Kritik Lewat Akun Twitter-nya, Trump Sebut WHO Benar-Benar Gagal

Kamis, 09 April 2020 - 10:29 WIB
Kritik Lewat Akun Twitter-nya,...
Kritik Lewat Akun Twitter-nya, Trump Sebut WHO Benar-Benar Gagal
A A A
NEW YORK - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik WHO (Badan Kesehatan Dunia) terlalu berpusat pada China saat penanganan virus corona . Padahal AS merupakan penyokong dana utama bagi WHO.

“W.H.O benar-benar gagal,” kata Trump dalam ciutannya pada akun Twitter-nya. “Untuk beberapa alasan, dana besar dari AS, tetapi terlalu fokus pada China. Kita akan mendapatkan pandangan baik. Untungnya, saya menolak nasihat mereka untuk membuka perbatasan dengan China. Kenapa mereka memberikan kita rekomendasi yang salah?” kritik Trump.

Trump mengulangi tuduhannya terhadap organisasi kesehatan PBB saat konferensi pers pada Selasa waktu setempat. “Mereka (WHO) menyebutkan itu sebagai hal yang salah. Mereka benar-benar mengabaikan panggilan,” ujar Trump. Padahal, kata Trump, AS menyokong dana yang besar bagi WHO. Seharusnya, menurut Trump, AS yang memiliki kekuasaan penuh terhadap WHO.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric menolak kritik tajam terhadap WHO yang dipimpin Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus. “Bagi Sekjen PBB (Antonio Guterres), sangat jelas bahwa WHO di bawah kepemimpinan Tedros telah melakukan pekerjaan hebat dalam penanganan Covid-19. WHO mengirimkan peralatan ke negara yang membutuhkan dan melakukan pelatihan,” kata Dujarric dilansir Reuters. (Baca: Disebut China Sentris oleh Trump, Ini Respons WHO)

Senator asal Republik Lindsey Graham yang merupakan sekutu dekat Trump, berjanji tidak akan memberikan dana bagi WHO pada persetujuan undang-undang dan anggaran mendatang. “Saya tidak akan mendukung pendanaan WHO di bawah kepemimpinan saat ini. Mereka mengecewakan, mereka lamban, dan mereka terlalu berpihak pada China,” kata Graham dalam wawancara dengan Fox News Channel.

Pada 31 Januari lalu, WHO meminta negara-negara tetap membuka perbatasan di tengah wabah. Namun, mereka tetap membiarkan negara yang memilih menutup perbatasan dengan China untuk melindungi penduduknya. Pada saat yang sama, Trump sudah memperketat bepergian ke China.

Partai Konservatif AS mengkritik WHO dalam penanganan pandemi global ini. Mereka menyebut WHO terlalu bergantung pada data yang salah dari China. Pekan lalu, Senator asal Republik Marco Rubio, menyerukan pengunduran diri Tedros. “Dia (Tedros) mengizinkan Beijing menggunakan WHO untuk menjerumuskan komunitas global,” ujar Rubio.

Angka kematian pasien virus korona (Covid-19) di Kota New York, Amerika Serikat (AS) mencatat rekor tertinggi. Sedikitnya 800 orang tewas dalam 24 jam terakhir.

Hal itu diungkapkan Johns Hopkins University (JHU) kemarin. Menurut JHU, jumlah korban tewas akibat Covid-19 di AS mencapai 1.858 orang dalam satu hari. Angka itu menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

Otoritas terkait AS menyatakan wabah Covid-19 telah memasuki masa puncak bulan ini. Dengan screening yang lebih agresif dan masif, mereka berharap dapat mencegah penyebaran Covid-19 agar tidak meluas ke wilayah yang lain.

Gubernur New York Andrew Cuomo juga mendesak warganya agar mematuhi arahan petugas kesehatan, disiplin, dan tidak melanggar peraturan lockdown, kecuali darurat. Pasalnya, rumah sakit (RS) di New York telah kebanjiran pasien Covid-19.

"Kita harus pintar dan selalu menjaga diri. Salah satunya dengan selalu tinggal di rumah," ujar Cuomo, dikutip CNN. Sampai berita ini diturunkan, secara keseluruhan, total korban tewas akibat Covid-19 di AS mencapai 12.800 orang.

"Jika kita mampu menerapkan sistem jaga jarak dengan sangat baik, tingkat penularan kemungkinan akan melambat," kata Cuomo. "Saya bangga dengan mereka yang sudah membantu petugas kesehatan dengan tinggal di rumah dan melakukan mitigasi bencana," tambahnya. (Baca juga: Trump Akan 'Tahan' Dana untuk WHO)

Ahli bedah Dr Jerome Adams menilai sistem pengendalian dan pencegahan penyakit itu berjalan dengan baik dan memberikan hasil memuaskan. Dia memuji upaya keras pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat yang patuh terhadap peraturan.

"Saya sering mengatakannya berulang kali. Namun, California dan Washington memang patut kita apresiasi dan teladani karena mereka mampu berjalan beriringan dalam menangani wabah Covid-19. Hal itu benar-benar sulit dilaksanakan pada saat-saat genting seperti ini," tandas Adams. (Muh Shamil)
(ysw)
Berita Terkait
Laboratorium Virus Wuhan...
Laboratorium Virus Wuhan Punya 3 Jenis Virus Corona
Wabah Virus Corona di...
Wabah Virus Corona di Wuhan Diduga Terjadi Awal Agustus
Virus Corona di Italia...
Virus Corona di Italia Terus Menyebar
Cerita Dokter China...
Cerita Dokter China yang Temukan Virus Corona di Wuhan
Hampir 5.500 Tentara...
Hampir 5.500 Tentara AS Terinfeksi Virus Covid-19
Bos Laboratorium Wuhan:...
Bos Laboratorium Wuhan: Asal Virus Corona Bukan dari Kami
Berita Terkini
Kehancuran Israel Bukan...
Kehancuran Israel Bukan dari Musuh Asing! Mayoritas Warga Zionis Takut Terjadi Perang Saudara
42 menit yang lalu
5 Pemakaman Tokoh Dunia...
5 Pemakaman Tokoh Dunia dengan Biaya Fantastis, Ada yang Capai Rp14,4 Triliun
1 jam yang lalu
Setelah 2 Dekade, Hamas...
Setelah 2 Dekade, Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan Gaza
5 jam yang lalu
Israel Ingin Bangun...
Israel Ingin Bangun Kekuatan Militer di Gaza, Hamas: Zionis Ingin Pecah Belah Rakyat Palestina
6 jam yang lalu
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
7 jam yang lalu
10 Pemakaman Pemimpin...
10 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Jutaan Rakyat, Rekor Khomeini Belum Terpecahkan
8 jam yang lalu
Infografis
Elon Musk Kembali Ambil...
Elon Musk Kembali Ambil Paksa Akun Twitter Milik Orang Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved