Menanti gebrakan Kim Jong-un
Sabtu, 28 Juli 2012 - 09:23 WIB
Menanti gebrakan Kim Jong-un
A
A
A
Sindonews.com - Harapan perubahan bagi rakyat Korea Utara (Korut) di bawah kepemimpinan Kim Jong-un belum membuahkan hasil nyata. Harga beras bahkan kian melambung tinggi dan tak dapat terbeli oleh sebagian besar keluarga di salah satu negara paling miskin dan kelaparan di dunia itu.
Seorang warga Korut yang baru-baru ini menelepon pembelot, Seo Jae-pyoung, yang kini tinggal di Korea Selatan (Korsel), memaparkan, membutuhkan uang untuk membeli beras.
“Dia tidak bisa menghadapi harga yang melambung tinggi. Katanya, harga beras telah naik dan dia kehabisan uang,” papar Seo kepada Reuters.
“Itu menunjukkan bahwa situasi ekonomi memburuk. Saya merasakan sekarang sudah mencapai titik kritis dan (pemimpin Jong-un) mungkin tahu kalau tanpa reformasi dan keterbukaan, rezim itu tidak akan bertahan lama.”
Menurut Soe dan beberapa pembelot lain, salah satu alasan harga beras melambung karena beras itu ditimbun orang orang yang berharap obrolan soal reformasi itu akan terwujud dalam peluang yang bisa menghasilkan keuntungan.
Sebuah sumber yang memiliki hubungan dengan Korut dan pendukungnya, China, memaparkan kepada Reuters bahwa Korut bersiap melakukan reformasi ekonomi. Bukti atas klaim itu memang sulit karena Korut sangatlah tertutup.
Selama sekitar tujuh bulan Jong-un berkuasa, ada sedikit perubahan di dalam negeri itu. Perubahan itu dilakukan seiring keputusan Myanmar untuk lebih membuka diri.
“Saya belum mendengar apa pun yang mengindikasikan adalah perbaikan.Di beberapa sektor, beberapa hal terus terpuruk,” ungkap seorang aktivis Helping Hands Korea, yang membantu pengungsi pelarian Korut.
Kim Jong Un menjadi generasi ketiga dinasti keluarga yang berkuasa di Korut setelah ayahnya, Kim Jong-il, meninggal dunia pada Desember tahun lalu
Dengan sanksi internasional atas program senjata dan kebijakan untuk mendahulukan militer ketimbang pangan, secara umum, rakyat Korut telah mengalami kelaparan selama puluhan tahun.
Menurut para pembangkang Korut yang masih berhubungan dengan keluarga dan teman mereka serta Daily NK, yang memonitor kondisi di negara terisolasi itu, harga 1 kg beras di pasar diperkirakan mencapai sedikitnya gaji satu bulan.
Tapi, menurut salah satu pembelot, itu tidak ada artinya karena negara miskin itu juga kesulitan mendapatkan uang sehingga banyak majikan yang jarang membayarkan gaji karyawannya. Sebenarnya selama bertahun- tahun, Korut telah merencanakan reformasi, tapi tak pernah melaksanakannya. Malahan, terpaksa terus bergantung pada China untuk mendorong industri. Pada 2009 Korut pernah melakukan redenominasi mata uangnya.
Tapi, langkah ini dianggap membahayakan hingga pejabat yang mendalanginya dilaporkan dieksekusi. Tak satu pun pembelot yang ditemui Reuters yakin kalau kepemimpinan Korut saat ini bakal berani melakukan reformasi yang merusak kekuasaannya. Beberapa menduga elite Pyongyang masih takut dengan apa yang terjadi pada 2009 itu.
Seorang warga Korut yang baru-baru ini menelepon pembelot, Seo Jae-pyoung, yang kini tinggal di Korea Selatan (Korsel), memaparkan, membutuhkan uang untuk membeli beras.
“Dia tidak bisa menghadapi harga yang melambung tinggi. Katanya, harga beras telah naik dan dia kehabisan uang,” papar Seo kepada Reuters.
“Itu menunjukkan bahwa situasi ekonomi memburuk. Saya merasakan sekarang sudah mencapai titik kritis dan (pemimpin Jong-un) mungkin tahu kalau tanpa reformasi dan keterbukaan, rezim itu tidak akan bertahan lama.”
Menurut Soe dan beberapa pembelot lain, salah satu alasan harga beras melambung karena beras itu ditimbun orang orang yang berharap obrolan soal reformasi itu akan terwujud dalam peluang yang bisa menghasilkan keuntungan.
Sebuah sumber yang memiliki hubungan dengan Korut dan pendukungnya, China, memaparkan kepada Reuters bahwa Korut bersiap melakukan reformasi ekonomi. Bukti atas klaim itu memang sulit karena Korut sangatlah tertutup.
Selama sekitar tujuh bulan Jong-un berkuasa, ada sedikit perubahan di dalam negeri itu. Perubahan itu dilakukan seiring keputusan Myanmar untuk lebih membuka diri.
“Saya belum mendengar apa pun yang mengindikasikan adalah perbaikan.Di beberapa sektor, beberapa hal terus terpuruk,” ungkap seorang aktivis Helping Hands Korea, yang membantu pengungsi pelarian Korut.
Kim Jong Un menjadi generasi ketiga dinasti keluarga yang berkuasa di Korut setelah ayahnya, Kim Jong-il, meninggal dunia pada Desember tahun lalu
Dengan sanksi internasional atas program senjata dan kebijakan untuk mendahulukan militer ketimbang pangan, secara umum, rakyat Korut telah mengalami kelaparan selama puluhan tahun.
Menurut para pembangkang Korut yang masih berhubungan dengan keluarga dan teman mereka serta Daily NK, yang memonitor kondisi di negara terisolasi itu, harga 1 kg beras di pasar diperkirakan mencapai sedikitnya gaji satu bulan.
Tapi, menurut salah satu pembelot, itu tidak ada artinya karena negara miskin itu juga kesulitan mendapatkan uang sehingga banyak majikan yang jarang membayarkan gaji karyawannya. Sebenarnya selama bertahun- tahun, Korut telah merencanakan reformasi, tapi tak pernah melaksanakannya. Malahan, terpaksa terus bergantung pada China untuk mendorong industri. Pada 2009 Korut pernah melakukan redenominasi mata uangnya.
Tapi, langkah ini dianggap membahayakan hingga pejabat yang mendalanginya dilaporkan dieksekusi. Tak satu pun pembelot yang ditemui Reuters yakin kalau kepemimpinan Korut saat ini bakal berani melakukan reformasi yang merusak kekuasaannya. Beberapa menduga elite Pyongyang masih takut dengan apa yang terjadi pada 2009 itu.
()