Italia krisis gas, korban terus berjatuhan

Rabu, 08 Februari 2012 - 08:32 WIB
Italia krisis gas, korban...
Italia krisis gas, korban terus berjatuhan
A A A
Sindonews.com - Cuaca dingin di Eropa belum juga berlalu dan terus menelan korban jiwa. Sepanjang Senin 6 Februari 2012, cuaca buruk itu telah menewaskan 33 orang di seluruh penjuru daratan Benua Biru itu. Sebelumnya diberitakan, lebih dari 300 orang tewas akibat cuaca ekstrem ini.

Cuaca dingin ini juga menyebabkan permintaan gas melonjak. Suplai gas yang sempat tersendat dari Rusia ke Uni Eropa telah membaik pada akhir pekan lalu,namun belum sepenuhnya pulih. Bulgaria, Slovakia, Austria, Hongaria, Polandia, dan Yunani telah mendapatkan level impor gas normal. Suplai ke Rumania, Jerman, dan Italia meningkat meski belum sepenuhnya pulih.

Meski Uni Eropa menyatakan situasi saat ini belum kritis, di Italia permintaan gas meningkat dalam enam hari berturut- turut dan situasi itu telah dinyatakan kritis. Paolo Scaroni, Kepala Eksekutif Eni, memaparkan, langkah yang diambil pemerintah bisa meningkatkan pasokan gas menjadi 8- 9 persen konsumsi normal.

”Saya kira semua akan kembali normal akhir pekan depan,” kata Scaroni kemarin.
Italia, yang mengonsumsi sekitar 78 miliar kubik meter (bcm) gas pada 2010, menggantungkan 90 persen konsumsi gas pada impor.

Pada 2010 mereka mengimpor sekitar 22 bcm dari Rusia dan sekitar 25 bcm dari Aljazair. Gas yang diimpor dari Libya baru saja kembal beroperasi setelah terhenti akibat konflik di negara itu. Menurut data dari operator jalur gas Italia, Snam, jumlah gas yang masuk ke jaringan mereka pada Senin lalu mencapai hampir 20 persen kurang dari jumlah yang diminta.

”Ketergantungan Italia pada impor (gas) adalah masalah dan tekanan Rusia jelas ujian.Tapi, itu belum mendekati dramatis seperti masa lalu ketika gas impor Rusia dipangkas,” papar Davide Tarabelli, kepala lembaga think-tank energi, Nomisma Energia. Krisis gas Rusia-Ukraina pada musim dingin 2006 membunyikan alarm di seluruh Eropa dan memaksa Italia membuka cadangan strategis. Krisis pada 2009 juga berdampak sama.

Sementara itu, meski suhu telah berangsur naik dan salju mencair, ancaman banjir muncul setelah salju yang mulai mencair menyebabkan tembok sebuah bendungan jebol. Akibat itu, sebuah desa di selatan Bulgaria terendam banjir. Kejadian itu menyebabkan empat orang tewas dan lebih dari 50 lainnya harus dievakuasi. ”Rumah-rumah hancur dan warga mengalami stres,” ungkap Kementerian Dalam Negeri Bulgaria, seperti dikutip Reuters.

Bulgaria memperingatkan dua negara tetangganya, Yunani dan Turki,bahwa air di dua bendungan lainnya diperkirakan akan meluap. Cuaca dingin itu telah menewaskan ratusan orang di Eropa. Dalam 24 jam terakhir sembilan orang tewas di Polandia sehingga total korban tewas di negara itu mencapai 62 orang sejak akhir Januari lalu. Di kawasan Dalmatia, Kroasia, lebih dari 100 desa terkucil akibat salju di Pantai Adriatic. Di negara itu dilaporkan empat orang tewas akibat cuaca dingin.

Sedikitnya 10 orang tewas di Serbia,dan Montenegro melaporkan korban tewas kedua mereka. Meteorolog memperkirakan suhu akan turun pada malam hari. Di negara itu sedikitnya 20 orang tewas akibat cuaca dingin.(azh)
()
Berita Terkini
Dunia Segara Akan Dengar...
Dunia Segara Akan Dengar Gema Kemenangan Iran
11 menit yang lalu
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
1 jam yang lalu
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
2 jam yang lalu
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
2 jam yang lalu
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
4 jam yang lalu
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
5 jam yang lalu
Infografis
Krisis Kepercayaan pada...
Krisis Kepercayaan pada F-35 Dorong Eropa Kembangkan Jet Tempur Gen 6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved