Jepang beli pulau yang disengketakan
Selasa, 11 September 2012 - 09:46 WIB
Jepang beli pulau yang disengketakan
A
A
A
Sindonews.com - Jepang kemarin setuju membeli sekelompok pulau yang tengah disengketakan dengan China dari para pemilik swasta mereka.
Jepang berencana menasionalisasi pulau tak berpenghuni di Laut China Timur itu segera setelah bisa mengontrolnya dengan cara yang damai dan stabil. Pulau yang disebut Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China itu berada di dekat area kaya ikan dan berpotensi mengandung gas dan sudah lama menjadi sengketa antara dua negara itu.
Ini hanya tentang kepemilikan tanah, yang merupakan bagian dari wilayah Jepang, memindahkannya dari satu (pemilik) swasta ke negara,dan seharusnya ini tidak menyebabkan masalah dengan negara lain,” ujar Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Osamu Fujimura, yang dilansir Reuters.
“Karena itulah,kami tidak mau masalah Senkaku ini mempengaruhi seluruh hubungan China-Jepang. Karena penting menghindari kesalahpahaman dan perkembangan yang tidak bisa diduga, kami telah berkomunikasi secara mendekat dengan China melalui saluran diplomatik sampai hari ini.”
Langkah ini segera mendapatkan kecaman dari Beijing sehari setelah Presiden Hu Jintao memperingatkan langkah yang dipandangnya ilegal itu.
Tapi,Perdana Menteri China Wen Jiabao menegaskan bahwa China tidak akan menyerah seinci-pun dalam sengketa itu.
“Pulau Diaoyu adalah bagian yang melekat pada wilayah China. Pada masalah terkait kedaulatan dan wilayah, pemerintah dan rakyat China tidak akan pernah menyerah seinci-pun,” tegas Wen yang dikutip Xinhua.
China tetap pada pendiriannya terhadap apa yang mereka sebut sebagai tren politik. “Ini adalah pelanggaran serius atas kedaulatan China dan menyakiti perasaan 1,3 rakyat China,” papar Kementerian Luar Negeri China.
“Pemerintah dan rakyat China mengungkapkan penentangan keras dan memprotes keras tindakan ini.”
Sebelumnya, pada Minggu (9/9),Presiden China Hu Jintao telah memperingatkan Jepang atas pembelian pulau itu. “Pembelian pulau dengan cara apa pun itu ilegal dan tidak dibenarkan.China jelas menentangnya,” ujar Hu kepada Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda di sela KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Vladivostok,Rusia.
“China akan menjaga kedaulatannya. Jepang harus menyadari situasi ini dan tidak membuat keputusan yang salah.”
Ketegangan dua raksasa ekonomi Asia itu kembali meningkat bulan lalu ketika Jepang menangkap sekelompok aktivis China yang menginjakkan kaki di pulau itu.
Awalnya, Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda mengambangkan ide menasionalisasi pulau itu pada Juli lalu untuk meredam Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara yang merupakan pengkritik China dan rencananya membeli pulau yang bisa menyebabkan masalah diplomatik berat.
Fujimura tidak mengungkapkan harga pembelian pulau itu, tapi media Jepang menyebutkan pemerintah siap membayar 2,05 miliar yen.
Jepang berencana menasionalisasi pulau tak berpenghuni di Laut China Timur itu segera setelah bisa mengontrolnya dengan cara yang damai dan stabil. Pulau yang disebut Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China itu berada di dekat area kaya ikan dan berpotensi mengandung gas dan sudah lama menjadi sengketa antara dua negara itu.
Ini hanya tentang kepemilikan tanah, yang merupakan bagian dari wilayah Jepang, memindahkannya dari satu (pemilik) swasta ke negara,dan seharusnya ini tidak menyebabkan masalah dengan negara lain,” ujar Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Osamu Fujimura, yang dilansir Reuters.
“Karena itulah,kami tidak mau masalah Senkaku ini mempengaruhi seluruh hubungan China-Jepang. Karena penting menghindari kesalahpahaman dan perkembangan yang tidak bisa diduga, kami telah berkomunikasi secara mendekat dengan China melalui saluran diplomatik sampai hari ini.”
Langkah ini segera mendapatkan kecaman dari Beijing sehari setelah Presiden Hu Jintao memperingatkan langkah yang dipandangnya ilegal itu.
Tapi,Perdana Menteri China Wen Jiabao menegaskan bahwa China tidak akan menyerah seinci-pun dalam sengketa itu.
“Pulau Diaoyu adalah bagian yang melekat pada wilayah China. Pada masalah terkait kedaulatan dan wilayah, pemerintah dan rakyat China tidak akan pernah menyerah seinci-pun,” tegas Wen yang dikutip Xinhua.
China tetap pada pendiriannya terhadap apa yang mereka sebut sebagai tren politik. “Ini adalah pelanggaran serius atas kedaulatan China dan menyakiti perasaan 1,3 rakyat China,” papar Kementerian Luar Negeri China.
“Pemerintah dan rakyat China mengungkapkan penentangan keras dan memprotes keras tindakan ini.”
Sebelumnya, pada Minggu (9/9),Presiden China Hu Jintao telah memperingatkan Jepang atas pembelian pulau itu. “Pembelian pulau dengan cara apa pun itu ilegal dan tidak dibenarkan.China jelas menentangnya,” ujar Hu kepada Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda di sela KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Vladivostok,Rusia.
“China akan menjaga kedaulatannya. Jepang harus menyadari situasi ini dan tidak membuat keputusan yang salah.”
Ketegangan dua raksasa ekonomi Asia itu kembali meningkat bulan lalu ketika Jepang menangkap sekelompok aktivis China yang menginjakkan kaki di pulau itu.
Awalnya, Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda mengambangkan ide menasionalisasi pulau itu pada Juli lalu untuk meredam Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara yang merupakan pengkritik China dan rencananya membeli pulau yang bisa menyebabkan masalah diplomatik berat.
Fujimura tidak mengungkapkan harga pembelian pulau itu, tapi media Jepang menyebutkan pemerintah siap membayar 2,05 miliar yen.
(aww)