Iran Minta RI Desak Semua Pihak Patuhi Kesepakatan Nuklir
Jum'at, 06 September 2019 - 19:50 WIB
Iran Minta RI Desak Semua Pihak Patuhi Kesepakatan Nuklir
A
A
A
JAKARTA - Iran minta Indonesia untuk mendesak semua pihak untuk terus mematuhi kesepakatan nuklir. Permintaan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif saat melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi di Jakarta.
Zarif mengatakan, dalam pertemuan dengan Retno dia menjelaskan mengenai situasi seputaran kesepakatan nuklir. Di mana, Zarif menyebut, dia menjelaskan Iran terus berusaha untuk menyelamatkan kesepakatan, yang dia gambarkan sebagai pencapaian besar dalam dunia diplomasi.
"Langkah-langkah yang telah kami ambil, telah ditentukan dalam JCPOA dalam paragraf 36 sebagai solusi untuk penarikan Amerika Serikat (AS), yang merupakan pengulangan sanksi ilegal terhadap Iran yang kami sebut terorisme ekonomi karena mereka menargetkan warga negara Iran," ucap Zarif pada Jumat (6/9), menggunakan nama resmi kesepakatan nuklir.
"Presiden (Donald) Trump menyebut mereka perang, kami menyebutnya terorisme karena mereka menargetkan warga, warga sipil Iran dan juga kegagalan orang Eropa untuk melaksanakan bagian mereka dalam tawar-menawar," sambungnya.
Dia lalu menuturkan Iran telah berulang kali menyampaikan bahwa begitu pihak-pihak kembali mematuhi kesepakatan nuklir, Teheran siap untuk membalikkan tindakan sementara yang telah diambil untuk memperbaiki ketidakpatuhan terhadap JCPOA.
"Kami juga ingin teman-teman Indonesia meminta semua orang untuk menerapkan sepenuhnya JCPOA dan resolusi Dewan Keamanan 2231 yang bertumpu pada dua premis program nuklir Iran tetap damai dan normalisasi hubungan ekonomi dengan Iran," ungkapnya.
"Sayangnya AS tidak hanya tidak menormalkan hubungan ekonomi dengan Iran, tetapi juga menghukum orang lain karena menormalkan hubungan ekonomi dengan Iran. Hal ini sama sekali tidak dapat diterima," tukasnya.
Zarif mengatakan, dalam pertemuan dengan Retno dia menjelaskan mengenai situasi seputaran kesepakatan nuklir. Di mana, Zarif menyebut, dia menjelaskan Iran terus berusaha untuk menyelamatkan kesepakatan, yang dia gambarkan sebagai pencapaian besar dalam dunia diplomasi.
"Langkah-langkah yang telah kami ambil, telah ditentukan dalam JCPOA dalam paragraf 36 sebagai solusi untuk penarikan Amerika Serikat (AS), yang merupakan pengulangan sanksi ilegal terhadap Iran yang kami sebut terorisme ekonomi karena mereka menargetkan warga negara Iran," ucap Zarif pada Jumat (6/9), menggunakan nama resmi kesepakatan nuklir.
"Presiden (Donald) Trump menyebut mereka perang, kami menyebutnya terorisme karena mereka menargetkan warga, warga sipil Iran dan juga kegagalan orang Eropa untuk melaksanakan bagian mereka dalam tawar-menawar," sambungnya.
Dia lalu menuturkan Iran telah berulang kali menyampaikan bahwa begitu pihak-pihak kembali mematuhi kesepakatan nuklir, Teheran siap untuk membalikkan tindakan sementara yang telah diambil untuk memperbaiki ketidakpatuhan terhadap JCPOA.
"Kami juga ingin teman-teman Indonesia meminta semua orang untuk menerapkan sepenuhnya JCPOA dan resolusi Dewan Keamanan 2231 yang bertumpu pada dua premis program nuklir Iran tetap damai dan normalisasi hubungan ekonomi dengan Iran," ungkapnya.
"Sayangnya AS tidak hanya tidak menormalkan hubungan ekonomi dengan Iran, tetapi juga menghukum orang lain karena menormalkan hubungan ekonomi dengan Iran. Hal ini sama sekali tidak dapat diterima," tukasnya.
(esn)