Langkah Iran Terkait Kesepakatan Nuklir Tempatkan Eropa di Posisi Sulit

Minggu, 12 Januari 2020 - 09:03 WIB
Langkah Iran Terkait...
Langkah Iran Terkait Kesepakatan Nuklir Tempatkan Eropa di Posisi Sulit
A A A
BRUSSELS - Keputusan Iran untuk terus mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan nuklir 2015 telah menempatkan kekuatan-kekuatan Eropa dalam posisi yang sulit. Konflik yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mendorong negara-negara Eropa untuk mengambil posisi.

Setelah seragan AS yang menewaskan Qassem Soleimani, Iran mengumumkan akan mulai memperkaya uranium tanpa batasan. Langkah ini melanggar kesepakatan yang ditandatangani dengan AS, Inggris, Rusia, China, Prancis, dan Jerman.

Sementara Presiden AS, Donald Trump telah menarik diri dari kesepakatan pada 2018, tiga kekuatan Eropa, yang dikenal sebagai E3, telah mencoba untuk menjaga kesepakatan itu tetap hidup, meskipun Iran telah secara bertahap menarik komitmen dari kesepakatan tersebut ketika AS menghentikan berbagai keringanan sanksi sejak 2018.

Meskipun Menteri Luar Negeri Uni Eropa (UE), Josep Borrell menyuarakan penyesalan atas keputusan terbaru Teheran untuk mengurangi komitmennya, anggota parlemen Jerman, Nikolas Löbel bersikeras bahwa E3 mendukung kesepakatan tersebut.

"Jerman - dan saya dapat berbicara untuk negara-negara E3 lainnya, Prancis dan Inggris, masih tetap berpegang pada kesepakatan Iran. Karena itu adalah satu-satunya kesempatan untuk mencegah Iran membangun bom nuklir dan satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan informasi tentang program nuklir Iran,” Kata Löbel, yang merupakan anggota Komite Hubungan Luar Negeri di Parlemen Jerman.

Di antara tiga negara tersebut, Inggris menjadi negara yang paling keras mengkritik Iran. Di mana, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson juga menjadi pemimpin di Eropa yang mendukung serangan AS terhadap Soleimani.

Jessica Leyland, Analis Intelijen Senior untuk Timur Tengah dan Afrika Utara di AKE International, menyatakan bahwa tekanan dari administrasi Trump dan kebutuhan Inggris akan dukungan AS pasca-Brexit mungkin akan membuat Inggris keluar dari kesepakatan tersebut.

Dia menuturkan, Prancis dan Jerman menginginkan hubungan perdagangan dengan Iran dan kecil kemungkinannya untuk meninggalkan kesepakatan, meski terus mendapat dorongan ke arah tersebut.

"Prancis mungkin akan lebih berkomitmen untuk mempertahankan kesepakatan mengingat hubungan historis mereka dengan Iran sebelum revolusi, tetapi ketika Jerman semakin memberikan sanksi terhadap operasi Hizbullah, toleransi terhadap dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok semacam itu berkurang, dan penarikan dari JCPOA menjadi lebih mungkin," ucap Leyland.
(esn)
Berita Terkait
UE Turut Kecam Keras...
UE Turut Kecam Keras Eksekusi Mati Juara Gulat Iran
Pekan Depan, UE Akan...
Pekan Depan, UE Akan Bahas Sanksi Baru untuk Iran
Iran akan Labeli Angkatan...
Iran akan Labeli Angkatan Bersenjata Negara-negara Uni Eropa sebagai Teroris
Iran Hidupkan Mekanisme...
Iran Hidupkan Mekanisme Perselisihan Kesepakatan Nuklir
Iran Sebut Pemimpin...
Iran Sebut Pemimpin Uni Eropa Munafik, Berdiri di Sisi Salah Sejarah
Uni Eropa Pertimbangkan...
Uni Eropa Pertimbangkan IRGC Iran sebagai Organisasi Teroris
Berita Terkini
Ukraina Ngamuk, Serang...
Ukraina Ngamuk, Serang 21 Kapal Tanker Minyak Rusia
5 menit yang lalu
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
1 jam yang lalu
4 Alasan Mojataba Ingin...
4 Alasan Mojataba Ingin Balas Dendam Kematian Ayahnya, Ingin Mewujudkan Kemenangan Total
2 jam yang lalu
Ukraina Tidak Akan Produksi...
Ukraina Tidak Akan Produksi Rudal Patriot meski Trump Beri Lisensi, Ini 3 Alasannya
3 jam yang lalu
8 Fakta Menarik tentang...
8 Fakta Menarik tentang Norwegia, Negara Paling Bahagia dan Matahari Tak Terbenam di Musim Panas
4 jam yang lalu
Deretan 66 Negara yang...
Deretan 66 Negara yang Memiliki UU Melarang LGBT
8 jam yang lalu
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved