Undang Trump ke Sidang Pemakzulan, Kongres AS: Hadir atau Berhenti Mengeluh

Rabu, 27 November 2019 - 15:12 WIB
Undang Trump ke Sidang...
Undang Trump ke Sidang Pemakzulan, Kongres AS: Hadir atau Berhenti Mengeluh
A A A
WASHINGTON - Kongres Amerika Serikat (AS) telah mengundang Presiden Donald Trump ke sidang pemakzulan pertamanya pada 4 Desember mendatang.

Ketua Komite Kehakiman DPR dari Partai Demokrat, Jerrold Nadler mengatakan, Trump bisa menghadiri persidangan tersebut atau berhenti mengeluh terkait prosesnya. Jka ia hadir, Trump bisa menanyai para saksi.

Dalam sebuah pernyataan, Nadler mengatakan bahwa ia telah menulis surat kepada Trump yang mengundangnya ke sidang bulan depan.

"Pada dasarnya, presiden memiliki pilihan untuk dibuat," kata Nadler.

"Dia bisa mengambil kesempatan ini untuk diwakili dalam sidang pemakzulan, atau dia bisa berhenti tentang prosesnya," tuturnya.

"Saya berharap dia memilih untuk berpartisipasi dalam penyelidikan, secara langsung atau melalui penasihat hukum, seperti yang dilakukan oleh presiden lain sebelumnya," ujar Nadler seperti dilansir dari BBC, Rabu (27/11/2019).

Dalam suratnya kepada Trump, Nadler mengatakan sidang akan menjadi kesempatan untuk membahas dasar historis dan konstitusional untuk pemakzulan.

"Kami juga akan membahas apakah dugaan tindakan Anda menuntut DPR menggunakan wewenangnya untuk mengadopsi pasal-pasal pemakzulan," tambahnya.

Nadler memberikan waktu kepada Trump hingga 1 Desember untuk mengkonfirmasi apakah ia akah hadis di sidang, dan jika demikian, untuk memberi tahu komite tentang siapa penasihat hukumnya.

Komite Kehakiman Kongres diperkirakan akan mulai menyusun pasal-pasal pemakzulan, yang merupakan tuduhan atas kesalahan terhadap presiden, pada awal Desember.

Setelah pemungutan suara di DPR yang dikontrol Partai Demokrat, persidangan akan diadakan di Senat yang dikuasai Partai Republik.

Jika Trump dinyatakan bersalah oleh mayoritas dua pertiga, hasil yang dianggap sangat tidak mungkin, ia akan menjadi presiden AS pertama yang dilengserkan dari jabatannya melalui pemakzulan.

Gedung Putih dan beberapa politisi Partai Republik menginginkan persidangan dibatasi hingga dua minggu.

Ini akan menandai tahap berikutnya dalam penyelidikan pemakzulan, yang berpusat pada panggilan telepon antara Presiden Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada medio Juli lalu.

Dalam panggilan itu, Trump meminta Zelensky untuk menyelidiki Joe Biden, yang saat ini menjadi kandidat terdepan untuk menjadi calon presiden Partai Demokrat tahun depan, dan putran Hunter Biden, yang sebelumnya bekerja untuk perusahaan energi Ukraina, Burisma.

Penyelidikan sedang menyelidiki apakah Trump menggunakan ancaman pemotongan bantuan militer AS untuk menekan Ukraina agar menyelidiki Biden. Trump telah membantah melakukan kesalahan dan menyebut penyelidikan itu sebagai "perburuan penyihir".

Pekan lalu, Komite Intelijen DPR AS telah menyelesaikan dua minggu audiensi publik, yang mengikuti beberapa minggu wawancara tertutup.

Adam Schiff, ketua Komite Intelijen DPR AS dari Partai Demokrat, mengatakan komite-komite yang memimpin penyelidikan - Intelijen, Pengawasan dan Urusan Luar Negeri - sekarang sedang mengerjakan laporan mereka, yang akan dikeluarkan pada 3 Desember.
(ian)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Donald Trump Tinggalkan...
Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih
Tak Jadi Ditahan, Usai...
Tak Jadi Ditahan, Usai Diperiksa Donal Trump Kembali ke Florida
Berita Terkini
Israel Ingin Bangun...
Israel Ingin Bangun Kekuatan Militer di Gaza, Hamas: Zionis Ingin Pecah Belah Rakyat Palestina
4 jam yang lalu
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
5 jam yang lalu
10 Pemakaman Pemimpin...
10 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Jutaan Rakyat, Rekor Khomeini Belum Terpecahkan
6 jam yang lalu
Jerman Tuding China...
Jerman Tuding China Latih Pasukan Rusia, Beijing: Kita Tidak Memihak
7 jam yang lalu
4 Alasan Wapres Filipina...
4 Alasan Wapres Filipina Sara Duterte Terancam Dimakzulkan, Konflik dengan Presiden hingga Terjerat Skandal Korupsi
8 jam yang lalu
Menhan Israel Ancam...
Menhan Israel Ancam Bunuh Para Pemimpin Iran Pengganti Khamenei
8 jam yang lalu
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved