Habiskan seluruh tabungan untuk beli sapi kelas dunia
Selasa, 28 Agustus 2012 - 09:17 WIB
Habiskan seluruh tabungan untuk beli sapi kelas dunia
A
A
A
Sindonews.com - Shahzad Iqbal, seorang eksekutif muda asal Pakistan ini rela meninggalkan gaya hidup jetset karena ingin berbuat sesuatu yang berharga bagi negaranya. Dia menginvestasikan seluruh uang tabungannya untuk membeli sperma sapi paling berkualitas di dunia.
Dia mengimpor sperma sapi dari Barat yang bernama Socrates, Air Raid,dan Liberator, kemudian menjualnya dengan harga yang terjangkau bagi para peternak sehingga mereka dapat mengembangbiakkan sapi yang menghasilkan susu sangat banyak.
Iqbal merupakan salah satu pelopor yang ingin mengubah industri susu di Pakistan menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar.
Saat ini, seekor sapi perah di Pakistan hanya menghasilkan 1.600 liter susu setelah melahirkan anak sapi. Masih kalah bersaing dengan sapi Holstein Israel yang mampu menghasilkan 12.500 liter.
“Diperlukan revolusi untuk mengubahnya,” kata Iqbal dikutip Reuters.
Jika Iqbal dan teman temannya berhasil mengubah praktik lama yang telah berlangsung berabad-abad dan mengenalkan cara modern, mereka akan membuka revolusi dalam mata pencarian jutaan peternak miskin di negeri tersebut.
Iqbal mengakui beratnya tantangan para peternak di Pakistan dalam berlawanan birokrasi yang korup, tata pemerintahan yang buruk, pemadaman listrik kronis,dan pemberontakan Taliban.
“Saya tidak mengatakan bahwa saya ini gila. Saya benar-benar normal, namun membutuhkan banyak ketekunan untuk menghadapi berbagai tantangan itu,”ujar Iqbal,dikutip Reuters.
Industri sapi perah di negeri itu telah tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain akibat 65 tahun yang dipenuhi berbagai kudeta militer,pertikaian politik,dan kroni-kroni kapitalis yang mengekang para entrepreneur. Dengan 63 juta ekor sapi dan kerbau, Pakistan merupakan salah satu pemilik ternak terbesar di dunia. Ironisnya, negeri itu tidak dapat mengekspor susu karena produksinya sangat rendah.
Pertikaian kekuasaan antara militer dan pemerintah mengakibatkan sektor peternakan yang sangat potensial itu lumpuh. Padahal, sektor itu melibatkan 35 juta orang, atau 20% populasi secara langsung dan tidak langsung. Sementara negara lain terus berupaya meningkatkan kualitas gen, pakan, dan obat obatan ternak,Pakistan justru membiarkan para peternaknya menerapkan cara-cara kuno selama beberapa dekade.
Akibatnya, jaringan suplai susu sangat buruk,dari tidak efisiennya pengelolaan sapi hingga ke produk akhirnya. Setelah mengumpulkan uang selama 15 tahun bekerja sebagai eksekutif perusahaan untuk minuman Barat dan tembakau, Iqbal pun memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk negaranya, Pakistan. Di tengah buruknya kondisi itu,Iqbal justru melihat peluang besar.
Dia pun menginvestasikan semua tabungannya sebesar USD1 juta untuk mendirikan proyek pengembangbiakan sapi bernama Jassar Farms. Iqbal dan teman-temannya memulai usahanya bersama para peternak seperti Abdul Rashid, 65. Mayoritas pemasok susu merupakan peternak individual yang memiliki tiga atau empat sapi dan kerbau. Mereka juga tersebar di desa desa terpencil dengan jalur transportasi yang buruk.
Tidak ada sistem pemasaran modern, jadi semuanya terserah pada peternak untuk mencari pembeli bagi produk susunya yang terbatas. Rashid dan jutaan peternak lain seperti dia sangat bergantung pada pengumpul susu atau dodhi dalam bahasa Urdu, untuk menjual susu mereka ke rumah-rumah. Susu-susu itu dibawa dalam kaleng yang diikat sepeda motor tua Yamaha.
