Gibka-S, Senjata Anti-Drone Terbaru Rusia

Minggu, 23 Februari 2020 - 23:00 WIB
Gibka-S, Senjata Anti-Drone...
Gibka-S, Senjata Anti-Drone Terbaru Rusia
A A A
MOSKOW - Rusia terus memperkuat pertahanan mereka. Terbaru, Moskow baru saja sukses menguji coba Gibka-S, sistem pertahanan udara yang bertugas untuk melumpuhkan pesawat nir-awak atau drone.

Melansir RBTH, Gibka-S merupakan integrasi dari sistem pertahanan udara portabel manusia, yang digunakan dalam pertempuran oleh infanteri, dengan kendaraan lapis baja Tiger.

Satu peleton Gibka-S terdiri dari hingga enam kendaraan tempur dengan peluncur rudal bawaan, ditambah kendaraan pengintai dan pengontrol senjata yang ditempatkan di barisan sebagai bagian dari komando kelompok.

Gibka-S mendeteksi musuh di udara dengan kecepatan hingga 700 meter perdetik dalam radius hingga 40 kilometer dan ketinggian hingga 10 kilometer. Deteksi itu ditangani oleh optik elektronik Garmon kompleks, yang terintegrasi ke dalam "otak" sistem tersebut.

Mesin ini berbasis kecerdasan buatan, yang memungkinkannya untuk membedakan target dan nontarget di sekitarnya secara terpisah, melakukan penguncian, dan kemudian menunggu perintah manusia untuk menghancurkannya.

Senjata ini juga dapat menerima koordinat target dari instalasi dan pusat radar yang lebih kuat, dan menyampaikan seluruh situasi taktis di darat kepada operator manusia. Setiap kendaraan lapis baja Tiger dapat dipasangkan hingga empat peluncur rudal Igla dan Verba di atasnya.

Sistem ini dirancang untuk menjatuhkan pesawat, helikopter, dan drone yang terbang rendah dengan pemandu infra merah yang dapat menyasar target hingga jarak enam kilometer.

Victor Murakhovsky, pakar senjata yang juga merupakan Pemimpin Redaksi majalah Arsenal of the Fatherland, mengatakan sistem pertahanan udara seperti Pantsir-S1, S-400, Tor-M2, Buk, dan lainnya dibangun untuk menghancurkan pesawat tempur, pengebom, rudal jelajah, dan sejenisnya. Senjata-senjata ini adalah sistem berbiaya tinggi dengan rudal mahal yang ditujukan untuk melumpuhkan sistem mahal lainnya.

"Oleh karena itu, pasukan yang bergerak membutuhkan senjata efektif yang murah untuk melenyapkan ancaman selusin drone kecil, yang dalam dekade mendatang akan berubah menjadi detasemen yang terkoordinasi," ucapnya.

Menurutnya, saat ini para insinyur tengah berkutat mengerjakan kecerdasan buatan yang akan dapat secara bersamaan mengendalikan dan mengoordinasikan serangan dari puluhan drone.
(esn)
Berita Terkait
Para Pemimpin UE Siapkan...
Para Pemimpin UE Siapkan Sanksi Keras ke Rusia
Militer Rusia Kembali...
Militer Rusia Kembali Bombardir Fasilitas Utama di Ukraina
Rudal Rusia Hantam Pasar...
Rudal Rusia Hantam Pasar di Ukraina, 16 Orang Tewas
Pertempuran Sengit di...
Pertempuran Sengit di Mariupol, Pejuang Chechnya bunuh Pasukan Asing
Begini Momen saat Pesawat...
Begini Momen saat Pesawat Canggih Rusia SU-35S Hancurkan Markas Militer Ukraina dengan Rudal
Roket Uragan Rusia Hantam...
Roket Uragan Rusia Hantam Apartemen di Kota Chasiv Yar, 10 Tewas dan Puluhan Lain Tertimbun
Berita Terkini
Dipaksa Akui Israel...
Dipaksa Akui Israel untuk Kesepakatan Nuklir, Akankah Saudi Merapat ke China dan Pakistan?
1 jam yang lalu
Trump Tiba-tiba Ganti...
Trump Tiba-tiba Ganti Pesawat karena Takut Dibunuh usai KTT NATO di Turki
1 jam yang lalu
Memanas, Kuwait dan...
Memanas, Kuwait dan Bahrain Lancarkan Serangan Udara ke Iran
3 jam yang lalu
Viral Video Trump Pingsan...
Viral Video Trump Pingsan dan Terduduk Lemas saat Mau Masuk Limusin
3 jam yang lalu
Trump Ungkap Iran Sedang...
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
4 jam yang lalu
Jaksa ICC Karim Khan...
Jaksa ICC Karim Khan Dicopot dari Jabatannya atas Tuduhan Pelecehan Seksual Bermotif Politik
6 jam yang lalu
Infografis
Profil Nanik S Deyang,...
Profil Nanik S Deyang, Kepala BGN Pengganti Dadan Hindayana
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved