Demonstran tolak pencabutan layanan kesehatan imigran
Senin, 03 September 2012 - 11:04 WIB
Demonstran tolak pencabutan layanan kesehatan imigran
A
A
A
Sindonews.com - Ratusan pengunjuk rasa di Spanyol menentang kebijakan pembatasan layanan kesehatan gratis bagi sejumlah imigran. Kebijakan yang tidak populer itu diprotes para dokter dan lembaga kesehatan regional di Spanyol.
Demonstran menuntut pemerintah memberikan jaminan kesehatan gratis bagi imigran yang tidak mendapatkan status legal di Spanyol.Selain di Madrid,unjuk rasa juga digelar di beberapa kota lainnya.
“Ini tindakan pemberontak terhadap peraturan yang tidak adil,” kata Peruvian Rodrigo Rojas, 51, seorang imigran, pada AFP.
Dia mengaku datang ke Spanyol 15 tahun lalu dan sempat mendirikan perusahaan konstruksi.
Tapi, bisnisnya bangkrut karena krisis ekonomi. Kini dia tidak memiliki izin tinggal karena tidak memiliki pekerjaan dan tidak mendapatkan akses kesehatan. Sebelumnya para imigran mendapatkan akses kesehatan gratis dalam sistem kesehatan publik.
Tapi,pemerintah hanya memberi jaminan kesehatan bagi anak-anak, perempuan hamil, dan orang yang membutuhkan perawatan medis darurat. Selain kategori itu,imigran juga diwajibkan membayar jaminan kesehatan sendiri.
Pemerintahan konservatif Spanyol yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Mariano Rajoy mengenalkan pembatasan baru itu sebagai program penghematan untuk menangkal krisis utang negaranya.
Spanyol pun menghadapi dilema baru akibat kebijakan kontroversial tersebut. Sebanyak 17 lembaga kesehatan regional menyatakan tidak akan mengimplementasikan aturan itu. Gerakan itu didukung para dokter dan perawat yang menginginkan layanan kesehatan harus digratiskan bagi seluruh imigran.
Kelompok perjuangan hakhak kesehatan Medecins du Monde (Dokter Dunia) dan Amnesty International menyatakan aturan baru itu sebagai bentuk pelanggaran hak dasar manusia. Dalam pernyataan bersama, kedua lembaga itu memperingatkan pemotongan anggaran dapat mengorban nyawa banyak orang.
“Ribuan orang bakal tidak mendapatkan jaminan kesehatan gratis,”ungka kedua lembaga itu,dikutip AFP.
Dalam sebuah petisi online dari para profesional kesehatan Spanyol,mereka bertekad menentang kebijakan pemerintah itu.
“Loyalitas saya adalah terhadap pasien yang tidak mendapatkan jaminan kesehatan,”kata salah satu pendukung petisi itu.
Meskipun mendapat tekanan yang sangat kuat dari publik, pemerintah Spanyol tetap tidak mengubah kebijakannya. Pemerintah justru berdalih telah memberikan jaminan bagi siapa pun.
Demonstran menuntut pemerintah memberikan jaminan kesehatan gratis bagi imigran yang tidak mendapatkan status legal di Spanyol.Selain di Madrid,unjuk rasa juga digelar di beberapa kota lainnya.
“Ini tindakan pemberontak terhadap peraturan yang tidak adil,” kata Peruvian Rodrigo Rojas, 51, seorang imigran, pada AFP.
Dia mengaku datang ke Spanyol 15 tahun lalu dan sempat mendirikan perusahaan konstruksi.
Tapi, bisnisnya bangkrut karena krisis ekonomi. Kini dia tidak memiliki izin tinggal karena tidak memiliki pekerjaan dan tidak mendapatkan akses kesehatan. Sebelumnya para imigran mendapatkan akses kesehatan gratis dalam sistem kesehatan publik.
Tapi,pemerintah hanya memberi jaminan kesehatan bagi anak-anak, perempuan hamil, dan orang yang membutuhkan perawatan medis darurat. Selain kategori itu,imigran juga diwajibkan membayar jaminan kesehatan sendiri.
Pemerintahan konservatif Spanyol yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Mariano Rajoy mengenalkan pembatasan baru itu sebagai program penghematan untuk menangkal krisis utang negaranya.
Spanyol pun menghadapi dilema baru akibat kebijakan kontroversial tersebut. Sebanyak 17 lembaga kesehatan regional menyatakan tidak akan mengimplementasikan aturan itu. Gerakan itu didukung para dokter dan perawat yang menginginkan layanan kesehatan harus digratiskan bagi seluruh imigran.
Kelompok perjuangan hakhak kesehatan Medecins du Monde (Dokter Dunia) dan Amnesty International menyatakan aturan baru itu sebagai bentuk pelanggaran hak dasar manusia. Dalam pernyataan bersama, kedua lembaga itu memperingatkan pemotongan anggaran dapat mengorban nyawa banyak orang.
“Ribuan orang bakal tidak mendapatkan jaminan kesehatan gratis,”ungka kedua lembaga itu,dikutip AFP.
Dalam sebuah petisi online dari para profesional kesehatan Spanyol,mereka bertekad menentang kebijakan pemerintah itu.
“Loyalitas saya adalah terhadap pasien yang tidak mendapatkan jaminan kesehatan,”kata salah satu pendukung petisi itu.
Meskipun mendapat tekanan yang sangat kuat dari publik, pemerintah Spanyol tetap tidak mengubah kebijakannya. Pemerintah justru berdalih telah memberikan jaminan bagi siapa pun.
()