AS kucurkan Rp 368 miliar bagi korban kekerasan di Suriah
Jum'at, 11 Mei 2012 - 14:14 WIB
AS kucurkan Rp 368 miliar bagi korban kekerasan di Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Amerika Serikat (AS) peduli terhadap korban kekerasan di Suriah. Negeri Paman Sam mengalokasikan dana sebesar USD 40 juta atau sekitar Rp 368 miliar (USD 1=Rp 9.200).
"Pemerintah AS akan selalu memanfaatkan berbagai kesempatan dengan mengirimkan bantuan kepada mereka yang terkena dampak kekerasan. Secara diplomatik, mengamankan akses bagi bantuan kemanusiaan bagi para warga yang membutuhkan,"rilis Departemen Luar Negeri AS seperti diberitakan dalam Ria Novosti, Jumat (11/5/2012)
Dana bantuan itu digunakan untuk pengadaan makanan, air bersih, dan biaya perawatan kesehatan dan juga bantuan medis darurat. Departemen Luar Negeri AS juga memuji sikap pemerintah Lebanon, Yordania, Turki, dan Irak yang menjaga wilayah perbatasan negara mereka dari arus pengungsi Suriah.
Awal pekan ini, utusan perdamaian PBB dan Liga Arab, Kofi Annan mengatakan, aksi kekerasan di Suriah sudah berlangsung selama 14 bulan. Jika rencana yang telah disepakati oleh Annan dan Presiden Suriah tidak berjalan, ia khawatir aksi kekerasan akan berubah menjadi kekerasan sipil total.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan pemerintah Rusia tidak akan mengubah kebijakan terhadap Suriah. "Rusia akan terus mendukung Suriah meskipun tekanan masyarakat internasional terus meningkat," ungkap Lavrov.
Rusia akan tetap menjadi satu-satunya negara yang memveto resolusi PBB terhadap Suriah. Sebelumnya, Rusia bersama China keduanya memveto resolusi PBB untuk Suriah. China berubah sikap setelah melihat aksi kekerasan terus berlanjut meski PBB dan Liga Arab telah mengutus Annan.
"Pemerintah AS akan selalu memanfaatkan berbagai kesempatan dengan mengirimkan bantuan kepada mereka yang terkena dampak kekerasan. Secara diplomatik, mengamankan akses bagi bantuan kemanusiaan bagi para warga yang membutuhkan,"rilis Departemen Luar Negeri AS seperti diberitakan dalam Ria Novosti, Jumat (11/5/2012)
Dana bantuan itu digunakan untuk pengadaan makanan, air bersih, dan biaya perawatan kesehatan dan juga bantuan medis darurat. Departemen Luar Negeri AS juga memuji sikap pemerintah Lebanon, Yordania, Turki, dan Irak yang menjaga wilayah perbatasan negara mereka dari arus pengungsi Suriah.
Awal pekan ini, utusan perdamaian PBB dan Liga Arab, Kofi Annan mengatakan, aksi kekerasan di Suriah sudah berlangsung selama 14 bulan. Jika rencana yang telah disepakati oleh Annan dan Presiden Suriah tidak berjalan, ia khawatir aksi kekerasan akan berubah menjadi kekerasan sipil total.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan pemerintah Rusia tidak akan mengubah kebijakan terhadap Suriah. "Rusia akan terus mendukung Suriah meskipun tekanan masyarakat internasional terus meningkat," ungkap Lavrov.
Rusia akan tetap menjadi satu-satunya negara yang memveto resolusi PBB terhadap Suriah. Sebelumnya, Rusia bersama China keduanya memveto resolusi PBB untuk Suriah. China berubah sikap setelah melihat aksi kekerasan terus berlanjut meski PBB dan Liga Arab telah mengutus Annan.
()