Mantan PM Suriah dituding sebar kebohongan
Kamis, 16 Agustus 2012 - 15:16 WIB
Mantan PM Suriah dituding sebar kebohongan
A
A
A
Sindonews.com – Perwakilan khusus pemerintah Suriah sekaligus penasihat Presiden Suriah, Bouthaina Shaaban membantah pernyaataan bahwa Suriah berada di ambang kehancuran karena saat ini sebagian besar wilayah Suriah di luar kendali Presiden Suraiah Bashar al-Assad.
"Apa yang diungkapkan Riyad Hijab adalah sebuah kebohongan, sebagai seorang Perdana Menteri ia tahu betul seperti apa situasi yang terjadi di Suriah saat ini," jelas Shaaban seperti diberitakan Global Times, Kamis (16/8/2012).
"Mereka yang tidak percaya pada sistem atau pemerintahan yang sedang berlangsung di Suriah akan berhenti. Sejauh ini, jumlah pihak yang membelot terhadap pemerintah Suriah terlalu dibesar-besarkan," jelas Shaaban.
Pernyataan tersebut disampaikan Shaaban menanggapi pertanyaan yang dibuat oleh mantan Perdana Menteri (PM) Suriah Riyad Hijab.
Mantan PM yang melarikan diri ke Jordania itu mengatakan, Presiden Suriah Bashar al-Assad kini hanya mengendalikan 30 persen dari negara dan kekuasaannya runtuh.
Setelah membelot, mantan PM Suriah juga terus mendesak para pemimpin politik dan militer lainnya untuk bergabung dengan pihak pemberontak.
Selain itu, dia juga menyerukan kepada seluruh pihak oposisi di pengasingan untuk bersatu melawan Assad. Pernyataan Hijab tersebut bertentangan dengan anggapan pejabat tinggi Suriah pada umumnya.
Penasihat al-Bassar tersebut hari ini dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Yang Jiech. Dimana sebelumnya, media lokal People's Daily memberitakan Pemerintah China berharap pertemuan antara Yang Jiech dan Shabaan mampu menghidupkan kembali harpan ditengah stagnasi kondisi yang terjadi di Suriah.
"Apa yang diungkapkan Riyad Hijab adalah sebuah kebohongan, sebagai seorang Perdana Menteri ia tahu betul seperti apa situasi yang terjadi di Suriah saat ini," jelas Shaaban seperti diberitakan Global Times, Kamis (16/8/2012).
"Mereka yang tidak percaya pada sistem atau pemerintahan yang sedang berlangsung di Suriah akan berhenti. Sejauh ini, jumlah pihak yang membelot terhadap pemerintah Suriah terlalu dibesar-besarkan," jelas Shaaban.
Pernyataan tersebut disampaikan Shaaban menanggapi pertanyaan yang dibuat oleh mantan Perdana Menteri (PM) Suriah Riyad Hijab.
Mantan PM yang melarikan diri ke Jordania itu mengatakan, Presiden Suriah Bashar al-Assad kini hanya mengendalikan 30 persen dari negara dan kekuasaannya runtuh.
Setelah membelot, mantan PM Suriah juga terus mendesak para pemimpin politik dan militer lainnya untuk bergabung dengan pihak pemberontak.
Selain itu, dia juga menyerukan kepada seluruh pihak oposisi di pengasingan untuk bersatu melawan Assad. Pernyataan Hijab tersebut bertentangan dengan anggapan pejabat tinggi Suriah pada umumnya.
Penasihat al-Bassar tersebut hari ini dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Yang Jiech. Dimana sebelumnya, media lokal People's Daily memberitakan Pemerintah China berharap pertemuan antara Yang Jiech dan Shabaan mampu menghidupkan kembali harpan ditengah stagnasi kondisi yang terjadi di Suriah.
()