Obama raup USD114 juta
Selasa, 11 September 2012 - 09:51 WIB
Obama raup USD114 juta
A
A
A
Sindonews.com - Incumbent Presiden Barack Obama terus menunjukkan keunggulan atas rivalnya, Mitt Romney, kurang dari dua bulan gelaran pemilu presiden Amerika Serikat (AS).
Obama terus menunjukkan kebangkitan untuk melawan Romney setelah selama beberapa bulan terakhir terpuruk dalam jajak pendapat (polling) dukungan ataupun penggalangan dana.Kebangkitan ini tampaknya bakal meningkatkan keyakinan presiden itu untuk bisa mempertahankan kursinya di Gedung Putih pada pemilu 6 November mendatang.
Selama bulan Agustus Obama berhasil mengungguli pendapatan dana kampanye Romney. Incumbent itu memperoleh lebih dari USD114 juta (Rp1,091 triliun) dana kampanye dan angka itu lebih banyak sekitar USD3 juta dari perolehan Romney yang meraup USD111 juta (Rp1,062 triliun).
Tak seperti pada 2008 ketika dia memecahkan rekor sebagai calon presiden (capres) yang mudah meraup dana kampanye, pada pemilu kali ini Obama seperti tertatih mengumpulkan dana.
Dia bahkan kalah secara signifikan dalam penggalangan dana dari Romney sejak April lalu. Juli lalu Obama hanya mampu meraih dana USD75 juta. Sedangkan, Romney yang dibantu Republikan dan kesuksesan kelompok penggalang dana dari luar partai atau Super PAC– yang rela menghamburkan uang dalam jumlah besar untuk mendukung capres Republikan itu dengan dana tak terbatas dari pendonor jutawan–meraup dana USD101 juta. Tapi, sebulan kemudian, angka itu berubah.
Basis penyumbang dana Obama meningkat dengan lebih dari 317.000 pendonor–yang belum pernah menyumbang sebelumnya– memberikan donasinya. Menurut manajer kampanye Obama,selama sebulan lalu mereka menerima sumbangan total lebih dari USD1,1 juta.
“Kunci melawan Romney adalah meningkatkan basis donor kami, dan kami melakukannya secara substansial selama Agustus,”ujar Messina, dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
“Ini adalah uang muka penting terhadap organisasi yang kami bangun di seluruh negeri kampanye akar rumput terbesar dalam sejarah.
” Obama sedang menghitung “permainan lapangan” akar rumput untuk membantu meningkatkan dana kampanye. Tapi,kampanye sang presiden telah membakar uang lebih cepat ketimbang kubu Republikan dengan menghabiskan sekitar USD58,5 juta pada Juli lalu yang dua pertiganya digunakan untuk iklan.
Republikan memandang, “Pemilu ini panas bahkan setelah mereka menghabiskan lebih dari USD100 juta untuk menyerang Mitt Romney lewat iklan negatif,” ujar salah satu penasihat senior Romney. Dalam kampanyenya di Florida, Romney kembali mengkritik langkah pemulihan ekonomi Obama yang disebutnya sebagai pemulihan tanpa kerja.
Dia juga menuding sang presiden gagal menghentikan niat nuklir Iran dan menegaskan dirinya tidak berencana memberikan potongan pajak besar kepada orang kaya dan akan merangkul kaum menengah jika terpilih nantinya.
Sementara, Obama mendapatkan kejutan saat seorang pemilik kedai piza memeluk dan mengangkatnya di Florida. Pemilik kedai itu, Scott Van Duzer, memiliki tinggi 190 cm dan mengaku akan memilih Obama pada pemilu. “Scott, Anda ini kayaknya pemilik kedai piza terbesar yang pernah saya temui,” ujar Obama,seperti dikutip BBC.
Van Duzer terdaftar sebagai pemilih Republikan untuk pemilu mendatang. “Saya tidak memilih berdasarkan partai. Saya memilih siapa yang rasa saya membuat saya nyaman dan saya merasa benar-benar nyaman bersama dia,”ujar pria berusia 46 tahun pemilik Big Apple Pizza ini. Dia mengaku memeluk sang presiden karena dia sangat senang.
Obama terus menunjukkan kebangkitan untuk melawan Romney setelah selama beberapa bulan terakhir terpuruk dalam jajak pendapat (polling) dukungan ataupun penggalangan dana.Kebangkitan ini tampaknya bakal meningkatkan keyakinan presiden itu untuk bisa mempertahankan kursinya di Gedung Putih pada pemilu 6 November mendatang.
Selama bulan Agustus Obama berhasil mengungguli pendapatan dana kampanye Romney. Incumbent itu memperoleh lebih dari USD114 juta (Rp1,091 triliun) dana kampanye dan angka itu lebih banyak sekitar USD3 juta dari perolehan Romney yang meraup USD111 juta (Rp1,062 triliun).
Tak seperti pada 2008 ketika dia memecahkan rekor sebagai calon presiden (capres) yang mudah meraup dana kampanye, pada pemilu kali ini Obama seperti tertatih mengumpulkan dana.
Dia bahkan kalah secara signifikan dalam penggalangan dana dari Romney sejak April lalu. Juli lalu Obama hanya mampu meraih dana USD75 juta. Sedangkan, Romney yang dibantu Republikan dan kesuksesan kelompok penggalang dana dari luar partai atau Super PAC– yang rela menghamburkan uang dalam jumlah besar untuk mendukung capres Republikan itu dengan dana tak terbatas dari pendonor jutawan–meraup dana USD101 juta. Tapi, sebulan kemudian, angka itu berubah.
Basis penyumbang dana Obama meningkat dengan lebih dari 317.000 pendonor–yang belum pernah menyumbang sebelumnya– memberikan donasinya. Menurut manajer kampanye Obama,selama sebulan lalu mereka menerima sumbangan total lebih dari USD1,1 juta.
“Kunci melawan Romney adalah meningkatkan basis donor kami, dan kami melakukannya secara substansial selama Agustus,”ujar Messina, dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
“Ini adalah uang muka penting terhadap organisasi yang kami bangun di seluruh negeri kampanye akar rumput terbesar dalam sejarah.
” Obama sedang menghitung “permainan lapangan” akar rumput untuk membantu meningkatkan dana kampanye. Tapi,kampanye sang presiden telah membakar uang lebih cepat ketimbang kubu Republikan dengan menghabiskan sekitar USD58,5 juta pada Juli lalu yang dua pertiganya digunakan untuk iklan.
Republikan memandang, “Pemilu ini panas bahkan setelah mereka menghabiskan lebih dari USD100 juta untuk menyerang Mitt Romney lewat iklan negatif,” ujar salah satu penasihat senior Romney. Dalam kampanyenya di Florida, Romney kembali mengkritik langkah pemulihan ekonomi Obama yang disebutnya sebagai pemulihan tanpa kerja.
Dia juga menuding sang presiden gagal menghentikan niat nuklir Iran dan menegaskan dirinya tidak berencana memberikan potongan pajak besar kepada orang kaya dan akan merangkul kaum menengah jika terpilih nantinya.
Sementara, Obama mendapatkan kejutan saat seorang pemilik kedai piza memeluk dan mengangkatnya di Florida. Pemilik kedai itu, Scott Van Duzer, memiliki tinggi 190 cm dan mengaku akan memilih Obama pada pemilu. “Scott, Anda ini kayaknya pemilik kedai piza terbesar yang pernah saya temui,” ujar Obama,seperti dikutip BBC.
Van Duzer terdaftar sebagai pemilih Republikan untuk pemilu mendatang. “Saya tidak memilih berdasarkan partai. Saya memilih siapa yang rasa saya membuat saya nyaman dan saya merasa benar-benar nyaman bersama dia,”ujar pria berusia 46 tahun pemilik Big Apple Pizza ini. Dia mengaku memeluk sang presiden karena dia sangat senang.
(aww)