Ulama Top Iran Desak Semua Pihak di Irak Tahan Diri
Sabtu, 05 Oktober 2019 - 20:55 WIB
Ulama Top Iran Desak Semua Pihak di Irak Tahan Diri
A
A
A
TEHERAN - Ulama Syiah terkemuka di Iran, Grand Ayatollah Ali al-Sistani mendesak pasukan keamanan dan pengunjuk rasa di Irak untuk menghindari kekerasan. Dia menyatakan kesedihan dengan banyaknya korban dalam demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara tetangga Iran itu.
"Sangat menyedihkan ada begitu banyak kematian, korban dan kehancuran dari bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan pasukan keamanan dalam beberapa hari terakhir," kata Sistani dalam surat yang dibacakan oleh perwakilannya di Karbala.
Dalam suratnya, seperti dilansir PressTV pada Sabtu (5/10/2019), Sistani mendesak semua pihak untuk menghindari kekerasan.
Sistani, dalam suratnya juga mengkritik pejabat dan pihak politik karena gagal menjawab tuntutan rakyat untuk memerangi korupsi, mendesak mereka untuk mengindahkan tuntutan para pemrotes sebelum terlambat.
"Anggota parlemen memegang tanggung jawab terbesar untuk apa yang terjadi," ungkapnya.
Sebelumnya, Komisi HAM Parlemen Irak menuturkan bahwa jumlah korban tewas akibat demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara itu menembus angka 70 orang. Komisi itu juga mengatakan bahwa lebih dari 3.000 orang juga terluka akibat demonstrasi itu.
Sementara itu, Moqtada al-Sadr, seorang ulama dan pemimpin politik populis yang memiliki banyak pengikut di Irak menyerukan agar pemerintahan Perdana Menteri Adil Abdul-Mahdi mengundurkan diri. Dia mengatakan, pemilihan baru harus segera diadakan.
"Sangat menyedihkan ada begitu banyak kematian, korban dan kehancuran dari bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan pasukan keamanan dalam beberapa hari terakhir," kata Sistani dalam surat yang dibacakan oleh perwakilannya di Karbala.
Dalam suratnya, seperti dilansir PressTV pada Sabtu (5/10/2019), Sistani mendesak semua pihak untuk menghindari kekerasan.
Sistani, dalam suratnya juga mengkritik pejabat dan pihak politik karena gagal menjawab tuntutan rakyat untuk memerangi korupsi, mendesak mereka untuk mengindahkan tuntutan para pemrotes sebelum terlambat.
"Anggota parlemen memegang tanggung jawab terbesar untuk apa yang terjadi," ungkapnya.
Sebelumnya, Komisi HAM Parlemen Irak menuturkan bahwa jumlah korban tewas akibat demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara itu menembus angka 70 orang. Komisi itu juga mengatakan bahwa lebih dari 3.000 orang juga terluka akibat demonstrasi itu.
Sementara itu, Moqtada al-Sadr, seorang ulama dan pemimpin politik populis yang memiliki banyak pengikut di Irak menyerukan agar pemerintahan Perdana Menteri Adil Abdul-Mahdi mengundurkan diri. Dia mengatakan, pemilihan baru harus segera diadakan.
(esn)