“Tidak ada yang berubah dalam 40 tahun. Kami bangun pukul empat pagi untuk membeli susu, dua kilogram dari sini, empat kilogram dari sana. Kami mendapatkannya dari jarak yang jauh,”ujar salah satu pengumpul susu, Mohammed Akram,55,y ang mengenakan sandal plastik usang dan berdiri di dekat tumpukan sampah berbau busuk. Dengan kondisi semacam itu,Iqbal menjadi harapan kemajuan kehidupan para peternak di negerinya. (Wenny Juanita)
Dia mengimpor sperma sapi dari Barat yang bernama Socrates, Air Raid,dan Liberator, kemudian menjualnya dengan harga yang terjangkau bagi para peternak sehingga mereka dapat mengembangbiakkan sapi yang menghasilkan susu sangat banyak.
Iqbal merupakan salah satu pelopor yang ingin mengubah industri susu di Pakistan menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar.
Saat ini, seekor sapi perah di Pakistan hanya menghasilkan 1.600 liter susu setelah melahirkan anak sapi. Masih kalah bersaing dengan sapi Holstein Israel yang mampu menghasilkan 12.500 liter.
“Diperlukan revolusi untuk mengubahnya,” kata Iqbal dikutip Reuters.
Jika Iqbal dan teman temannya berhasil mengubah praktik lama yang telah berlangsung berabad-abad dan mengenalkan cara modern, mereka akan membuka revolusi dalam mata pencarian jutaan peternak miskin di negeri tersebut.
Iqbal mengakui beratnya tantangan para peternak di Pakistan dalam berlawanan birokrasi yang korup, tata pemerintahan yang buruk, pemadaman listrik kronis,dan pemberontakan Taliban.
“Saya tidak mengatakan bahwa saya ini gila. Saya benar-benar normal, namun membutuhkan banyak ketekunan untuk menghadapi berbagai tantangan itu,”ujar Iqbal,dikutip Reuters.
Industri sapi perah di negeri itu telah tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain akibat 65 tahun yang dipenuhi berbagai kudeta militer,pertikaian politik,dan kroni-kroni kapitalis yang mengekang para entrepreneur. Dengan 63 juta ekor sapi dan kerbau, Pakistan merupakan salah satu pemilik ternak terbesar di dunia. Ironisnya, negeri itu tidak dapat mengekspor susu karena produksinya sangat rendah.
Pertikaian kekuasaan antara militer dan pemerintah mengakibatkan sektor peternakan yang sangat potensial itu lumpuh. Padahal, sektor itu melibatkan 35 juta orang, atau 20% populasi secara langsung dan tidak langsung. Sementara negara lain terus berupaya meningkatkan kualitas gen, pakan, dan obat obatan ternak,Pakistan justru membiarkan para peternaknya menerapkan cara-cara kuno selama beberapa dekade.
Akibatnya, jaringan suplai susu sangat buruk,dari tidak efisiennya pengelolaan sapi hingga ke produk akhirnya. Setelah mengumpulkan uang selama 15 tahun bekerja sebagai eksekutif perusahaan untuk minuman Barat dan tembakau, Iqbal pun memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk negaranya, Pakistan. Di tengah buruknya kondisi itu,Iqbal justru melihat peluang besar.
Dia pun menginvestasikan semua tabungannya sebesar USD1 juta untuk mendirikan proyek pengembangbiakan sapi bernama Jassar Farms. Iqbal dan teman-temannya memulai usahanya bersama para peternak seperti Abdul Rashid, 65. Mayoritas pemasok susu merupakan peternak individual yang memiliki tiga atau empat sapi dan kerbau. Mereka juga tersebar di desa desa terpencil dengan jalur transportasi yang buruk.
Tidak ada sistem pemasaran modern, jadi semuanya terserah pada peternak untuk mencari pembeli bagi produk susunya yang terbatas. Rashid dan jutaan peternak lain seperti dia sangat bergantung pada pengumpul susu atau dodhi dalam bahasa Urdu, untuk menjual susu mereka ke rumah-rumah. Susu-susu itu dibawa dalam kaleng yang diikat sepeda motor tua Yamaha.
“Tidak ada yang berubah dalam 40 tahun. Kami bangun pukul empat pagi untuk membeli susu, dua kilogram dari sini, empat kilogram dari sana. Kami mendapatkannya dari jarak yang jauh,”ujar salah satu pengumpul susu, Mohammed Akram,55,y ang mengenakan sandal plastik usang dan berdiri di dekat tumpukan sampah berbau busuk. Dengan kondisi semacam itu,Iqbal menjadi harapan kemajuan kehidupan para peternak di negerinya. (Wenny Juanita)
()