Rusia lebih khawatirkan radikalisme, bukan senjata
Minggu, 22 Juli 2012 - 09:18 WIB
Rusia lebih khawatirkan radikalisme, bukan senjata
A
A
A
Sindonews.com - Rusia kembali menjadi sorotan setelah untuk kali ketiga memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menjatuhkan sanksi terhadap Suriah. Langkah ini dikecam seiring kian meningkatkan kekerasan di negara Timur Tengah itu.
Banyak yang mempertanyakan sikap Rusia yang terus membela rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad yang dinilai telah melakukan kekerasan terhadap sipil dengan mengerahkan pasukan untuk membendung demonstrasi yang menuntut kebebasan dalam berekspresi. Kedekatan Moskow dengan Damaskus memang sudah terjalin sejak lama.
Banyak yang percaya bahwa dukungan Rusia untuk Suriah tak lain dan tak bukan karena penjualan senjata. Negeri Beruang Merah bahkan mempertahankan fasilitas angkatan lautnya di Dermaga Tartus di negara Timur Tengah itu. Tapi,menurut Direktur Pusat Analisa Strategi dan Teknologi Ruslan Pukhov, pandangan itu salah.
“Alasan sebenarnya mengapa Rusia menolak aksi internasional terhadap rezim Assad adalah kekhawatiran Moskow terhadap penyebaran radikalisme dan erosi status superpower mereka di sebuah dunia di mana negara-negara Barat mengambil alih intervensi militer sepihak,” tulis Pukhov dalam opini di New York Times.
Nilai kontrak pertahanan Rusia dengan Suriah sebenarnya cukup kecil, hanya sekitar USD5,5 miliar sejak 2005. Kontrak itu sebagian besar digunakan untuk memodernisasi pertahanan udara dan angkatan udara Suriah.
M eski Suriah selalu melakukan pembayaran sesuai jadwal, banyak kontrak yang justru ditunda Rusia karena alasan politik. Kontrak untuk empat jet tempur MiG-31E dibatalkan dan baru-baru ini Rusia benar-benar menangguhkan pengiriman sistem rudal antipesawat bergerak S-300 ke Suriah.
Suriah adalah salah satu pelanggan penting Rusia, tapi bukan merupakan salah satu pembeli senjata terpenting bagi Rusia–karena hanya 5% dari penjualan global senjata pada 2011.
Selama ini, Rusia telah lama menahan diri untuk menyuplai Damaskus dengan sistem senjata tercanggih untuk menghindari membuat marah Israel dan Barat. Hal ini kadang merusak hubungan perdagangan dan politik Rusia dengan Suriah. Jadi, kalaupun pemerintahan Assad bertahan, mereka tampaknya akan melemah dan tidak akan mampu membeli senjata Rusia.
Sementara, fasilitas pendukung logistik angkatan laut Rusia di Tartus tampaknya tak penting. Fasilitas ini hanyalah simbolik dan tidak bisa menjadi basis pendukung untuk menempatkan pasukan di Laut Mediterania. Bahkan, kunjungan kapal-kapal militer Rusia adalah untuk tujuan demonstratif.
Lantas, mengapa Rusia mendukung Assad? Cara ini sebenarnya ditempuh Moskow untuk mencegah adanya campur tangan asing yang ditujukan untuk menggulingkan rezim ini, seperti yang terjadi di Libya.
Banyak orang Rusia yakin kalau keruntuhan pemerintahan Assad adalah kehilangan sekutu dan klien terakhir di Timur Tengah dan penyingkiran terakhir jejak bekas pengaruh Soviet di sana. Mereka yakin, intervensi Barat di Suriah akan menjadi salah satu penyingkiran simbol status Rusia sebagai kekuatan dunia.
Bagi orang-orang di Moskow, Assad bukankah diktator yang jahat tapi seorang pemimpin sekuler yang berjuang melawan radikalisme. Dukungan aktif Arab Saudi,Qatar, dan Turki terhadap pemberontak di Suriah meningkatkan kecurigaan Rusia mengenai radikalisme oposisi di Suriah dan pemberontak di seluruh Timur Tengah.
Rusia juga marah terhadap campur tangan sepihak Barat. Menurut pandangan ini, Barat, dipimpin Amerika Serikat (AS), mendemonstrasikan sinisme mereka, khianat dan kebijakan standar ganda.
