Putin dan Erdogan Terus Kontak, Tapi Tak Ada Perdamaian di Idlib

Sabtu, 22 Februari 2020 - 08:47 WIB
Putin dan Erdogan Terus...
Putin dan Erdogan Terus Kontak, Tapi Tak Ada Perdamaian di Idlib
A A A
DAMASKUS - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terus mengintensifkan pembicaraan tentang krisis Idlib, Suriah, melalui telepon. Namun, sejauh ini tidak ada tanda-tanda perdamaian di wilayah tersebut.

Sebaliknya, pasukan Moskow dan Ankara justru sama-sama siaga di Provinsi Idlib. Baru-baru ini pesawat-pesawat tempur Rusia membombardir kelompok militan pro-Turki di Idlib. Serangan udara itu juga menewaskan dua tentara Ankara dan menyebabkan beberapa tentara lainnya terluka.

"Putin menyatakan keprihatinan serius tentang tindakan agresif kelompok ekstremis yang sedang berlangsung, dan menekankan perlunya penghormatan tanpa syarat terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Suriah," kata Kremlin yang menyimpulkan percakapan telepon Putin dan Erdogan pada hari Jumat.

"Moskow dan Ankara sepakat untuk mengintensifkan konsultasi antarlembaga bilateral tentang Idlib, bersama dengan kontak militer yang intensif," lanjut Kremlin, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (22/2/2020).

Tidak jelas bagaimana kesepakatan pembicaraan kedua pemimpin itu akan diterjemahkan di Idlib, tempat Turki mengirim pasukan dan tank-tank tempur. (Baca: Jet-jet Tempur Su-24 Rusia Gempur Teroris Pro-Turki di Idlib Suriah )

Keterangan Ankara yang diberikan kepada media Turki mengatakan bahwa Erdogan menyampaikan kepada Putin bahwa tindakan rezim (pemerintah Presiden Bashar) al-Assad dan konsekuensi krisis kemanusiaan harus dihentikan di Idlib.

Berbicara kepada wartawan di Istanbul menjelang panggilan telepon dengan Putin, pemimpin Turki itu mengatakan tidak akan ada gencatan senjata kecuali pasukan Suriah menghentikan kekejamannya.

"Kecuali jika rezim menghentikan penganiayaan terhadap orang-orang Idlib pada titik ini, tidak mungkin (pasukan Turki) untuk menarik diri dari sana," kata Erdogan, yang dilansir Daily Sabah.

Idlib adalah benteng terakhir yang tersisa dari kelompok-kelompok militan yang pernah berusaha untuk menggulingkan pemerintah Suriah. Mereka dilaporkan mendapat dukungan dari Turki, Arab Saudi dan Barat. Kekuatan dominan di provinsi ini adalah Hayat Tahrir as-Sham (HTS), kelompok afiliasi al-Qaeda yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhat al-Nusra.

Selama sebulan terakhir, tentara Suriah telah memberikan serangkaian kekalahan kepada kelompok militan dan merebut kembali pinggiran kota Aleppo.

Turki merespons dengan mengirim pasukan dan senjata ke provinsi itu dan membuat pos-pos pengamatan yang didirikan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata. Sedangkan Moskow menekankan bahwa kesepakatan yang sama mengharuskan Ankara untuk memisahkan pemberontak "moderat" dari kelompok teroris, yang sejatinya tidak pernah dilakukan Ankara.

Ada beberapa bentrokan antara pasukan Suriah dan Turki sebagai hasil dari intervensi ini. Pada hari Kamis, seorang gerilyawan setempat yang didukung artileri Turki melancarkan serangan terhadap posisi-posisi tentara Suriah. Hal itu membuat beberapa pesawat jet tempur Rusia turun tangan. Turki akhirnya berhenti menembak setelah Moskow menghubungi Ankara melalui hotline militer.

Ketika Turki bersikeras tidak akan mundur dari Idlib, para pejabatnya juga berusaha menghilangkan kekhawatiran bahwa ini bisa meningkat menjadi perang terbuka dengan Rusia.

“Kami tidak bertujuan untuk berhadapan dengan Rusia. Ini bukan pertanyaan," kata Menteri Pertahanan Hulusi Akar dalam sebuah wawancara dengan CNN Turk, Kamis malam. "Kami telah melakukan segala daya kami untuk mencegah hal ini terjadi, dan kami akan terus melakukannya."

Damaskus sendiri bersikeras membebaskan Idlib dari cengkeraman kelompok-kelompok militan, yang bahkan oleh Amerika Serikat (AS) diakui sebagai ancaman.
(mas)
Berita Terkait
Assad Persilahkan Rusia...
Assad Persilahkan Rusia Bangun Pangkalan Militer di Suriah
Putin dan Assad Bertemu,...
Putin dan Assad Bertemu, Kritik Campur Tangan Asing di Suriah
Utusan Presiden Rusia...
Utusan Presiden Rusia untuk Suriah: Erdogan dan Assad Segera Bertemu
Assad: Keseimbangan...
Assad: Keseimbangan Militer Global Butuh Peran Rusia
Erdogan Siap Bertemu...
Erdogan Siap Bertemu dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad
3 Alasan Rusia Setia...
3 Alasan Rusia Setia Dukung Bashar al-Assad di Suriah
Berita Terkini
IRGC Tembak Jatuh Drone...
IRGC Tembak Jatuh Drone MQ-9 AS di Atas Bushehr, Sirine Meraung di Kuwait dan Bahrain
17 menit yang lalu
AS Serang 80 Target...
AS Serang 80 Target di Iran, Teheran Ancam Pembalasan yang Menghancurkan
1 jam yang lalu
Iran Sebut Sanksi AS...
Iran Sebut Sanksi AS yang Diperbarui Langgar MoU, Langkah itu Mulai Berlaku Penuh 17 Juli
2 jam yang lalu
Harga Minyak Melonjak...
Harga Minyak Melonjak setelah AS Cabut Izin Umum Penjualan Minyak Iran
3 jam yang lalu
AS Serang Iran dan Cabut...
AS Serang Iran dan Cabut Pengecualian Sanksi Sementara untuk Minyak Iran
4 jam yang lalu
Apa itu Administrasi...
Apa itu Administrasi Gaza yang Baru setelah Pemerintahan Hamas Bubar?
13 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved