yang besar. Mereka dapat menciptakan kerusakan tanpa terlihat, tanpa terantisipasi, dan mereka dapat melakukan itu di semua tempat di kawasan,” papar Tim Huxley, direktur eksekutif untuk Asia di International Institute for Strategic Studies.
Dengan tumbuhnya kekuatan China dan banyaknya dana yang tersedia,daftar belanja persenjataan semakin canggih. Sebagian besar negara di Asia Tenggara memiliki pesisir sehingga menekankan pertahanan berbasis laut dan udara.
“Malaysia memiliki dua kapal selam Scorpene dan Vietnam membeli kapal selam kelas enam Kilo dari Rusia. Thailand juga berencana membeli kapal selam dan pesawat tempur Gripen dari Saab AB, Swedia, akan dilengkapi dengan rudal antikapal RBS-15F dari Saab,” ungkap IISS.
Singapura telah berinvestasi dalam jet tempur F-15SG dari Boeing Co di AS dan dua kapal selam kelas Archer dari Swedia, untuk melengkapi empat kapal selam Challenger dan kekuatan angkatan laut dan angkatan udara yang telah maju.
Indonesia yang memiliki garis pantai sepanjang 54.700 km telah memiliki dua kapal selam dan memesan tiga lagi dari Korsel. Indonesia juga bekerja sama dengan perusahaan China untuk membuat rudal antikapal C-705 dan C-802, setelah menguji coba rudal anti kapal Yakhont buatan Rusia pada 2011.
Meski demikian, pengamat mengatakan ini bukan perlombaan senjata. Peningkatan pertahanan ini untuk menyikapi perkembangan di Laut China Selatan dan keinginan memodernisasi persenjataan saat pemerintah memiliki uang.
Vietnam mendapatkan kapal selam dan jet tempur dari Rusia.Sementara Singapura yang merupakan importir senjata terbesar kelima di dunia,juga menambah persenjataan canggihnya.
Khawatir terhadap China dan terguyur kesuksesan ekonomi, Asia Tenggara meningkatkan belanja peralatan militer untuk melindungi jalur pengiriman, pelabuhan, dan perbatasan maritim yang penting bagi laju ekspor dan energi.
Sengketa wilayah di Laut China Selatan yang diduga mengandung deposit gas dan minyak bumi, telah mendorong Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei untuk menangkal pertumbuhan kekuatan Angkatan Laut China. Meskipun berada jauh dari gejolak di Laut China Selatan, keamanan maritim juga menjadi fokus utama Indonesia, Thailand,dan Singapura.
“Perkembangan ekonomi mendorong mereka membelanjakan uang untuk pertahanan melindungi investasi, jalur laut, dan zona ekonomi eksklusif mereka. Tren terbesar ialah dalam pengawasan dan patroli maritim dan pantai,” papar James Hardy, editor Jane’s Defence Weekly, IHS Asia-Pasifik, kepada Reuters. Saat ekonomi Asia Tenggara booming, anggaran pertahanan tumbuh 42% dalam arti sesungguhnya sejak 2002 hingga 2011.
Data ini berdasarkan laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). Yang menjadi daftar terlaris adalah kapal perang,kapal patroli, sistem radar, dan pesawat tempur, serta kapal selam dan rudal antikapal yang sangat efektif untuk menutup akses jalur laut.
“Kapal selam merupakan sesuatu yang besar. Mereka dapat menciptakan kerusakan tanpa terlihat, tanpa terantisipasi, dan mereka dapat melakukan itu di semua tempat di kawasan,” papar Tim Huxley, direktur eksekutif untuk Asia di International Institute for Strategic Studies.
Dengan tumbuhnya kekuatan China dan banyaknya dana yang tersedia,daftar belanja persenjataan semakin canggih. Sebagian besar negara di Asia Tenggara memiliki pesisir sehingga menekankan pertahanan berbasis laut dan udara.
“Malaysia memiliki dua kapal selam Scorpene dan Vietnam membeli kapal selam kelas enam Kilo dari Rusia. Thailand juga berencana membeli kapal selam dan pesawat tempur Gripen dari Saab AB, Swedia, akan dilengkapi dengan rudal antikapal RBS-15F dari Saab,” ungkap IISS.
Singapura telah berinvestasi dalam jet tempur F-15SG dari Boeing Co di AS dan dua kapal selam kelas Archer dari Swedia, untuk melengkapi empat kapal selam Challenger dan kekuatan angkatan laut dan angkatan udara yang telah maju.
Indonesia yang memiliki garis pantai sepanjang 54.700 km telah memiliki dua kapal selam dan memesan tiga lagi dari Korsel. Indonesia juga bekerja sama dengan perusahaan China untuk membuat rudal antikapal C-705 dan C-802, setelah menguji coba rudal anti kapal Yakhont buatan Rusia pada 2011.
Meski demikian, pengamat mengatakan ini bukan perlombaan senjata. Peningkatan pertahanan ini untuk menyikapi perkembangan di Laut China Selatan dan keinginan memodernisasi persenjataan saat pemerintah memiliki uang.
(aww)