7 alasan pendorong kekalahan Obama
Rabu, 11 Juli 2012 - 13:30 WIB
7 alasan pendorong kekalahan Obama
A
A
A
Sindonews.com - Lima bulan menjelang pemilihan umum (pemilu) presiden Amerika Serikat (AS), seorang analis dari minggu Jerman, Der Spiegel menerbitkan sebuah analisis tentang kinerja Presiden AS, Barack Obama. Spiesgel menyebutkan tujuh alasan mengapa peluang kemenangan Obama dalam pemilu mendatang cukup redup.
Spiesgel menilai, mendekati akhir masa jabatanya, Obama gagal memenuhi sebagian besar janji yang dia buat selama masa kamapanye. Diantara tujuh masalah yang dihadapi AS, krisis ekonomi merupakan masalah utama bagi Obama. Krisis ekonomi di AS berkaitan erat dengan tingkat pengangguran disana, selama masalah utama tersebut belum terselesaikan maka angka penganguran akan tetap tinggi.
Seperti diberitakan dalam Presstv, Rabu (11/7/2012) Obama juga dinilai gagal membantu negera anggota Uni Eropa mengelola krisis ekonomi mereka. Setelah krisis ekonomi yang terjadi di Uni Eropa, Obama dinilai gagal mengakhir perang di Afghanistan.
Dulu, dalam kampanyenya Obama bertekat mempromosikan perdamian di Afghanistan dan memulangkan tentara AS. Selama bertahun- tahun, kebijakan AS terhadap Afghanistan cenderung mengancam nyawa penduduk sipil dan tentara.
Spingel mengungkapkan buruknya manajemen demoestik pemerintahan AS menjadi penghalang bagi Obama untuk meraih dukungan masyarakat. Ketidakmampuan Obama mengatasi tantangan yang muncul di Gedung Putih menjadi penghalang dalam meperluas pengaruhnya di kongres. Obama cenderung mengadopsi kebijakan sepihak, seperti presiden terdahulu AS, George W.Bush.
Obama juga dikatakan gagal menepati janjinya untuk berhenti berperang dengan negara manapun, khusunya untuk kasus penanganan nuklir Iran. Kini publik AS tahu, posisi AS hanyalah slogan semata.
Spiegel menyoroti dukungan penuh AS atas Israel. Meskipun negara ini dirundung masalah ekonomi, tetapi bantuan ekonomi bagi Israel terus mengalir.
Kabar baiknya, Spiegel mengungkapkan kekurangan kekuatan Partai Republik akan menguntungkan Obama untuk terpilih kembali menjadi presiden AS mendatang.
Spiesgel menilai, mendekati akhir masa jabatanya, Obama gagal memenuhi sebagian besar janji yang dia buat selama masa kamapanye. Diantara tujuh masalah yang dihadapi AS, krisis ekonomi merupakan masalah utama bagi Obama. Krisis ekonomi di AS berkaitan erat dengan tingkat pengangguran disana, selama masalah utama tersebut belum terselesaikan maka angka penganguran akan tetap tinggi.
Seperti diberitakan dalam Presstv, Rabu (11/7/2012) Obama juga dinilai gagal membantu negera anggota Uni Eropa mengelola krisis ekonomi mereka. Setelah krisis ekonomi yang terjadi di Uni Eropa, Obama dinilai gagal mengakhir perang di Afghanistan.
Dulu, dalam kampanyenya Obama bertekat mempromosikan perdamian di Afghanistan dan memulangkan tentara AS. Selama bertahun- tahun, kebijakan AS terhadap Afghanistan cenderung mengancam nyawa penduduk sipil dan tentara.
Spingel mengungkapkan buruknya manajemen demoestik pemerintahan AS menjadi penghalang bagi Obama untuk meraih dukungan masyarakat. Ketidakmampuan Obama mengatasi tantangan yang muncul di Gedung Putih menjadi penghalang dalam meperluas pengaruhnya di kongres. Obama cenderung mengadopsi kebijakan sepihak, seperti presiden terdahulu AS, George W.Bush.
Obama juga dikatakan gagal menepati janjinya untuk berhenti berperang dengan negara manapun, khusunya untuk kasus penanganan nuklir Iran. Kini publik AS tahu, posisi AS hanyalah slogan semata.
Spiegel menyoroti dukungan penuh AS atas Israel. Meskipun negara ini dirundung masalah ekonomi, tetapi bantuan ekonomi bagi Israel terus mengalir.
Kabar baiknya, Spiegel mengungkapkan kekurangan kekuatan Partai Republik akan menguntungkan Obama untuk terpilih kembali menjadi presiden AS mendatang.
()