Tangan kanan Lula dalangi skandal korupsi terbesar di Brasil
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 10:42 WIB
Tangan kanan Lula dalangi skandal korupsi terbesar di Brasil
A
A
A
Sindonews.com - Mahkamah Agung (MA) Brasil menyatakan mantan Kepala Staf Presiden Lula da Silva, Jose Dirceu, memainkan peran sentral dalam skandal korupsi terbesar di negeri itu.
Hakim di MA kemarin mulai mengungkapkan temuantemuan mereka pada Dirceu, kepala staf Lula sejak 2003 hingga 2005. ”Dirceu menggunakan dana publik untuk membayar partai-partai oposisi agar mendukung di kongres,” ungkap Hakim Joaquim Barbosa,dikutip AFP. Skandal korupsi ini merupakan yang terbesar di Brasil dalam 20 tahun terakhir.
Dirceu merupakan salah satu dari 37 mantan menteri, anggota parlemen, dan pengusaha, yang diadili MA dalam skandal korupsi yang disebut Mensalao atau pembayaran bulanan yang besar. Mensalao berarti penyederhanaan dari praktik membayar utang-utang kampanye yang sudah umum dalam politik Brasil, meskipun itu ilegal.
Berbagai tuduhan menghampiri Dirceu,mulai pencucian, penggelapan uang untuk korupsi, hingga penipuan.Skandal korupsi terbesar ini termasuk dalam pembiayaan untuk pemilihan kembali Lula da Silva pada 2006. Jika dinyatakan bersalah, Dirceu terancam hukuman penjara 45 tahun.
Media lokal melaporkan,Hakim Barbosa menyatakan bahwa selama persidangan korupsi yang melibatkan para petinggi Brasil, bukti-bukti mengarah pada Dirceu yang mendalangi operasi korupsi seorang mantan bendahara Partai Pekerja dan seorang pengusaha.
“Dirceu yang mantan bendahara dan mantan presiden partai berkuasa, mendistribusikan uang bagi para anggota parlemen secara ilegal, untuk mendapatkan dukungan dari partai-partai politik lainnya guna membentuk koalisi pemerintahan berkuasa,” papar Barbosa.
Dirceu dianggap tangan kanan Lula yang dipaksa mengundurkan diri pada 2005 ketika skandal korupsinya terungkap. Namun demikian, dia kerap membantah membayar suap kepada anggota parlemen. Jaksa menuduh uang suap tersebut berasal dari anggaran iklan perusahaan-perusahaan milik negara melalui perusahaan milik Fernandes Valerio.
Senin (1/10) lalu,11 anggota MA membenarkan adanya skema pembelian suara pada 2003 hingga 2005, dan terdapat 12 dari 13 terdakwa terkait empat partai dalam pemerintahan Lula saat itu. Tidak ada satu pun terdakwa yang telah ditangkap, serta tidak ada satu pun yang diadili.
Hakim di MA kemarin mulai mengungkapkan temuantemuan mereka pada Dirceu, kepala staf Lula sejak 2003 hingga 2005. ”Dirceu menggunakan dana publik untuk membayar partai-partai oposisi agar mendukung di kongres,” ungkap Hakim Joaquim Barbosa,dikutip AFP. Skandal korupsi ini merupakan yang terbesar di Brasil dalam 20 tahun terakhir.
Dirceu merupakan salah satu dari 37 mantan menteri, anggota parlemen, dan pengusaha, yang diadili MA dalam skandal korupsi yang disebut Mensalao atau pembayaran bulanan yang besar. Mensalao berarti penyederhanaan dari praktik membayar utang-utang kampanye yang sudah umum dalam politik Brasil, meskipun itu ilegal.
Berbagai tuduhan menghampiri Dirceu,mulai pencucian, penggelapan uang untuk korupsi, hingga penipuan.Skandal korupsi terbesar ini termasuk dalam pembiayaan untuk pemilihan kembali Lula da Silva pada 2006. Jika dinyatakan bersalah, Dirceu terancam hukuman penjara 45 tahun.
Media lokal melaporkan,Hakim Barbosa menyatakan bahwa selama persidangan korupsi yang melibatkan para petinggi Brasil, bukti-bukti mengarah pada Dirceu yang mendalangi operasi korupsi seorang mantan bendahara Partai Pekerja dan seorang pengusaha.
“Dirceu yang mantan bendahara dan mantan presiden partai berkuasa, mendistribusikan uang bagi para anggota parlemen secara ilegal, untuk mendapatkan dukungan dari partai-partai politik lainnya guna membentuk koalisi pemerintahan berkuasa,” papar Barbosa.
Dirceu dianggap tangan kanan Lula yang dipaksa mengundurkan diri pada 2005 ketika skandal korupsinya terungkap. Namun demikian, dia kerap membantah membayar suap kepada anggota parlemen. Jaksa menuduh uang suap tersebut berasal dari anggaran iklan perusahaan-perusahaan milik negara melalui perusahaan milik Fernandes Valerio.
Senin (1/10) lalu,11 anggota MA membenarkan adanya skema pembelian suara pada 2003 hingga 2005, dan terdapat 12 dari 13 terdakwa terkait empat partai dalam pemerintahan Lula saat itu. Tidak ada satu pun terdakwa yang telah ditangkap, serta tidak ada satu pun yang diadili.
(aww)