Itulah mengapa semua seruan intervensi Barat di Suriah dianggap publik Rusia sebagai manifestasi lain hipokrit sinis yang terburuk. Rusia telah berulang kali memperingatkan bahwa perang skala besar di Suriah akan menjadi “bencana”di kawasan itu dan analis yakin Barat tidak punya hasrat melakukan serangan di Damaskus.
“Di masa lalu, kalau Barat ingin membom negara, itu langsung dilakukan tanpa menunggu permisi dari PBB,” papar Sergei Demidenko, analis dari lembaga think-tankberbasis Moskow Institute for Stra-tegic Studies and Analysis,kepada RIA Novosti.
“Lihat saja Irak, Afghanistan. Tapi, Barat menyadari, masalah akan muncul setelah serangan di Suriah. Jadi, pendirian Rusia sangat tepat sekali.” Menurut Demidenko, kekuatan Barat mengangkat kebijakan Israel terhadap Suriah, yaitu si iblis yang kalian kenal lebih baik. “Israel bilang, ’ya, Assad itu jahat.Tapi,siapa yang menggantikan dia, akan lebih buruk’,”papar Demidenko.
Meski demikian, sejumlah analis menyebutkan, Kremlin sebenarnya berusaha memisahkan diri dari rezim Assad. “(Presiden Rusia Vladimir) Putin sudah mulai mengubah posisinya terhadap Suriah,tapi dengan sangat hati-hati,” papar Alexander Shumilin,kepala lembaga think-tank Center for the Greater Middle East Conflicts di Moskow.
“Di level publik, pendiriannya tetap sama. Tapi, pada level diplomatik, jelas ada usaha untuk lebih mendekatkan diri ke Barat.” Namun, usaha itu,menurut Shumilin menjadi berat.“Putin sudah jatuh ke dalam jebakan atas Suriah.
Dia berusaha menggunakan kartu Suriah pada ketidaksetujuan Rusia atas pemasangan tameng antirudal NATO di Eropa dan terhadap dukungan barat atas oposisi anti-Putin,” ujar Shumilin.
“Tapi,tak ada yang berhasil dan sekarang dia berusaha menjauhkan diri dari Assad, tapi tetap menjaga muka. Rusia telah menjadi terlalu dekat dikaitkan dengan Assad dan sekarang mengemban tanggung jawab atas kejahatannya.”
Banyak yang mempertanyakan sikap Rusia yang terus membela rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad yang dinilai telah melakukan kekerasan terhadap sipil dengan mengerahkan pasukan untuk membendung demonstrasi yang menuntut kebebasan dalam berekspresi. Kedekatan Moskow dengan Damaskus memang sudah terjalin sejak lama.
Banyak yang percaya bahwa dukungan Rusia untuk Suriah tak lain dan tak bukan karena penjualan senjata. Negeri Beruang Merah bahkan mempertahankan fasilitas angkatan lautnya di Dermaga Tartus di negara Timur Tengah itu. Tapi,menurut Direktur Pusat Analisa Strategi dan Teknologi Ruslan Pukhov, pandangan itu salah.
“Alasan sebenarnya mengapa Rusia menolak aksi internasional terhadap rezim Assad adalah kekhawatiran Moskow terhadap penyebaran radikalisme dan erosi status superpower mereka di sebuah dunia di mana negara-negara Barat mengambil alih intervensi militer sepihak,” tulis Pukhov dalam opini di New York Times.
Nilai kontrak pertahanan Rusia dengan Suriah sebenarnya cukup kecil, hanya sekitar USD5,5 miliar sejak 2005. Kontrak itu sebagian besar digunakan untuk memodernisasi pertahanan udara dan angkatan udara Suriah.
M eski Suriah selalu melakukan pembayaran sesuai jadwal, banyak kontrak yang justru ditunda Rusia karena alasan politik. Kontrak untuk empat jet tempur MiG-31E dibatalkan dan baru-baru ini Rusia benar-benar menangguhkan pengiriman sistem rudal antipesawat bergerak S-300 ke Suriah.
Suriah adalah salah satu pelanggan penting Rusia, tapi bukan merupakan salah satu pembeli senjata terpenting bagi Rusia–karena hanya 5% dari penjualan global senjata pada 2011.
