AS modernisasi senjata nuklir
Senin, 17 September 2012 - 09:35 WIB
AS modernisasi senjata nuklir
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana memodernisasi persenjataan nuklirnya, meskipun anggaran militer secara keseluruhan mengalami penyusutan.
Menurut laporan The Washington Post, upaya modernisasi persenjataan nuklir ini merupakan yang termahal sepanjang sejarah AS. The Washington Posttidak menjelaskan sumber resmi yang mengatakan berapa biaya yang akan dikucurkan Pemerintah AS untuk upaya modernisasi tersebut.
Pemerintah AS secara pasti akan melakukan upgrade dan pemeliharaan 5.113 hulu ledak nuklir persediaan mereka, mengganti sistem roket lama, dan merenovasi fasilitas nuklir yang sudah kuno.
“Studi yang dilakukan Stimson Center memperkirakan,biaya modernisasi itu sedikitnya USD352 miliar dalam dekade mendatang,” papar laporan The Washington Post.Stimson Center merupakan lembaga think-tank yang berbasis di Washington.
Sumber lain menjelaskan bahwa jumlah biaya tersebut bisa jauh lebih besar, khusus-nya jika proses modernisasi itu tertunda lebih lama.“Upgrade hanya satu dari tujuh tipe persenjataan dalam gudang, bom B61,membutuhkan biaya sekitar USD10 miliar dalam lima tahun,” tulis The Washington Post.
The Washington Post juga mengungkapkan,menurut perkiraan Kantor Anggaran Kongres biaya pembangunan kembali 12 kapal selam kuno kelas Ohio akan mencapai lebih dari USD110 miliar, sedangkan memodernisasi roket Minuteman III mencapai USD7 miliar.
Pada saat yang sama, pesawat tempur F-35 yang berkemampuan nuklir sedang dikembangkan untuk menggantikan pesawat tempur yang ada. Biaya untuk memodernisasi pesawat tempur itu mencapai USD162 juta per pesawat.
“Modernisasi sejumlah gedung dan laboratorium untuk tempat daur ulang juga akan menghabiskan biaya sedikitnya USD88 miliar dalam 10 tahun,” ungkap laporan The Washington Post.
Krisis fiskal yang saat ini dihadapi AS memaksa negara itu memotong anggaran pengeluaran untuk program-program persenjataan konvensional. Selama dua dekade terakhir, Pemerintah AS juga menghadapi masalah teknologi persenjataan nuklirnya yang semakin kuno.
Sejumlah pejabat federal dan pengamat menegaskan bahwa setelah bertahun-tahun ditunda, pemerintah harus menginvestasikan kemampuan persenjataan nuklir di udara, laut,dan darat yang menjadi andalan AS sejak dimulainya Perang Dingin.
“Gagal bertindak sebelum akhir tahun depan, berarti tidak ada cukup waktu untuk mendesain dan membangun sistem baru yang diperlukan jika persenjataan lama tidak lagi aman dan dapat diandalkan,” papar para pengamat dan pejabat federal,dikutip The Washington Post.
Menurut laporan The Washington Post, upaya modernisasi persenjataan nuklir ini merupakan yang termahal sepanjang sejarah AS. The Washington Posttidak menjelaskan sumber resmi yang mengatakan berapa biaya yang akan dikucurkan Pemerintah AS untuk upaya modernisasi tersebut.
Pemerintah AS secara pasti akan melakukan upgrade dan pemeliharaan 5.113 hulu ledak nuklir persediaan mereka, mengganti sistem roket lama, dan merenovasi fasilitas nuklir yang sudah kuno.
“Studi yang dilakukan Stimson Center memperkirakan,biaya modernisasi itu sedikitnya USD352 miliar dalam dekade mendatang,” papar laporan The Washington Post.Stimson Center merupakan lembaga think-tank yang berbasis di Washington.
Sumber lain menjelaskan bahwa jumlah biaya tersebut bisa jauh lebih besar, khusus-nya jika proses modernisasi itu tertunda lebih lama.“Upgrade hanya satu dari tujuh tipe persenjataan dalam gudang, bom B61,membutuhkan biaya sekitar USD10 miliar dalam lima tahun,” tulis The Washington Post.
The Washington Post juga mengungkapkan,menurut perkiraan Kantor Anggaran Kongres biaya pembangunan kembali 12 kapal selam kuno kelas Ohio akan mencapai lebih dari USD110 miliar, sedangkan memodernisasi roket Minuteman III mencapai USD7 miliar.
Pada saat yang sama, pesawat tempur F-35 yang berkemampuan nuklir sedang dikembangkan untuk menggantikan pesawat tempur yang ada. Biaya untuk memodernisasi pesawat tempur itu mencapai USD162 juta per pesawat.
“Modernisasi sejumlah gedung dan laboratorium untuk tempat daur ulang juga akan menghabiskan biaya sedikitnya USD88 miliar dalam 10 tahun,” ungkap laporan The Washington Post.
Krisis fiskal yang saat ini dihadapi AS memaksa negara itu memotong anggaran pengeluaran untuk program-program persenjataan konvensional. Selama dua dekade terakhir, Pemerintah AS juga menghadapi masalah teknologi persenjataan nuklirnya yang semakin kuno.
Sejumlah pejabat federal dan pengamat menegaskan bahwa setelah bertahun-tahun ditunda, pemerintah harus menginvestasikan kemampuan persenjataan nuklir di udara, laut,dan darat yang menjadi andalan AS sejak dimulainya Perang Dingin.
“Gagal bertindak sebelum akhir tahun depan, berarti tidak ada cukup waktu untuk mendesain dan membangun sistem baru yang diperlukan jika persenjataan lama tidak lagi aman dan dapat diandalkan,” papar para pengamat dan pejabat federal,dikutip The Washington Post.
(aww)