Virus Corona Mulai Mewabah di Eropa, Puluhan Kota di Italia Diisolasi
Senin, 24 Februari 2020 - 10:03 WIB
Virus Corona Mulai Mewabah di Eropa, Puluhan Kota di Italia Diisolasi
A
A
A
ROMA - Virus corona telah mewabah ke Eropa karena Italia mengumumkan serangkaian langkah luar biasa untuk menangkal penyebaran wabah virus corona. Warga dari puluhan kota di Italia diisolasi seiring dengan jumlah korban kasus virus corona mencapai 79 kasus dan dua warganya meninggal dunia. Itu menjadikan kekhawatiran bahwa wabah virus corona akan menyebar ke Eropa.
Puluhan kota di kawasan utara Lombardy dan Veneto secara efektif akan dikarantina. Sekitar 50.000 orang di kota tersebut telah diminta untuk tetap tinggal di rumah oleh otoritas lokal. “Penduduk kota tersebut tidak boleh keluar di wilayah wabah dan orang dilarang masuk ke kawasan tersebut,” kata Perdana Menteri (PM) Italia Giuseppe Conte dilansir BBC.
Semua sekolah dan aktivitas olahraga di kawasan itu juga dibatalkan, termasuk beberapa pertandingan sepak bola Seri A yang dilaksanakan kemarin. Polisi dan tentara akan dilibatkan untuk menjamin peraturan tersebut ditegakkan.
Otoritas Italia khawatir virus tersebut akan meluas di luar wilayah yang terisolasi di Lombardy dan Veneto sehingga menyebabkan sulit untuk menangkalnya. “Keganasan virus itu sangat kuat,” kata Kepala Otoritas Kesehatan Lombardy, Giulio Gallera.
Virus korona awalnya berkembang di Hubei tahun lalu dan telah menyebar ke-26 negara. Sebanyak 1.400 kasus dan 11 kematian dilaporkan di luar China. Otoritas kesehatan China melaporkan penurunan jumlah korban tewas dan kasus baru, yakni 76.392 kasus dan 2.348 kematian di China. “Yang menjadi perhatian adalah negara dengan sistem kesehatan yang lemah, khususnya di Afrika,” kata Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Sementara itu, Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengungkapkan jumlah kasus virus korona baru di negara mereka telah berlipat ganda dalam sehari. Para pejabat pemerintah menyebut 229 kasus baru telah dikonfirmasi sejak Jumat (21/2) sehingga totalnya mencapai 433 kasus.
“Situasi di Korsel sangat serius,” kata PM Korsel Chung Sye-kyun.
PM Chung meminta semua orang di Korsel untuk menghindari kumpulan massa, termasuk acara keagamaan. “Pemerintah meyakini situasi infeksi Covid-19 berubah menjadi fase yang amat serius, dan kini mengerahkan segala upaya untuk mencegah penyebarannya,” kata PM Chung. Dia menambahkan, pemerintah akan menindak siapa pun yang menimbun masker atau ikut ambil bagian pawai massa.
Sebagian dari kasus-kasus baru ini berkaitan dengan sebuah rumah sakit dan sebuah sekte keagamaan dekat Kota Daegu. Sejauh ini sebanyak dua pasien telah meninggal dunia dan dikhawatirkan jumlahnya akan terus bertambah. Daegu dan Cheongdolokasi rumah sakit tersebut—sudah dinyatakan sebagai “zona perawatan khusus” dan amat sedikit penduduk yang berada di jalan-jalan Kota Daegu.
Korsel kini adalah negara kedua dengan jumlah pasien virus korona baru terbanyak setelah China. Lokasi dengan jumlah kasus terbanyak ketiga adalah kapal pesiar Diamond Princess yang berada di Pelabuhan Yokohama, Jepang, dengan lebih dari 600 kasus.
Dalam pernyataannya, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea (KCDC) menyatakan dari 229 kasus baru, 95 di antaranya terkait dengan RS Daenam di Cheongdo yang merawat kaum lansia dan pasien dengan gangguan jiwa. Di rumah sakit itu kini terdapat 114 kasus yang sudah dipastikan, sembilan staf rumah sakit dan 102 pasien.
“Wabah virus korona telah memasuki fase baru yang serius,” kata Wakil Menteri Kesehatan Korsel, Kim Gang-lip.
Dia mengungkapkan, mereka yang didiagnosis positif mengidap Covid-19 merupakan pasien gangguan jiwa. “Tidak jelas bagaimana mereka bisa tertular virus tersebut,” katanya.
Seorang pria 63 tahun meninggal dunia di rumah sakit itu pada Rabu (19/0) dan seorang pasien lainnya juga meninggal pada Jumat (21/2) di Busan setelah dipindahkan dari RS Daenam.
