Korban Terus Berjatuhan, China Mulai Kewalahan Tangani Virus Corona

Senin, 10 Februari 2020 - 05:25 WIB
Korban Terus Berjatuhan, China Mulai Kewalahan Tangani Virus Corona
Korban Terus Berjatuhan, China Mulai Kewalahan Tangani Virus Corona
A A A
BEIJING - Pemerintah China tampak mulai kewalahan dalam menangani virus corona yang telah menewaskan sedikitnya 811 orang dan telah melampaui jumlah korban epidemik SARS pada 2002/2003. Jumlah korban yang terinfeksi virus corona juga telah mencapai 37.198 kasus dan telah menyebar ke berbagai penjuru China.

Optimisme yang pernah digaungkan Pemerintah China saat virus corona awal merebak kini sudah berubah menjadi pesimisme. Pemerintah Provinsi Hubei tetap meliburkan sekolah hingga 1 Maret mendatang untuk mengantisipasi wabah virus corona menyebar lebih luas. Otoritas meminta pengusaha untuk memperpanjang liburan hingga 10 hari. Hal ini menyebabkan banyak kota di China menjadi kota hantu dalam dua pekan terakhir.

Kementerian Keuangan China pun menyediakan anggaran besar mencapai senilai USD10,26 miliar untuk memerangi virus corona. Dana tersebut digunakan untuk pemeriksaan dan perawatan warga yang terinfeksi virus mematikan tersebut.

Kepercayaan Badan Kesehatan Dunia (WHO) kepada Pemerintah China yang diyakini bisa mengatasi virus corona pun mulai memudar. Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memimpin penyelidikan wabah virus corona. Tedros akan memimpin para pakar dari Pusat Kontrol Penyakit (CDC) Amerika Serikat guna menyelidiki wabah virus corona. "Kita berharap demikian (penyelidikan bersama-sama)," kata Tedros.

Di tengah kondisi ini, jutaan warga China juga mulai frustrasi dan tidak lagi percaya kepada pemerintah dalam menangani virus corona. Kekecewaan itu antara lain disampaikan dalam situs jejaring sosial Weibo. “Yang membuat frustrasi adalah hanya ada data resmi,” kritik salah satu pengguna Weibo. Para pengguna lainnya mengkritik tidak bisa membeli masker dan kewajiban harus bekerja kembali. “Lebih dari 20.000 dokter dan perawat dari berbagai penjuru China dikirim ke Hubei. Kenapa jumlah korban terus bertambah?” Pengguna Weibo lainnya memberikan tanggapan.

Jumlah korban yang terinfeksi virus corona pada Sabtu lalu menurun hingga 2.656 kasus. Sebanyak 2.147 kasus berada di Provinsi Hubei.

Hingga tadi malam, merujuk data dari Sekretariat Kantor Staf Presiden (KSP), jumlah korban virus korona di China mencapai 37.229 kasus. Adapun total kasus di seluruh dunia mencapai 37.589. Sebanyak 814 orang tewas dan 2.860 berhasil disembuhkan.

Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China menyatakan pemerintah kini menghadapi kurangnya pasokan obat-obatan dan peralatan medis. Mereka menyatakan penyediaan peralatan pemeriksaan, obat, dan vaksin akan didorong secepatnya untuk diproduksi secara massal. Sebelumnya Deputi Gubernur Hubei Cao Guangjing menyatakan peralatan pelindung bagi paramedis mengalami kekurangan sehingga membahayakan keselamatan mereka.

Dampak perekonomian China akibat virus corona diperkirakan akan terus memburuk. Pasar saham melorot drastis dan investor lari meninggalkan China. Pengusaha memilih investasi yang aman seperti emas dan mata uang Jepang yen. Sebagian perusahaan pun masih tutup dan pekerja kerah putih memilih bekerja dari rumah.

Ancaman kelaparan juga menghantui warga China yang terisolasi. Kenaikan harga daging babi dan produk makanan lainnya diperkirakan tidak bisa dihindari karena masih lumpuhnya sistem transportasi di sebagian besar China. “Wabah virus korona telah mengganggu sistem suplai makanan dan obat-obatan,” kata Deputi Direktur Biro Kesehatan Hewan di Kementerian Pertanian China, Kong Liang. Dia pun mengungkapkan para pekerja pertanian juga belum bisa bekerja secara normal karena ancaman wabah virus corona. “Melihat adanya blokade di beberapa tempat, harga makanan dipastikan naik,” kata Kong.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1084 seconds (10.177#12.26)