Somalia minta PBB akhiri embargo senjata
Selasa, 14 Februari 2012 - 13:25 WIB
Somalia minta PBB akhiri embargo senjata
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Somalia meminta Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakhiri keputusan embargo senjata terhadap Somalia. Permintaan ini dilakukan pemerintah Somalia supaya melawan kelompok militan Islam Al-Shabab.
Pemerintah Somalia mengeluarkan pernyataan resminya bahwa kawasan ini menjadi semakin tidak aman setelah kelompok militan Islam Al-Shabab bergabung dengan Al-Qaeda. Jika kondisi ini dibiarkan maka wilayah Somalia berpotensi menjadi basis jaringan teroris.
Pemerintah Somalia sendiri dijatuhi sanksi embargo sejak 1992, saat kondisi Somalia tidak stabil serta diwarnai konflik kekerasan yang meluas.
Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague angkat bicara soal pencabutan sanksi embargo senjata terhadap Somalia.
"Pencabutan embargo senjata akan semakin mempersulit keadaan. Saya menilai bahwa ini merupakan sebuah tindakan yang tidak bijaksana," ungkap Hague seperti dikutip dalam VOA english Senin (13/2/2012)
Hague akan membicarakan masalah ini dalam pertemuan PBB mendatang di London. Sementara Dewan Keamanan (DK) PBB mengatakan bahwa kelompok militan Al-Shabab dan Al-Qaeda mendapat pasokan senjata dari negara tetangganya Eritrea. Walaupun mendapat sanksi, namun aliran senjata ke Somalia terus mengalir.
"Apa yang kita lakukan adalah mencoba memastikan bahwa pasukan Uni Afrika dan PBB akan memperkuat pasukan Somalia, serta membantu mereka dalam urusan pendanaan untuk membiayai aktifitas mereka selama beberapa tahun ke depan," tandas Hague.
Saat di wawancara oleh wartawan VOA Somalia, Salah seorang pemimpin kelompok militan Al-Shabab, Sheikh Mohamed Osman Arous mengatakan bahwa penggabungan antara Al-Shabab dan Al-Qaeda merupakan kewajiban Islam.
"Kelompok muslim saling berbagi di manapun. Setiap muslim dari manapun ia berasal merupakan saudara dan kita harus bersatu," kata Osman.
Kelompok ini memegang kendali di wilayah selatan dan tengah Somalia. Sementara itu, aktifitas mereka di Somalia Selatan mendapat perlawanan dari pasukan Kenya.
Baru-baru ini pasukan Uni Afrika berhasil mengusir keberadaan mereka dari pusat Kota Somalia. Akan tetapi, aktifitas penyerangan aksi bom bunuh diri masih terus berlanjut.(azh)
Pemerintah Somalia mengeluarkan pernyataan resminya bahwa kawasan ini menjadi semakin tidak aman setelah kelompok militan Islam Al-Shabab bergabung dengan Al-Qaeda. Jika kondisi ini dibiarkan maka wilayah Somalia berpotensi menjadi basis jaringan teroris.
Pemerintah Somalia sendiri dijatuhi sanksi embargo sejak 1992, saat kondisi Somalia tidak stabil serta diwarnai konflik kekerasan yang meluas.
Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague angkat bicara soal pencabutan sanksi embargo senjata terhadap Somalia.
"Pencabutan embargo senjata akan semakin mempersulit keadaan. Saya menilai bahwa ini merupakan sebuah tindakan yang tidak bijaksana," ungkap Hague seperti dikutip dalam VOA english Senin (13/2/2012)
Hague akan membicarakan masalah ini dalam pertemuan PBB mendatang di London. Sementara Dewan Keamanan (DK) PBB mengatakan bahwa kelompok militan Al-Shabab dan Al-Qaeda mendapat pasokan senjata dari negara tetangganya Eritrea. Walaupun mendapat sanksi, namun aliran senjata ke Somalia terus mengalir.
"Apa yang kita lakukan adalah mencoba memastikan bahwa pasukan Uni Afrika dan PBB akan memperkuat pasukan Somalia, serta membantu mereka dalam urusan pendanaan untuk membiayai aktifitas mereka selama beberapa tahun ke depan," tandas Hague.
Saat di wawancara oleh wartawan VOA Somalia, Salah seorang pemimpin kelompok militan Al-Shabab, Sheikh Mohamed Osman Arous mengatakan bahwa penggabungan antara Al-Shabab dan Al-Qaeda merupakan kewajiban Islam.
"Kelompok muslim saling berbagi di manapun. Setiap muslim dari manapun ia berasal merupakan saudara dan kita harus bersatu," kata Osman.
Kelompok ini memegang kendali di wilayah selatan dan tengah Somalia. Sementara itu, aktifitas mereka di Somalia Selatan mendapat perlawanan dari pasukan Kenya.
Baru-baru ini pasukan Uni Afrika berhasil mengusir keberadaan mereka dari pusat Kota Somalia. Akan tetapi, aktifitas penyerangan aksi bom bunuh diri masih terus berlanjut.(azh)
()