Kim Jong-un melawat ke China
Sabtu, 25 Agustus 2012 - 12:17 WIB
Kim Jong-un melawat ke China
A
A
A
Sindonews.com – Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un sedang berusaha menyusun kunjungan ke sekutu kuncinya, Beijing, bulan depan, untuk bertemu presiden China dan penggantinya.
Rencana kunjungan itu terungkap kemarin di tengah tanda-tanda melunaknya Pyongyang yang diperkirakan mati-matian berusaha mencari investasi untuk mengangkat ekonominya yang terpuruk dan terisolasi dengan menggunakan uang China.
Pengajuan kunjungan itu dilakukan saat paman Jong-un, Jang Song-thaek, berkunjung ke Beijing bulan lalu. Jang secara efektif merupakan orang paling berpengaruh kedua di Korut.
“Ini akan menjadi perjalanan perkenalan,” papar sumber yang memiliki hubungan dengan Pyongyang dan Beijing dan secara tepat memprediksi beberapa event termasuk uji coba nuklir pertama Korut pada 2006 beberapa hari sebelum pelaksanaannya dan juga munculnya Jang, kepada Reuters.
“Itu akan menjadi sebuah kunjungan resmi kenegaraan. Itu adalah salah satu misi terpenting dalam kunjungan Jang Song-thaek beberapa waktu lalu.”
Korut sangat bergantung pada China untuk perekonomian dan dukungan diplomatik. Kunjungan itu pun akan menjadi kunjungan resmi ke luar negeri pertama Jong-un sejak menjadi pemimpin Korut menggantikan ayahnya, Kim Jong-il, yang meninggal dunia pada Desember tahun lalu.
Dalam kunjungannya bulan ini, Jang sempat bertemu Presiden China Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao. Belum diketahui apakah Jong-un, yang diperkirakan berusia akhir 20-an itu,pernah mengunjungi China sebelum dilantik sebagai pemimpin negara terisolasi itu. Ayah Jong-un, Jong-il, terakhir kali mengunjungi China pada Mei 2011.
Kementerian Luar Negeri China belum memberikan jawabannya saat dihubungi Reuters dan ditanyai perihal rencana kunjungan Jong-un itu.
Para pakar yakin Korut hampir mencapai kapasitas teknis untuk melakukan uji coba nuklir ketiga dan sumber Reuters menyatakan, Pyongyang masih memegang persyaratan agar Amerika Serikat (AS) menandatangani traktat resmi berakhirnya Perang Korea 1950–1953 dan memberikan pengakuan diplomatik sebagai harga mati agar Korut tidak melakukan uji coba nuklir.
Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata. “Tidak diragukan lagi Korut memiliki kemampuan, tapi China sangat menentangnya,” papar sumber itu.
“Korut menginginkan perjanjian damai permanen untuk menggantikan gencatan senjata untuk ditukar dengan pembatalan rencana uji coba nuklir ketiga. Sudah 60 tahun dan sudah waktunya untuk (secara resmi) mengakhiri perang itu dengan kesepakatan damai.”
Siegfried Hecker, pakar nuklir AS yang empat kali mengunjungi fasilitas nuklir Korut, Yongbyon, sejak 2004, dan pakar asing terakhir yang mengunjungi lokasi itu pada akhir 2010, menulis dalam sebuah laporan yang dipublikasi pada 6 Agustus lalu bahwa Korut secara teknis siap menggelar sebuah uji coba dalam waktu dua pekan.
Hecker dan Frank Pabian menulis bahwa Korut mungkin melakukan uji nuklir serentak dengan menggunakan plutonium dan uranium yang sangat dikayakan.
“Apakah dan kapan Korut melakukan uji coba nuklir lagi akan tergantung pada seberapa tinggi biaya politik yang ingin ditanggung Korut,” papar mereka.
“Beijing terus memperluas bantuan dan perdagangan dengan Korut, tapi juga memberikan tekanan diplomatik signifikan terhadap Pyongyang agar tidak melakukan uji coba.”
Rencana kunjungan itu terungkap kemarin di tengah tanda-tanda melunaknya Pyongyang yang diperkirakan mati-matian berusaha mencari investasi untuk mengangkat ekonominya yang terpuruk dan terisolasi dengan menggunakan uang China.
Pengajuan kunjungan itu dilakukan saat paman Jong-un, Jang Song-thaek, berkunjung ke Beijing bulan lalu. Jang secara efektif merupakan orang paling berpengaruh kedua di Korut.
“Ini akan menjadi perjalanan perkenalan,” papar sumber yang memiliki hubungan dengan Pyongyang dan Beijing dan secara tepat memprediksi beberapa event termasuk uji coba nuklir pertama Korut pada 2006 beberapa hari sebelum pelaksanaannya dan juga munculnya Jang, kepada Reuters.
“Itu akan menjadi sebuah kunjungan resmi kenegaraan. Itu adalah salah satu misi terpenting dalam kunjungan Jang Song-thaek beberapa waktu lalu.”
Korut sangat bergantung pada China untuk perekonomian dan dukungan diplomatik. Kunjungan itu pun akan menjadi kunjungan resmi ke luar negeri pertama Jong-un sejak menjadi pemimpin Korut menggantikan ayahnya, Kim Jong-il, yang meninggal dunia pada Desember tahun lalu.
Dalam kunjungannya bulan ini, Jang sempat bertemu Presiden China Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao. Belum diketahui apakah Jong-un, yang diperkirakan berusia akhir 20-an itu,pernah mengunjungi China sebelum dilantik sebagai pemimpin negara terisolasi itu. Ayah Jong-un, Jong-il, terakhir kali mengunjungi China pada Mei 2011.
Kementerian Luar Negeri China belum memberikan jawabannya saat dihubungi Reuters dan ditanyai perihal rencana kunjungan Jong-un itu.
Para pakar yakin Korut hampir mencapai kapasitas teknis untuk melakukan uji coba nuklir ketiga dan sumber Reuters menyatakan, Pyongyang masih memegang persyaratan agar Amerika Serikat (AS) menandatangani traktat resmi berakhirnya Perang Korea 1950–1953 dan memberikan pengakuan diplomatik sebagai harga mati agar Korut tidak melakukan uji coba nuklir.
Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata. “Tidak diragukan lagi Korut memiliki kemampuan, tapi China sangat menentangnya,” papar sumber itu.
“Korut menginginkan perjanjian damai permanen untuk menggantikan gencatan senjata untuk ditukar dengan pembatalan rencana uji coba nuklir ketiga. Sudah 60 tahun dan sudah waktunya untuk (secara resmi) mengakhiri perang itu dengan kesepakatan damai.”
Siegfried Hecker, pakar nuklir AS yang empat kali mengunjungi fasilitas nuklir Korut, Yongbyon, sejak 2004, dan pakar asing terakhir yang mengunjungi lokasi itu pada akhir 2010, menulis dalam sebuah laporan yang dipublikasi pada 6 Agustus lalu bahwa Korut secara teknis siap menggelar sebuah uji coba dalam waktu dua pekan.
Hecker dan Frank Pabian menulis bahwa Korut mungkin melakukan uji nuklir serentak dengan menggunakan plutonium dan uranium yang sangat dikayakan.
“Apakah dan kapan Korut melakukan uji coba nuklir lagi akan tergantung pada seberapa tinggi biaya politik yang ingin ditanggung Korut,” papar mereka.
“Beijing terus memperluas bantuan dan perdagangan dengan Korut, tapi juga memberikan tekanan diplomatik signifikan terhadap Pyongyang agar tidak melakukan uji coba.”
(hyk)