Militia Afghanistan membelot ke Taliban
Selasa, 31 Juli 2012 - 15:08 WIB
Militia Afghanistan membelot ke Taliban
A
A
A
Sindonews.com - Pasukan militia Afghanistan atau penduduk sipil yang telah dilatih dan dibiayai oleh tentara Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk bergabung dengan militan Taliban.
Sedikitnya 23 orang pasukan militia yang telah dilatih untuk menumpas keberadaan kelompok Taliban di provinsi Farah, Afghanistan bagian barat. Banyak di antara mereka yang telah memberikan senjata AS kepada kelompok Taliban sebagai bantuan senjata untuk berperang di wilayah Afghanistan bagian utara.
Sejak awal pemerintah Afghanistan telah menentang rencana pemerintah AS merekrut penduduk sipil untuk bergabung dengan pemerintah menciptakan keamanan. Namun AS bersikeras menekan pemerintah Afghanistan merealisasikan rencana mereka.
Sementara itu, anggota kelompok hak asasi manusia Afghanistan, Farid Hamidi menyalahkan pemerintah AS atas perpindahan senjata AS ke tangan penduduk sipil melalui tangan militia ini. Akibatnya, senjata ini mulai dipergunakan sebagai alat bantu untuk mengancam penduduk lokal saat merampok.
Militan Afghanistan juga telah mengunakan senjata AS sebagai alat bantu untuk menculik dan mengancam untuk meminta tebusan.
"Pemerintah kini harus bertanggung jawab melucuti senjata yang jatuh ke tangan milisi, status senjata yang mereka miliki ilegal," ungkap Hamidi seperti diberitakan dalam Presstv, Selasa (31/7/2012).
Pasukan AS mulai menginvasi Afghanistan sejak Oktober 2001 lalu, invasi AS ke Afghanistan bertujuan menumpas keberadaan kelompok Taliban dan menghabisi kelompok yang bersenjata ilegal.
Sedikitnya 23 orang pasukan militia yang telah dilatih untuk menumpas keberadaan kelompok Taliban di provinsi Farah, Afghanistan bagian barat. Banyak di antara mereka yang telah memberikan senjata AS kepada kelompok Taliban sebagai bantuan senjata untuk berperang di wilayah Afghanistan bagian utara.
Sejak awal pemerintah Afghanistan telah menentang rencana pemerintah AS merekrut penduduk sipil untuk bergabung dengan pemerintah menciptakan keamanan. Namun AS bersikeras menekan pemerintah Afghanistan merealisasikan rencana mereka.
Sementara itu, anggota kelompok hak asasi manusia Afghanistan, Farid Hamidi menyalahkan pemerintah AS atas perpindahan senjata AS ke tangan penduduk sipil melalui tangan militia ini. Akibatnya, senjata ini mulai dipergunakan sebagai alat bantu untuk mengancam penduduk lokal saat merampok.
Militan Afghanistan juga telah mengunakan senjata AS sebagai alat bantu untuk menculik dan mengancam untuk meminta tebusan.
"Pemerintah kini harus bertanggung jawab melucuti senjata yang jatuh ke tangan milisi, status senjata yang mereka miliki ilegal," ungkap Hamidi seperti diberitakan dalam Presstv, Selasa (31/7/2012).
Pasukan AS mulai menginvasi Afghanistan sejak Oktober 2001 lalu, invasi AS ke Afghanistan bertujuan menumpas keberadaan kelompok Taliban dan menghabisi kelompok yang bersenjata ilegal.
()