Iran tolak ancaman militer atas program nuklirnya
Selasa, 25 September 2012 - 17:09 WIB
Iran tolak ancaman militer atas program nuklirnya
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad menolak ancaman serangan militer Israel atas program rektor nuklir Iran. Dia mengatakan, negaranya memiliki hak untuk memperkaya uranium, karena pengayaan ini bertujuan untuk kepentingan damai.
"Kami percaya bahwa Isreal telah menemukan kebuntuan dan mereka ingin terus berjuang keluar dari kebuntuan tersebut. Sementara Iran siap untuk mempertahankan diri dan tidak akan menganggap hal tersebut sebagai ancaman serius," ungkap Ahmadinejad setiba di New York, saat mengadakan sidang umum PBB, seperti diberitakan di CBSnews, Selasa (25/9/2012)
Menurutnya, Isreal tidak mempunyai tanah di Timur Tengah, sementara Iran telah bermukin di Timur Tengah selama ribuan tahun. Sebaliknya, Israel baru adai di Timur Tengah selama 60 tahun terakhir. "Mereka tidak punya akar sejarah disana," tegasnya.
Dia menambahkan, belum terlambat bagi Amerika Serikat (AS) untuk menyelesaikan perbedaan mengenai nuklir Iran melalui dialog. Pasalnya perjalananya kali ini akan menjadi perjalanan terakhir sebagai Presiden Iran, karena masa jabatanya akan berakhir dan tidak bisa menjabat kembali.
Mesi tidak menjabat kembali, dirinya tetap aktif dalam kancah politik di Iran. Bahkan, bisa saja dirinya akan kembali ke New York sebagai seorang delegasi Iran.
Dia menambahkan, pendapat yang dilontarkan terkait program nuklir Iran selama ini sangat bersifat politis ketimbang masalah hukum. Maka itu, penyelesainya memerlukan langkah politis pula.
"Kami tidak mengharap masalah lama yang telah berlangsung selama 33 tahun antara AS dan Iran akan selesai melalui diskusi cepat, tapi kami percaya melalui dialog," ucapnya.
"Kami percaya bahwa Isreal telah menemukan kebuntuan dan mereka ingin terus berjuang keluar dari kebuntuan tersebut. Sementara Iran siap untuk mempertahankan diri dan tidak akan menganggap hal tersebut sebagai ancaman serius," ungkap Ahmadinejad setiba di New York, saat mengadakan sidang umum PBB, seperti diberitakan di CBSnews, Selasa (25/9/2012)
Menurutnya, Isreal tidak mempunyai tanah di Timur Tengah, sementara Iran telah bermukin di Timur Tengah selama ribuan tahun. Sebaliknya, Israel baru adai di Timur Tengah selama 60 tahun terakhir. "Mereka tidak punya akar sejarah disana," tegasnya.
Dia menambahkan, belum terlambat bagi Amerika Serikat (AS) untuk menyelesaikan perbedaan mengenai nuklir Iran melalui dialog. Pasalnya perjalananya kali ini akan menjadi perjalanan terakhir sebagai Presiden Iran, karena masa jabatanya akan berakhir dan tidak bisa menjabat kembali.
Mesi tidak menjabat kembali, dirinya tetap aktif dalam kancah politik di Iran. Bahkan, bisa saja dirinya akan kembali ke New York sebagai seorang delegasi Iran.
Dia menambahkan, pendapat yang dilontarkan terkait program nuklir Iran selama ini sangat bersifat politis ketimbang masalah hukum. Maka itu, penyelesainya memerlukan langkah politis pula.
"Kami tidak mengharap masalah lama yang telah berlangsung selama 33 tahun antara AS dan Iran akan selesai melalui diskusi cepat, tapi kami percaya melalui dialog," ucapnya.
(aww)