KCDC menyebut sebanyak 62 kasus baru, total 231 kasus, berkaitan dengan sebuah sekte Kristen di Daegu bernama Shincheonji Church of Jesus. Aparat mencatat banyak pengikut sekte itu menghadiri acara pemakaman saudara laki-laki pendiri sekte pada 31 Januari hingga 2 Februari lalu. KCDC mengatakan telah menempatkan 9.336 anggota sekte Shincheonji di karantina mandiri dan lebih dari 500 orang sudah dites virus korona. (Andika H Mustaqim)
Puluhan kota di kawasan utara Lombardy dan Veneto secara efektif akan dikarantina. Sekitar 50.000 orang di kota tersebut telah diminta untuk tetap tinggal di rumah oleh otoritas lokal. “Penduduk kota tersebut tidak boleh keluar di wilayah wabah dan orang dilarang masuk ke kawasan tersebut,” kata Perdana Menteri (PM) Italia Giuseppe Conte dilansir BBC.
Semua sekolah dan aktivitas olahraga di kawasan itu juga dibatalkan, termasuk beberapa pertandingan sepak bola Seri A yang dilaksanakan kemarin. Polisi dan tentara akan dilibatkan untuk menjamin peraturan tersebut ditegakkan.
Otoritas Italia khawatir virus tersebut akan meluas di luar wilayah yang terisolasi di Lombardy dan Veneto sehingga menyebabkan sulit untuk menangkalnya. “Keganasan virus itu sangat kuat,” kata Kepala Otoritas Kesehatan Lombardy, Giulio Gallera.
Virus korona awalnya berkembang di Hubei tahun lalu dan telah menyebar ke-26 negara. Sebanyak 1.400 kasus dan 11 kematian dilaporkan di luar China. Otoritas kesehatan China melaporkan penurunan jumlah korban tewas dan kasus baru, yakni 76.392 kasus dan 2.348 kematian di China. “Yang menjadi perhatian adalah negara dengan sistem kesehatan yang lemah, khususnya di Afrika,” kata Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Sementara itu, Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengungkapkan jumlah kasus virus korona baru di negara mereka telah berlipat ganda dalam sehari. Para pejabat pemerintah menyebut 229 kasus baru telah dikonfirmasi sejak Jumat (21/2) sehingga totalnya mencapai 433 kasus.
“Situasi di Korsel sangat serius,” kata PM Korsel Chung Sye-kyun.
PM Chung meminta semua orang di Korsel untuk menghindari kumpulan massa, termasuk acara keagamaan. “Pemerintah meyakini situasi infeksi Covid-19 berubah menjadi fase yang amat serius, dan kini mengerahkan segala upaya untuk mencegah penyebarannya,” kata PM Chung. Dia menambahkan, pemerintah akan menindak siapa pun yang menimbun masker atau ikut ambil bagian pawai massa.
Sebagian dari kasus-kasus baru ini berkaitan dengan sebuah rumah sakit dan sebuah sekte keagamaan dekat Kota Daegu. Sejauh ini sebanyak dua pasien telah meninggal dunia dan dikhawatirkan jumlahnya akan terus bertambah. Daegu dan Cheongdolokasi rumah sakit tersebut—sudah dinyatakan sebagai “zona perawatan khusus” dan amat sedikit penduduk yang berada di jalan-jalan Kota Daegu.
Korsel kini adalah negara kedua dengan jumlah pasien virus korona baru terbanyak setelah China. Lokasi dengan jumlah kasus terbanyak ketiga adalah kapal pesiar Diamond Princess yang berada di Pelabuhan Yokohama, Jepang, dengan lebih dari 600 kasus.
Dalam pernyataannya, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea (KCDC) menyatakan dari 229 kasus baru, 95 di antaranya terkait dengan RS Daenam di Cheongdo yang merawat kaum lansia dan pasien dengan gangguan jiwa. Di rumah sakit itu kini terdapat 114 kasus yang sudah dipastikan, sembilan staf rumah sakit dan 102 pasien.
“Wabah virus korona telah memasuki fase baru yang serius,” kata Wakil Menteri Kesehatan Korsel, Kim Gang-lip.
Dia mengungkapkan, mereka yang didiagnosis positif mengidap Covid-19 merupakan pasien gangguan jiwa. “Tidak jelas bagaimana mereka bisa tertular virus tersebut,” katanya.
Seorang pria 63 tahun meninggal dunia di rumah sakit itu pada Rabu (19/0) dan seorang pasien lainnya juga meninggal pada Jumat (21/2) di Busan setelah dipindahkan dari RS Daenam.
KCDC menyebut sebanyak 62 kasus baru, total 231 kasus, berkaitan dengan sebuah sekte Kristen di Daegu bernama Shincheonji Church of Jesus. Aparat mencatat banyak pengikut sekte itu menghadiri acara pemakaman saudara laki-laki pendiri sekte pada 31 Januari hingga 2 Februari lalu. KCDC mengatakan telah menempatkan 9.336 anggota sekte Shincheonji di karantina mandiri dan lebih dari 500 orang sudah dites virus korona. (Andika H Mustaqim)
(ysw)