Selama ini, Rusia telah lama menahan diri untuk menyuplai Damaskus dengan sistem senjata tercanggih untuk menghindari membuat marah Israel dan Barat. Hal ini kadang merusak hubungan perdagangan dan politik Rusia dengan Suriah. Jadi, kalaupun pemerintahan Assad bertahan, mereka tampaknya akan melemah dan tidak akan mampu membeli senjata Rusia.
Sementara, fasilitas pendukung logistik angkatan laut Rusia di Tartus tampaknya tak penting. Fasilitas ini hanyalah simbolik dan tidak bisa menjadi basis pendukung untuk menempatkan pasukan di Laut Mediterania. Bahkan, kunjungan kapal-kapal militer Rusia adalah untuk tujuan demonstratif.
Lantas, mengapa Rusia mendukung Assad? Cara ini sebenarnya ditempuh Moskow untuk mencegah adanya campur tangan asing yang ditujukan untuk menggulingkan rezim ini, seperti yang terjadi di Libya.
Banyak orang Rusia yakin kalau keruntuhan pemerintahan Assad adalah kehilangan sekutu dan klien terakhir di Timur Tengah dan penyingkiran terakhir jejak bekas pengaruh Soviet di sana. Mereka yakin, intervensi Barat di Suriah akan menjadi salah satu penyingkiran simbol status Rusia sebagai kekuatan dunia.
Bagi orang-orang di Moskow, Assad bukankah diktator yang jahat tapi seorang pemimpin sekuler yang berjuang melawan radikalisme. Dukungan aktif Arab Saudi,Qatar, dan Turki terhadap pemberontak di Suriah meningkatkan kecurigaan Rusia mengenai radikalisme oposisi di Suriah dan pemberontak di seluruh Timur Tengah.
Rusia juga marah terhadap campur tangan sepihak Barat. Menurut pandangan ini, Barat, dipimpin Amerika Serikat (AS), mendemonstrasikan sinisme mereka, khianat dan kebijakan standar ganda.
Itulah mengapa semua seruan intervensi Barat di Suriah dianggap publik Rusia sebagai manifestasi lain hipokrit sinis yang terburuk. Rusia telah berulang kali memperingatkan bahwa perang skala besar di Suriah akan menjadi “bencana”di kawasan itu dan analis yakin Barat tidak punya hasrat melakukan serangan di Damaskus.
“Di masa lalu, kalau Barat ingin membom negara, itu langsung dilakukan tanpa menunggu permisi dari PBB,” papar Sergei Demidenko, analis dari lembaga think-tankberbasis Moskow Institute for Stra-tegic Studies and Analysis,kepada RIA Novosti.
“Lihat saja Irak, Afghanistan. Tapi, Barat menyadari, masalah akan muncul setelah serangan di Suriah. Jadi, pendirian Rusia sangat tepat sekali.” Menurut Demidenko, kekuatan Barat mengangkat kebijakan Israel terhadap Suriah, yaitu si iblis yang kalian kenal lebih baik. “Israel bilang, ’ya, Assad itu jahat.Tapi,siapa yang menggantikan dia, akan lebih buruk’,”papar Demidenko.
Meski demikian, sejumlah analis menyebutkan, Kremlin sebenarnya berusaha memisahkan diri dari rezim Assad. “(Presiden Rusia Vladimir) Putin sudah mulai mengubah posisinya terhadap Suriah,tapi dengan sangat hati-hati,” papar Alexander Shumilin,kepala lembaga think-tank Center for the Greater Middle East Conflicts di Moskow.
“Di level publik, pendiriannya tetap sama. Tapi, pada level diplomatik, jelas ada usaha untuk lebih mendekatkan diri ke Barat.” Namun, usaha itu,menurut Shumilin menjadi berat.“Putin sudah jatuh ke dalam jebakan atas Suriah.
Dia berusaha menggunakan kartu Suriah pada ketidaksetujuan Rusia atas pemasangan tameng antirudal NATO di Eropa dan terhadap dukungan barat atas oposisi anti-Putin,” ujar Shumilin.
“Tapi,tak ada yang berhasil dan sekarang dia berusaha menjauhkan diri dari Assad, tapi tetap menjaga muka. Rusia telah menjadi terlalu dekat dikaitkan dengan Assad dan sekarang mengemban tanggung jawab atas kejahatannya.”
()