India tambah militer di daerah konflik
Kamis, 26 Juli 2012 - 19:58 WIB
India tambah militer di daerah konflik
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah India mengirimkan lebih banyak pasukan ke wilayah India bagian timur, dimana kekerasan komunal telah menyebabkan 40 orang penduduk tewas dalam sepekan terakhir. Kekerasan komunal yang terjadi antara kelompok muslim dan etnis Bodo di daerah Kokrajha, kini telah meluas ke Dhubri dan Chirang.
Seperti diberitakan ABC News, Kamis (26/7/2012), untuk menyelesaikan pertikaian antara kedua belah pihak, pemimpin dari kedua negara sedang mengadakan perundingan untuk meredakan situsai yang semakin menegang.
Sejauh ini, sebanyak 6 ribu tentara dan militer telah diterjunkan ke wilayah bentrok untuk menyelesaikan masalah antara kedua belah pihak. Sebelumnya, polisi lokal Inspektur Jenderal S.N. Singh mengatakan, polisi diberikan mandat untuk melepaskan tembakan kepada pihak mana pun yang memicu kerusuhan.
Akibat bentrokan ini, Pemerintah India sudah menerapkan jam malam. Polisi India mengatakan bentrok paling parah terjadi di wilayah Chirang, dimana masih banyak remaja yang berkeliaran di beberapa desa yang sepi.
Lebih dari 200 ribu orang dikabarkan telah melarikan diri dan meninggalkan rumah mereka. Sekarang mereka hidup berdesakkan di tenda pengungsian, di gedung sekolah ataupun gedung pemerintahan lainya.
Seperti diberitakan ABC News, Kamis (26/7/2012), untuk menyelesaikan pertikaian antara kedua belah pihak, pemimpin dari kedua negara sedang mengadakan perundingan untuk meredakan situsai yang semakin menegang.
Sejauh ini, sebanyak 6 ribu tentara dan militer telah diterjunkan ke wilayah bentrok untuk menyelesaikan masalah antara kedua belah pihak. Sebelumnya, polisi lokal Inspektur Jenderal S.N. Singh mengatakan, polisi diberikan mandat untuk melepaskan tembakan kepada pihak mana pun yang memicu kerusuhan.
Akibat bentrokan ini, Pemerintah India sudah menerapkan jam malam. Polisi India mengatakan bentrok paling parah terjadi di wilayah Chirang, dimana masih banyak remaja yang berkeliaran di beberapa desa yang sepi.
Lebih dari 200 ribu orang dikabarkan telah melarikan diri dan meninggalkan rumah mereka. Sekarang mereka hidup berdesakkan di tenda pengungsian, di gedung sekolah ataupun gedung pemerintahan lainya.
()