Perang tiga hari, 70 tewas di Libya
Kamis, 29 Maret 2012 - 10:48 WIB
Perang tiga hari, 70 tewas di Libya
A
A
A
Sindonews.com – Tiga hari terlibat pertempuran di Shaba, Libya, membuat mantan tentara pemberontak dan kelompok etnis bersenjata Toubou kelelahan. Mereka pun sepakat untuk melakukan gencatan senjata Rabu malam waktu setempat.
Namun, beberapa bentrokan kecil antar kelompok ini dikabarkan kembali saling serang. Bentrokan antara mantan tentara pemberontak dan kelompok etnis bersenjata Toubou disebabkan karena seorang anggota mantan tentara pemberontak terbunuh pada Minggu 25 Maret lalu.
Sebanyak 70 orang dikabarkan tewas, sementara 150 orang dikabarkan mengalami luka-luka akibat bentrok selama tiga hari lalu. Juru bicara pemerintah Nasser al-Manaa mengatakan bahwa untuk menghentikan bentrokan pemerintah Libya telah menurunkan ratusan pasukan, upaya mediasi lebih lanjut antara kedua belah pihak sedang dilakukan.
Seorang pejabat di kota Shaba, Abdelmajid Seif al-Nasser mengatakan bahwa ia telah meletakkan jabatannya. Tindakan itu dilakukan sebagai langkah protes atas aksi kekerasan yang terjadi di wilayah Shaba.
"Saat ini tentara nasional dan komite golongan tua telah kembali memasuki kota, untuk mengamankan gencatan senjata. Masih ada bentrokan di Shaba tapi tidak intens," ungkap Nasser seperti diberitakan dalam BBC.co.uk, Kamis (29/3/2012)
NTC menghadapi tekanan sangat kuat dari beberapa kelompok militan di Libya. Beberapa suku Afrika Selatan seperti Toubou, yang tinggal di Libya merasa diperlakukan tidak adil oleh orang Arab yang tinggal di kota Libya dan berbagai wilayah pesisir. Keberadaan mereka cenderung mendominasi pemerintah dan pasukan keamanan.
Sementara itu, warga Libya mengira bahwa suku Toubou memiliki keterlibatan khusus dalam aksi penyelundupan imigran dari Afrika menuju Eropa yang melewati Libya.
Namun, beberapa bentrokan kecil antar kelompok ini dikabarkan kembali saling serang. Bentrokan antara mantan tentara pemberontak dan kelompok etnis bersenjata Toubou disebabkan karena seorang anggota mantan tentara pemberontak terbunuh pada Minggu 25 Maret lalu.
Sebanyak 70 orang dikabarkan tewas, sementara 150 orang dikabarkan mengalami luka-luka akibat bentrok selama tiga hari lalu. Juru bicara pemerintah Nasser al-Manaa mengatakan bahwa untuk menghentikan bentrokan pemerintah Libya telah menurunkan ratusan pasukan, upaya mediasi lebih lanjut antara kedua belah pihak sedang dilakukan.
Seorang pejabat di kota Shaba, Abdelmajid Seif al-Nasser mengatakan bahwa ia telah meletakkan jabatannya. Tindakan itu dilakukan sebagai langkah protes atas aksi kekerasan yang terjadi di wilayah Shaba.
"Saat ini tentara nasional dan komite golongan tua telah kembali memasuki kota, untuk mengamankan gencatan senjata. Masih ada bentrokan di Shaba tapi tidak intens," ungkap Nasser seperti diberitakan dalam BBC.co.uk, Kamis (29/3/2012)
NTC menghadapi tekanan sangat kuat dari beberapa kelompok militan di Libya. Beberapa suku Afrika Selatan seperti Toubou, yang tinggal di Libya merasa diperlakukan tidak adil oleh orang Arab yang tinggal di kota Libya dan berbagai wilayah pesisir. Keberadaan mereka cenderung mendominasi pemerintah dan pasukan keamanan.
Sementara itu, warga Libya mengira bahwa suku Toubou memiliki keterlibatan khusus dalam aksi penyelundupan imigran dari Afrika menuju Eropa yang melewati Libya.
()