Lindungi Minyak Suriah, AS Kirim Aset Militer Tambahan

Jum'at, 25 Oktober 2019 - 14:06 WIB
Lindungi Minyak Suriah,...
Lindungi Minyak Suriah, AS Kirim Aset Militer Tambahan
A A A
WASHINGTON - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) berencana untuk meningkatkan kehadiran militernya di timur laut Suriah. Itu dilakukan untuk melindungi ladang minyak agar tidak diambil kembali oleh kelompok ekstrimis ISIS yang berpotensi bangkit kembali.

"Salah satu keuntungan paling signifikan oleh AS dan mitra kami dalam perang melawan ISIS adalah mendapatkan kendali atas ladang minyak di Suriah Timur - sumber pendapatan penting bagi ISIS," kata seorang pejabat pertahanan AS dalam sebuah pernyataan.

"AS berkomitmen untuk memperkuat posisi militer kami, dalam koordinasi dengan mitra-mitra SDF kami, di Suriah timur laut dengan aset militer tambahan untuk mencegah ladang-ladang minyak itu jatuh kembali ke tangan ISIS atau para pelaku destabilisasi lainnya," sambung pejabat yang tidak bersedia disebutkan identitasnya itu.

"Kita harus menangkal ISIS dari aliran dana ini guna memastikan tidak ada kebangkitan," tukasnya seperti dilansir dari Al Araby, Jumat (25/10/2019).

Menurut New York Times dua ratus tentara akan ditempatkan di Suriah untuk melindungi ladang minyak.

Presiden Donald Trump pekan lalu mengumumkan bahwa AS akan menarik semua pasukannya dari Suriah utara, tempat mereka bertugas sebagai penyangga antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, pasukan pemerintah dan pasukan Turki.

Tetapi pada hari Rabu Trump mengatakan beberapa pasukan AS akan tinggal untuk melindungi ladang minyak.

"Kami telah mengamankan minyak dan, oleh karena itu, sejumlah kecil pasukan AS akan tetap berada di daerah di mana mereka memiliki minyak," kata Trump. (Baca juga: Trump Akui Pertahankan Pasukan AS di Suriah untuk Jaga Minyak )

Penarikan mundur AS dipandang oleh banyak orang sebagai pengkhianatan terhadap pasukan pimpinan Kurdi yang didukungnya dalam perang melawan ISIS. Pasalnya keputusan itu secara efektif memberi lampu hijau pada serangan Turki ke wilayah perbatasan Suriah untuk mengusir orang Kurdi.

Perjanjian gencatan senjata telah dicapai antara AS dan Turki pekan lalu, dengan syarat bahwa Kurdi menarik diri dari "zona aman" di sepanjang perbatasan Suriah, sebagaimana ditunjuk oleh Turki.

Langkah ini telah banyak dikritik karena merusak kampanye untuk membersihkan Suriah dari kelompok militan ekstrim, karena dihadapkan dengan serangan Turki. Pasukan Kurdi mungkin terpaksa meninggalkan tugas mereka menjaga penjara ISIS.

Pihak berwenang Kurdi mengatakan 800 anggota keluarga ISIS ditahan di sebuah kamp di Ain al-Issa di Suriah utara telah melarikan diri karena pemboman Turki.
(ian)
Berita Terkait
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Apa Pemicu Kehancuran...
Apa Pemicu Kehancuran Amerika Serikat?
Menhan Prabowo Bertemu...
Menhan Prabowo Bertemu Menhan Amerika Serikat
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Berita Terkini
Jenazah Ayatollah Khamenei...
Jenazah Ayatollah Khamenei Akan Dimakamkan pada 9 Juli
2 jam yang lalu
PM Pakistan: Perjanjian...
PM Pakistan: Perjanjian Damai Iran dan AS Terwujud dalam 24 Jam Mendatang
4 jam yang lalu
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
4 jam yang lalu
Pasukan Elite AS Siapkan...
Pasukan Elite AS Siapkan Skenario Caplok Uranium Iran, tapi Kenapa Tidak Dilaksanakan?
5 jam yang lalu
Promosikan Startup ke...
Promosikan Startup ke Dunia, Indonesia Gabung London Tech Week
6 jam yang lalu
Tak Ingin Bernasib seperti...
Tak Ingin Bernasib seperti Ukraina, Polandia Operasikan Jet Tempur Siluman
6 jam yang lalu
Infografis
Iran-Israel Perang,...
Iran-Israel Perang, Ini Peta Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved