Intervensi bukan solusi bagi krisis Suriah

Selasa, 12 Juni 2012 - 14:46 WIB
Intervensi bukan solusi...
Intervensi bukan solusi bagi krisis Suriah
A A A
Sindonews.com - Jalur dialog adalah metode yang paling mungkin untuk diterapkan di Suriah. Dialog yang diterapkan bisa meniru model perdamaian yang telah dilakukan Yaman.

Seperti dikatakan oleh seorang peneliti dari Pusat Studi politik dan strategis Al-Ahram, Profesor Hassan Abu-Taleb, dikutip dari Xinhua, Selasa (12/6/2012).

Hassan mengatakan krisis Suriah merupakan titik balik bagi negeri itu. Ada tiga hal yang menjadi pertimbangan mengapa upaya dialog atau mediasi dinilai sebagai metode yang paling pas.

Kelompok oposisi di Suriah serupa dengan kelompok oposisi di Yaman. Kelompok oposisi Suriah sama sekali menolak bernegosiasi dengan pemerintah Presiden Bashar Al-Assad. Sementara itu kelompok oposisi Yaman meskipun menolak bernegosiasi namun mereka tetap melakukan tawar menawar dengan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh.

Berbeda dengan Yaman, kelompok pendukung Presiden Suriah takut kehilangan keuntungan yang selalu mereka dapat dari Assad dan mereka tidak ingin Assad digulingkan. Hassan mengatakan pendukung setia Assad bersedia menempuh cara ekstrem untuk mempertahankan Assad. Sementara di Yaman, selama masa transisi, kekuasan Presiden Saleh dialihkan ke wakilnya.

Ketiga, Yaman adalah negara miskin dan sangat tergantung akan bantuan ekonomi dari Arab Saudi dan negara teluk. Dalam mediasi posisi pemerintah Yaman lemah, dengam mudah presiden Yaman mengikuti anjuran Saudi Arabia dan negara teluk lainnya.

Secara geografis, posisi Suriah jauh lebih rumit. Negara tetangga Suriah masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda terhadap Suriah. Sulit untuk menemukan jalan keluar lewat dialog, karena negara di kawasan tidak satu suara terhadap Suriah.

Dalam dua minggu terakhir situasi di Suriah terus bergolak, aksi pembantaian dalam jumlah besar telah terjadi di Houla. Kejadian ini menjadi pemicu negara-negara di dunia satu suara membantu menyelesaikan masalah internal yang terjadi di Suriah. Berbagai cara telah ditempuh oleh masyarakat internasional selama 15 bulan guna membantu penyelesaian krisis yang terjadi di Suriah.

Mulai dari penekanan, pengiriman tim pemantau, pengiriman utusan perperdamian PBB dan Liga Arab. Sayangnya, belum ada metode sukses yang mampu menyelesaikan masalah tersebut.

Model penyelesaian konflik lewat intervensi seperti di Libya yang diajukan oleh Dewan Keamanan PBB diveto oleh China dan Rusia. Menurut Wakil Direktur Institut Studi Internasional Cina, Dong Manyuan intervensi militer akan membuat gelombang baru kerusuhan di Timur Tengah. Seperti yang sudah-sudah, intervensi akan menyebabkan Suriah menderita kerugian lebih besar, seperti di Irak.
()
Berita Terkini
IRGC: Serangan Balasan...
IRGC: Serangan Balasan ke Kuwait dan Bahrain Harus Jadi Pelajaran bagi AS
43 menit yang lalu
Iran Klaim Belum Gunakan...
Iran Klaim Belum Gunakan Semua Senjata Andalannya
1 jam yang lalu
Bebas dari Penjara,...
Bebas dari Penjara, Thaksin Shinawatra Dapat Pengampunan Raja Thailand
2 jam yang lalu
4 Alasan Iran Kini Lebih...
4 Alasan Iran Kini Lebih Siap Hadapi Serangan AS, Sudah Memahami Musuh
4 jam yang lalu
Selat Hormuz Berkecamuk,...
Selat Hormuz Berkecamuk, Turki Tawarkan Jalur Kereta Api Hejaz Modern
4 jam yang lalu
Rusia Intensifkan Serangan,...
Rusia Intensifkan Serangan, Sekjen NATO Justru Berkunjung ke Ukraina
5 jam yang lalu
Infografis
Profil 10 Pahlawan Nasional...
Profil 10 Pahlawan Nasional Tahun 2025 dan Jasanya bagi Negara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved