AS minta Presiden Suriah lengser

Rabu, 18 Januari 2012 - 09:46 WIB
AS minta Presiden Suriah...
AS minta Presiden Suriah lengser
A A A
Sindonews.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengutuk aksi kekerasan yang terjadi di Suriah sebagai sebuah kejahatan yang tidak dapat diterima. Obama bersumpah untuk meningkatkan tekanan kepada Presiden Suriah Bashar al Assad untuk turun dari jabatannya.

Saat bertemu dengan Raja Jordania King Abdullah II di Jordania, Selasa 17 Januari 2012, Presiden Barak Obama menuturkan perasaannya atas masalah yang terjadi di Suriah.

"Sangat disayangkan jika kita harus terus menyaksikan sebuah aksi kejahatan yang tidak dapat diterima di dalam Suriah," ungkap Obama seperti dikutip Xinhuanet, Rabu (18/1/2012).

AS akan terus berkonsultasi lebih mendalam dengan Jordania untuk menciptakan sebuah tekanan internasional yang mampu menyingkirkan rezim Suriah, sehingga berlangsung sebuah rezim yang lebih demokratis di Suriah.

Dalam kesempatan kali itu Obama juga memuji King Abdullah II sebagai seorang pemimpin pertama yang meminta Presiden Bashar al Assad untuk turun dari jabatannya.

"Saya berterima kasih kepada Anda karena berani mengambil tindakan tersebut kepada Pemerintah Suriah," ucap Obama.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Obama juga membicarakan pentingnya posisi AS dan Jordania ke depan. Jordania dan AS bertindak sebagai penasihat yang mendorong Palestina dan Israel untuk terus melanjutkan keseriusan dalam negosiasi perdamaian.

"Meskipun perundingan damai antara keduanya masih berada dalam tahap awal, namun kita harus menjaga agar tidak terjadi perselisihan pendapat. Saya berharap agar perundingan ini dapat membawa Isreal dan Palestina keluar dari kebuntuan masalah ini," ungkap Raja Abdullah II.

Jordania bertindak sebagai penyelenggara perundingan damai antara Israel dan Palestina. Perundingan damai yang dimulai sejak 3 Januari 2012 telah berlangsung sebanyak tiga kali.

Sebelumnya, perundingan damai antara Israel dan Palestina tengah berada dalam kebuntuan. Namun, kembali dilanjutkan setelah AS, Uni Eropa, Rusia dan PBB berusaha untuk memulai kembali perundingan perdamaian yang tersendat.(azh)

()
Berita Terkini
Trump: Pasukan AS Segera...
Trump: Pasukan AS Segera Serang Lokasi Gunung Pickaxe Iran dengan Sangat Hebat
39 menit yang lalu
6 Misi Pasukan Khusus...
6 Misi Pasukan Khusus yang Memicu Malapetaka, 2 Negara Adidaya Pernah Tumbang
2 jam yang lalu
Iran Lebih Suka Bombardir...
Iran Lebih Suka Bombardir Negara-negara Arab Dibandingkan Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya
3 jam yang lalu
4 Operasi Militer Berani...
4 Operasi Militer Berani yang Berakhir Bencana, dari Invasi Teluk Babi hingga Cakar Elang
5 jam yang lalu
Mediator Usulkan Gencatan...
Mediator Usulkan Gencatan Senjata 10 Hari untuk Hidupkan Lagi Kesepakatan AS-Iran
8 jam yang lalu
Seorang Tentara AS Tewas...
Seorang Tentara AS Tewas di Irak Saat Buang Amunisi Drone Iran yang Jatuh
9 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved