Tak ada kesepakatan jika Iran terus ditekan
Kamis, 08 Maret 2012 - 15:07 WIB
Tak ada kesepakatan jika Iran terus ditekan
A
A
A
Sindonews.com - Tekanan yang terus dilakukan negara barat oleh Iran terkait pengayaan nuklirnya ditanggapi oleh perlemen Iran. Perundingan nuklir tidak akan menghasilkan kesepakatan jika Iran dalam posisi tertekan.
Seperti dilaporkan dalam TV lokal setempat, salah seorang angggota parlemen Iran, Ali Larijani mengatakan bahwa pembicaraan nuklir Iran akan tidak akan menghasilkan sebuah hasil yang produktif jika pihak barat terus menekan Iran.
"Jika pihak (Barat) menjadikan sanksi sebagai alat untuk menekan Iran dalam membuat kesepakatan dalam perundingan, maka negosiasi tidak akan menghasilkan keputusan apapun," ungkap Larinjani seperti dikutip dalam Xinhua Kamis (8/3/2012)
Beberapa hari yang lalu, Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengirimkan surat balasan ke Iran, melanjutkan perundingan tentang pengayaan nuklir.
“Kami berharap perundingan kali ini menjadi sebuah cara untuk menciptakan kemajuan dalam memecahkan masalah nuklir Iran," ungkap Ashton.
Meski bertekad melanjutkan negosiasi, Ashton mengatakan bahwa belum ada ketetapan waktu yang pasti kapan dimulainya lagi negosiasi itu.
Sementara itu, Juru Bicara kementrian Luar Negeri China mengatakan, bahwa China menyambut baik kemajuan positif yang telah diupayakan oleh masyarakat internasional dalam menyelesaikan masalah pengelolaan nuklir Iran.
Liu mengatakan bahwa Prancis, Inggris, Jerman, Cina, Rusia dan Amerika Serikat baru-baru ini mencapai konsensus dengan Iran pada melanjutkan perundingan terkait isu sengketa nuklir.
China akan selalu mengupayakan jalan damai untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran, melalui dialog. Liu mengetakan China telah melakukan upaya positif untuk mendorong dimulai kembali pembicaraan ini.
"Kami akan melakukan perundingan dengan lima anggota lain yang tergabung dalam kelompok enam, pembicaraan merupakan langkah awal untuk menciptakan pemulihan, menjaga keberlangsungan proses dialog dan menemukan langkah komprehensif dalam jangka panjang yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut,” ungkap Liu.
Sementara itu, Iran telah memberikan izin kepada inspektur Badan Energi Atom Internasional IAEA untuk melakukan investigasi ke kompleks Parchin, yang selama ini dituntut oleh IAEA.
Negara barat mengatakan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat pengujian fasilitas nuklir, sedangkan Iran mengatakan bahwa kawasan itu adalah kompleks militer, bukan fasilitas nuklir.(azh)
Seperti dilaporkan dalam TV lokal setempat, salah seorang angggota parlemen Iran, Ali Larijani mengatakan bahwa pembicaraan nuklir Iran akan tidak akan menghasilkan sebuah hasil yang produktif jika pihak barat terus menekan Iran.
"Jika pihak (Barat) menjadikan sanksi sebagai alat untuk menekan Iran dalam membuat kesepakatan dalam perundingan, maka negosiasi tidak akan menghasilkan keputusan apapun," ungkap Larinjani seperti dikutip dalam Xinhua Kamis (8/3/2012)
Beberapa hari yang lalu, Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengirimkan surat balasan ke Iran, melanjutkan perundingan tentang pengayaan nuklir.
“Kami berharap perundingan kali ini menjadi sebuah cara untuk menciptakan kemajuan dalam memecahkan masalah nuklir Iran," ungkap Ashton.
Meski bertekad melanjutkan negosiasi, Ashton mengatakan bahwa belum ada ketetapan waktu yang pasti kapan dimulainya lagi negosiasi itu.
Sementara itu, Juru Bicara kementrian Luar Negeri China mengatakan, bahwa China menyambut baik kemajuan positif yang telah diupayakan oleh masyarakat internasional dalam menyelesaikan masalah pengelolaan nuklir Iran.
Liu mengatakan bahwa Prancis, Inggris, Jerman, Cina, Rusia dan Amerika Serikat baru-baru ini mencapai konsensus dengan Iran pada melanjutkan perundingan terkait isu sengketa nuklir.
China akan selalu mengupayakan jalan damai untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran, melalui dialog. Liu mengetakan China telah melakukan upaya positif untuk mendorong dimulai kembali pembicaraan ini.
"Kami akan melakukan perundingan dengan lima anggota lain yang tergabung dalam kelompok enam, pembicaraan merupakan langkah awal untuk menciptakan pemulihan, menjaga keberlangsungan proses dialog dan menemukan langkah komprehensif dalam jangka panjang yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut,” ungkap Liu.
Sementara itu, Iran telah memberikan izin kepada inspektur Badan Energi Atom Internasional IAEA untuk melakukan investigasi ke kompleks Parchin, yang selama ini dituntut oleh IAEA.
Negara barat mengatakan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat pengujian fasilitas nuklir, sedangkan Iran mengatakan bahwa kawasan itu adalah kompleks militer, bukan fasilitas nuklir.(azh)
()