Obama bantah tolak temui PM Netanyahu
Kamis, 13 September 2012 - 07:23 WIB
Obama bantah tolak temui PM Netanyahu
A
A
A
Sindonews.com - Gedung Putih kemarin membantah jika Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menolak bertemu Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bulan ini di tengah ketegangan atas Iran.
Bantahan ini dikemukakan setelah muncul laporan bahwa Obama tidak mau menemui Netanyahu yang bakal berada di AS untuk menghadiri sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) di New York.
Menurut Gedung Putih, Obama tidak bisa menemui Netanyahu karena jadwal yang begitu padat,sehingga permintaan itu pun tidak bisa dikabulkan.
Saat berada di Sidang PBB, Obama dijadwalkan akan berbicara di Majelis Umum PBB di New York pada tanggal 25 September mendatang, sedangkan Netanyahu akan memberikan pidato pada 28 September.
“Mereka tidak berada di kota pada saat yang sama.Bertentangan dengan laporan pers sebelumnya, tidak pernah ada permintaan untuk pertemuan antara perdana menteri dan Presiden di Washington, permintaan ini juga tidak pernah ditolak, ”terang juru bicara Gedung Putih Tommy Vietor, seperti dikutip BBC.
Vietor juga mengatakan, Obama tidak dijadwalkan untuk melakukan perundingan bilateral di Majelis Umum PBB. Selain itu, menurut tim Gedung Putih, Netanyahu telah sering bertemu Obama pada setiap acara internasional.
Kecuali satu perjalanan Obama pada 2009.Keduanya juga dinilai banyak melakukan kontak atau komunikasi.Menurut rencana,pemimpin Israel akan bertemu Menteri Luar Negeri (Menlu) Hillary Clinton.
Menurut laporan CNN,yang mengutip petugas administrasi senior, untuk mengklarifikasi hal ini Gedung Putih dikabarkan telah menghubungi Netanyahu. Konsultasi antara keduanya diketahui masih berlangsung.Pada Selasa (11/9) malam,melalui pernyataannya, Gedung Putih mengatakan bahwa Obama baru saja berbicara dengan Netanyahu selama satu jam.
“Kedua pemimpin membahas ancaman yang ditimbulkan oleh program nuklir Iran dan kerja sama kami yang dekat di Iran dan masalah keamanan lainnya,”ungkap pernyataan itu,seperti dikutip International Business Times.
“Presiden Obama dan PM Netanyahu menegaskan kembali bahwa mereka bersatu dalam tekad mereka untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir,dan setuju untuk melanjutkan konsultasi keduanya.”
Pengumuman ini dikeluarkan setelah Netanyahu membuat pernyataan mengutuk negara lain karena gagal menyusun garis merah atas Iran.
“Dunia mengatakan kepada Israel: tunggu, masih ada waktu.Dan saya katakan: Menunggu untuk apa? Lalu menunggu sampai kapan?”ungkap Netanyahu saat konferensi pers di Yerusalem dengan PM Bulgaria Boyko Borisov, Selasa lalu.
“Mereka yang berada di komunitas internasional yang menolak untuk menempatkan garis merah sebelum Iran tidak memiliki hak moral untuk menempatkan lampu merah sebelum Israel,” tegasnya.
Netanyahu menggambarkan Iran sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia,dan hal ini dinilainya bisa mendorong spekulasi atas kemungkinan konflik antara kedua negara.
Tak lama berselang,surat kabar Israel, Haaretz, di situsnya menggambarkan komentar PM sebagai serangan verbal terhadap pemerintah AS yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bantahan ini dikemukakan setelah muncul laporan bahwa Obama tidak mau menemui Netanyahu yang bakal berada di AS untuk menghadiri sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) di New York.
Menurut Gedung Putih, Obama tidak bisa menemui Netanyahu karena jadwal yang begitu padat,sehingga permintaan itu pun tidak bisa dikabulkan.
Saat berada di Sidang PBB, Obama dijadwalkan akan berbicara di Majelis Umum PBB di New York pada tanggal 25 September mendatang, sedangkan Netanyahu akan memberikan pidato pada 28 September.
“Mereka tidak berada di kota pada saat yang sama.Bertentangan dengan laporan pers sebelumnya, tidak pernah ada permintaan untuk pertemuan antara perdana menteri dan Presiden di Washington, permintaan ini juga tidak pernah ditolak, ”terang juru bicara Gedung Putih Tommy Vietor, seperti dikutip BBC.
Vietor juga mengatakan, Obama tidak dijadwalkan untuk melakukan perundingan bilateral di Majelis Umum PBB. Selain itu, menurut tim Gedung Putih, Netanyahu telah sering bertemu Obama pada setiap acara internasional.
Kecuali satu perjalanan Obama pada 2009.Keduanya juga dinilai banyak melakukan kontak atau komunikasi.Menurut rencana,pemimpin Israel akan bertemu Menteri Luar Negeri (Menlu) Hillary Clinton.
Menurut laporan CNN,yang mengutip petugas administrasi senior, untuk mengklarifikasi hal ini Gedung Putih dikabarkan telah menghubungi Netanyahu. Konsultasi antara keduanya diketahui masih berlangsung.Pada Selasa (11/9) malam,melalui pernyataannya, Gedung Putih mengatakan bahwa Obama baru saja berbicara dengan Netanyahu selama satu jam.
“Kedua pemimpin membahas ancaman yang ditimbulkan oleh program nuklir Iran dan kerja sama kami yang dekat di Iran dan masalah keamanan lainnya,”ungkap pernyataan itu,seperti dikutip International Business Times.
“Presiden Obama dan PM Netanyahu menegaskan kembali bahwa mereka bersatu dalam tekad mereka untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir,dan setuju untuk melanjutkan konsultasi keduanya.”
Pengumuman ini dikeluarkan setelah Netanyahu membuat pernyataan mengutuk negara lain karena gagal menyusun garis merah atas Iran.
“Dunia mengatakan kepada Israel: tunggu, masih ada waktu.Dan saya katakan: Menunggu untuk apa? Lalu menunggu sampai kapan?”ungkap Netanyahu saat konferensi pers di Yerusalem dengan PM Bulgaria Boyko Borisov, Selasa lalu.
“Mereka yang berada di komunitas internasional yang menolak untuk menempatkan garis merah sebelum Iran tidak memiliki hak moral untuk menempatkan lampu merah sebelum Israel,” tegasnya.
Netanyahu menggambarkan Iran sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia,dan hal ini dinilainya bisa mendorong spekulasi atas kemungkinan konflik antara kedua negara.
Tak lama berselang,surat kabar Israel, Haaretz, di situsnya menggambarkan komentar PM sebagai serangan verbal terhadap pemerintah AS yang belum pernah terjadi sebelumnya.
(aww)