China tutupi jumlah korban banjir
Kamis, 26 Juli 2012 - 19:45 WIB
China tutupi jumlah korban banjir
A
A
A
Sindonews.com – Penduduk China tidak sabar menanti update resmi dari pemerintah tentang jumlah korban tewas. Pemerintah China sejak hari Minggu 22 Juli tidak kunjung melaporkan data terbaru terkait korban tewas akibat banjir yang melanda ibu kota Beijing.
Sebelumnya, Pemerintah China melaporkan korban tewas sebanyak 37 orang. Namun, hari ini Pemerintah China melaporkan korban tewas telah mencapai 61 orang. Semenetara rumor yang berkembang di dunia maya menunjukkan jumlah korban tewas diperkirakan lebih dari 100 orang.
Seperti dilansir dalam TheWashingtonPost, Kamis (26/7/2012) Pemerintah China dikabarkan menutup rapat rapat informasi korban tewas akibat bencana banjir. Karena menyadari kegagalan mengatasi banjir ini dapat merusak transisi kepemimpinan yang telah berlangsung selama satu dekade terakhir.
Distrik Fangshan di Bejing dberitakan menjadi wilayah yang mengalami dampak banjir terparah. Peduduk Fangshan secara online memberitakan jumlah korban tewas mengunakan media publik atau ruang chat populer Baidu Website. Beberapa website online memberitakan jumlah korban tewas diperkirakan lebih dari 300 jiwa, sayangnya tidak ada lembaga independen yang membenarkan data tersebut.
Sementara itu, seorang petugas administrasi bermarga Xu mengatakan data korban tewas masih disusun. Sedangkan seorang penulis yang berasal dari propinsi Sichuan, Li Chengpeng mengatakan dia telah mendapatkan sedikitnya 95 nama korban tewas dari 17 wilayah yang berbeda. Namun, harian Changjing memberitakan jumlah korban tewas belum final, pejabat China masih terus berusaha melakukan identifikasi korban tewas.
Protes ini menunjukkan rendahnya kepercayaan rakyat China terhadap upaya pemerintah dalam menanggulangi bencana. Banjir tersebut merupakan banjir terburuk dalam enam dekade terakhir di China. Banjir kali ini disebabkan tingginya debit air hujan dan buruknya sitem drainase di China, sehingga air meluap di pusat dan pinggiran kota Beijing.
Sebelumnya, Pemerintah China melaporkan korban tewas sebanyak 37 orang. Namun, hari ini Pemerintah China melaporkan korban tewas telah mencapai 61 orang. Semenetara rumor yang berkembang di dunia maya menunjukkan jumlah korban tewas diperkirakan lebih dari 100 orang.
Seperti dilansir dalam TheWashingtonPost, Kamis (26/7/2012) Pemerintah China dikabarkan menutup rapat rapat informasi korban tewas akibat bencana banjir. Karena menyadari kegagalan mengatasi banjir ini dapat merusak transisi kepemimpinan yang telah berlangsung selama satu dekade terakhir.
Distrik Fangshan di Bejing dberitakan menjadi wilayah yang mengalami dampak banjir terparah. Peduduk Fangshan secara online memberitakan jumlah korban tewas mengunakan media publik atau ruang chat populer Baidu Website. Beberapa website online memberitakan jumlah korban tewas diperkirakan lebih dari 300 jiwa, sayangnya tidak ada lembaga independen yang membenarkan data tersebut.
Sementara itu, seorang petugas administrasi bermarga Xu mengatakan data korban tewas masih disusun. Sedangkan seorang penulis yang berasal dari propinsi Sichuan, Li Chengpeng mengatakan dia telah mendapatkan sedikitnya 95 nama korban tewas dari 17 wilayah yang berbeda. Namun, harian Changjing memberitakan jumlah korban tewas belum final, pejabat China masih terus berusaha melakukan identifikasi korban tewas.
Protes ini menunjukkan rendahnya kepercayaan rakyat China terhadap upaya pemerintah dalam menanggulangi bencana. Banjir tersebut merupakan banjir terburuk dalam enam dekade terakhir di China. Banjir kali ini disebabkan tingginya debit air hujan dan buruknya sitem drainase di China, sehingga air meluap di pusat dan pinggiran kota Beijing.
()