Romney dituntut lebih transparan
Kamis, 13 September 2012 - 07:07 WIB
Romney dituntut lebih transparan
A
A
A
Sindonews.com – Selama berbulan- bulan calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) Republikan Mitt Romney telah mengampanyekan pemotongan pajak,mencabut dan menggantikan program jamkesmas Presiden Barack Obama, serta meningkatkan pembelanjaan pertahanan.
Tapi, kalau soal spesifikasi misalnya bagaimana membayar potongan pajak dan tambahan belanja hingga seperti apakah rencana jamkesmas Romney, capres Republikan itu enggan memberikan rinciannya.
Sekarang, dengan polling yang menunjukkan bahwa Obama berhasil unggul tipis atas Romney setelah konvensi nasional Republikan dan Demokrat usai, para pendukung konservatif menjadi cemas dan mendesak capres Republikan itu agar mengungkapkan lebih banyak mengenai rencananya, meski itu berisiko menjauhkan beberapa pemilih yang belum menentukan sikap.
Seruan untuk perubahan strategi kampanye itu jadi lebih keras sejak Minggu 9 September 2012, ketika Romney berjuang menjelaskan bagaimana menutup lubang pajak akibat pemotongan pajak atau bagaimana dia akan mempertahankan beberapa poin jamkesmas Obama, termasuk persyaratan tanggungan asuransi terhadap mereka yang menderita kondisi medis dalam kehadirannya di program Meet the Press di NBC.
“Kalkulasi politik pendahuluan Romney adalah bahwa dia bisa memenangi pemilu tanpa menjelaskan momen ekonomi atau bahkan kebijakannya sendiri,” ujar editorial Wall Street Journal, yang sering menjadi barometer pemikiran konservatif, pada Selasa (11/9). “Ketidakjelasan ini menyebabkan risiko politik.”
Ini bukanlah kali pertama bagi kaum konservatif Republikan meningkatkan keraguan terhadap strategi kampanye Romney.Dengan pemilu 6 November akan berlangsung dalam kurang dari dua bulan, seruan bagi mantan Gubernur Massachusetts itu agar lebih transparan dan eksplisit dalam menjelaskan programnya terus meningkat.
Editor mingguan konservatif Weekly Standard, William Kristol, memaparkan bahwa Romney bisa menciptakan jalan kalah dalam pemilu meski beberapa faktor manjur menjadi favorit Republikan– seperti angka pengangguran negara yang mencapai 8,1%.
“Ketika penantang malah tampak mengecewakan ketimbang incumbent dan berusaha meyakinkan pemilih bahwa dia bukan alternatif yang buruk maka itu bukanlah formula kemenangan,” tulis Kristol seperti dikutip Reuters.
Tapi, para penasihat Romney menegaskan akan tetap bertahan pada strategi mereka dan tidak panik.Seorang penasihat Romney dari luar tim kampanye menyatakan, tidak ada yang bakal dicapai dengan menyebutkan secara spesifik isu seperti proposal pemotongan pajak karena itu akan dinegosiasikan dengan kongres.
“Kalau dia jadi presiden,itu akan menjadi panggilan baginya untuk mengeluarkan rencana yang lebih spesifik untuk dinegosiasikan. Tapi, tak ada alasan bagi dia untuk menyebutkan secara detil rencana reformasi pajak saat ini,”ujar penasihat itu kepada Reuters.“Itu hanya akan membuat kampanye Obama mengkritiknya.”
Romney sudah lama menghadapi masalah memenangkan suara sebagian besar kaum konservatif garis keras Partai Republikan. Masalah ini sudah muncul sejak dia mengikuti kampanye pencalonan di tubuh partai.Para konservatif tidak setuju atas tindakannya mendukung jamkesmas saat masih menjabat sebagai Gubernur Massachusetts pada 2003– 2007.
Tapi, kalau soal spesifikasi misalnya bagaimana membayar potongan pajak dan tambahan belanja hingga seperti apakah rencana jamkesmas Romney, capres Republikan itu enggan memberikan rinciannya.
Sekarang, dengan polling yang menunjukkan bahwa Obama berhasil unggul tipis atas Romney setelah konvensi nasional Republikan dan Demokrat usai, para pendukung konservatif menjadi cemas dan mendesak capres Republikan itu agar mengungkapkan lebih banyak mengenai rencananya, meski itu berisiko menjauhkan beberapa pemilih yang belum menentukan sikap.
Seruan untuk perubahan strategi kampanye itu jadi lebih keras sejak Minggu 9 September 2012, ketika Romney berjuang menjelaskan bagaimana menutup lubang pajak akibat pemotongan pajak atau bagaimana dia akan mempertahankan beberapa poin jamkesmas Obama, termasuk persyaratan tanggungan asuransi terhadap mereka yang menderita kondisi medis dalam kehadirannya di program Meet the Press di NBC.
“Kalkulasi politik pendahuluan Romney adalah bahwa dia bisa memenangi pemilu tanpa menjelaskan momen ekonomi atau bahkan kebijakannya sendiri,” ujar editorial Wall Street Journal, yang sering menjadi barometer pemikiran konservatif, pada Selasa (11/9). “Ketidakjelasan ini menyebabkan risiko politik.”
Ini bukanlah kali pertama bagi kaum konservatif Republikan meningkatkan keraguan terhadap strategi kampanye Romney.Dengan pemilu 6 November akan berlangsung dalam kurang dari dua bulan, seruan bagi mantan Gubernur Massachusetts itu agar lebih transparan dan eksplisit dalam menjelaskan programnya terus meningkat.
Editor mingguan konservatif Weekly Standard, William Kristol, memaparkan bahwa Romney bisa menciptakan jalan kalah dalam pemilu meski beberapa faktor manjur menjadi favorit Republikan– seperti angka pengangguran negara yang mencapai 8,1%.
“Ketika penantang malah tampak mengecewakan ketimbang incumbent dan berusaha meyakinkan pemilih bahwa dia bukan alternatif yang buruk maka itu bukanlah formula kemenangan,” tulis Kristol seperti dikutip Reuters.
Tapi, para penasihat Romney menegaskan akan tetap bertahan pada strategi mereka dan tidak panik.Seorang penasihat Romney dari luar tim kampanye menyatakan, tidak ada yang bakal dicapai dengan menyebutkan secara spesifik isu seperti proposal pemotongan pajak karena itu akan dinegosiasikan dengan kongres.
“Kalau dia jadi presiden,itu akan menjadi panggilan baginya untuk mengeluarkan rencana yang lebih spesifik untuk dinegosiasikan. Tapi, tak ada alasan bagi dia untuk menyebutkan secara detil rencana reformasi pajak saat ini,”ujar penasihat itu kepada Reuters.“Itu hanya akan membuat kampanye Obama mengkritiknya.”
Romney sudah lama menghadapi masalah memenangkan suara sebagian besar kaum konservatif garis keras Partai Republikan. Masalah ini sudah muncul sejak dia mengikuti kampanye pencalonan di tubuh partai.Para konservatif tidak setuju atas tindakannya mendukung jamkesmas saat masih menjabat sebagai Gubernur Massachusetts pada 2003– 2007.
(aww)