Rudal Baru Korut Dapat 'Hujani' Pertahanan Regional AS di Asia
Rabu, 04 September 2019 - 10:27 WIB
Rudal Baru Korut Dapat 'Hujani' Pertahanan Regional AS di Asia
A
A
A
WASHINGTON - Otoritas intelijen Amerika Serikat (AS) dan pakar independen meyakini jika rudal baru Korea Utara (Korut) mempunyai kemampuan menakutkan. Menurut mereka, rudal baru Korut mempunyai jangkauan yang lebih jauh dan mampu bermanuver untuk menghujani pertahanan AS di kawasan Asia seperti dilaporkan oleh The New York Times.
Penilaian ini berbeda dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut rudal yang diuji coba Korut adalah rudal standar dan bukan sebuah ancaman.
Seperti diketahui Korut telah menguji tiga varietas rudal baru pada sembilan kesempatan sejak Mei - versi rudal Iskander, rudal permukaan-ke-permukaan (ATACMS) sistem rudal taktis, dan peluncur roket multipel super besar. Pengujian telah menunjukkan kemampuan Korut untuk secara konsisten meluncurkan rudal berbahan bakar padat yang lebih mudah disembunyikan di pegunungan dan dapat dengan cepat dikerahkan pada peluncur bergerak dan ditembakkan sebelum AS dapat merespons.
Menteri Pertahanan Jepang, Takeshi Iwaya mengatakan, lintasan rudal Korut tidak teratur. Ini menjadi bukti jika program rudal Korut dirancang untuk mengalahkan sistem pertahanan yang telah dikerahkan Jepang, dengan teknologi AS, di laut dan di pantai. Rudal seperti itu, kata para ahli, dapat dirancang untuk membawa hulu ledak konvensional atau nuklir.
Peningkatan cepat dalam rudal jarak dekat tidak hanya menempatkan Jepang dan Korea Selatan (Korsel) dalam bahaya, tetapi juga mengancam setidaknya delapan pangkalan AS di negara-negara tersebut uang menampung lebih dari 30 ribu tentara.
“Ini diluncurkan mobile, mereka bergerak cepat, mereka terbang sangat rendah, dan mereka dapat bermanuver," ujar Vipin Narang, seorang profesor ilmu politik di MIT yang mempelajari kemajuan senjata Korut.
"Itu adalah mimpi buruk bagi pertahanan rudal. Dan itu hanya masalah waktu sebelum teknologi tersebut dimigrasikan ke rudal jarak jauh," imbuhnya seperti dikutip dari Independent, Rabu (4/9/2019).
Perkiraan oleh Badan Intelijen Pertahanan, diedarkan untuk pejabat di dalam pemerintah AS pada musim panas ini, memperkirakan bahwa Korut juga telah memproduksi bahan bakar yang cukup untuk sekitar selusin senjata nuklir baru sejak pembicaraan bersejarah di Singapura.
"Badan intelijen lain memiliki angka yang lebih konservatif," kata seorang mantan pejabat senior, tetapi semua menunjuk pada peningkatan bom.
Secara keseluruhan, Korut telah melakukan delapan uji coba rudal baru pada Mei, Juli dan Agustus. Menurut Pusat Studi Nonproliferasi, sebuah kelompok swasta yang berbasis di Monterey California, jangkauan maksimum rudal baru Korut adalah sekitar 430 mil.
Rudal itu jika disempurnakan, dapat menargetkan seluruh Korsel, termasuk setidaknya enam pangkalan AS, dan bagian Jepang, termasuk dua pangkalan besar.
Korut melakukan debut jenis rudal baru pada akhir Juli dan awal Agustus, bersamaan dengan siste peluncur baru. Van Diepen, mantan pejabat tinggi AS tentang senjata pemusnah massal, menggambarkannya sebagai senjata generasi baru yang dapat menembakkan sejumlah rudal yang tidak diketahui secara bersamaan. Untuk diketahui, tipe yang lebih tua bisa menembakkan delapan rudal.
Dalam tulisannya di situs yang memantu Korut, North38, Diepen menyatakan bahwa kisaran rudal yang baru diuji adalah 155 mil atau 40 mil lebih jauh dari versi yang lebih lama. Ia mengatakan ini akan meningkatkan kemampuan Korut untuk melakukan serangan saturasi terhadap sasaran AS dan Korsel, yang juga dapat mengalahkan pertahanan antimisil.
Korut menguji coba rudal baru ketiga sebanyak dua kali pada awal Agustus. Analis belum dapat memastikan kelebihan rudal tersebut.
Kemudian, akhir bulan lalu, Korut juga menembakkan dua proyektil dari apa yang disebutnya sebagai peluncur roket ganda super besar. Vipin Narang mengatakan sistem itu tampak baru, mungkin sistem rudal keempat yang membuat debut pada tahun ini dan pengulangan dari beberapa peluncur roket.
Penilaian ini berbeda dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut rudal yang diuji coba Korut adalah rudal standar dan bukan sebuah ancaman.
Seperti diketahui Korut telah menguji tiga varietas rudal baru pada sembilan kesempatan sejak Mei - versi rudal Iskander, rudal permukaan-ke-permukaan (ATACMS) sistem rudal taktis, dan peluncur roket multipel super besar. Pengujian telah menunjukkan kemampuan Korut untuk secara konsisten meluncurkan rudal berbahan bakar padat yang lebih mudah disembunyikan di pegunungan dan dapat dengan cepat dikerahkan pada peluncur bergerak dan ditembakkan sebelum AS dapat merespons.
Menteri Pertahanan Jepang, Takeshi Iwaya mengatakan, lintasan rudal Korut tidak teratur. Ini menjadi bukti jika program rudal Korut dirancang untuk mengalahkan sistem pertahanan yang telah dikerahkan Jepang, dengan teknologi AS, di laut dan di pantai. Rudal seperti itu, kata para ahli, dapat dirancang untuk membawa hulu ledak konvensional atau nuklir.
Peningkatan cepat dalam rudal jarak dekat tidak hanya menempatkan Jepang dan Korea Selatan (Korsel) dalam bahaya, tetapi juga mengancam setidaknya delapan pangkalan AS di negara-negara tersebut uang menampung lebih dari 30 ribu tentara.
“Ini diluncurkan mobile, mereka bergerak cepat, mereka terbang sangat rendah, dan mereka dapat bermanuver," ujar Vipin Narang, seorang profesor ilmu politik di MIT yang mempelajari kemajuan senjata Korut.
"Itu adalah mimpi buruk bagi pertahanan rudal. Dan itu hanya masalah waktu sebelum teknologi tersebut dimigrasikan ke rudal jarak jauh," imbuhnya seperti dikutip dari Independent, Rabu (4/9/2019).
Perkiraan oleh Badan Intelijen Pertahanan, diedarkan untuk pejabat di dalam pemerintah AS pada musim panas ini, memperkirakan bahwa Korut juga telah memproduksi bahan bakar yang cukup untuk sekitar selusin senjata nuklir baru sejak pembicaraan bersejarah di Singapura.
"Badan intelijen lain memiliki angka yang lebih konservatif," kata seorang mantan pejabat senior, tetapi semua menunjuk pada peningkatan bom.
Secara keseluruhan, Korut telah melakukan delapan uji coba rudal baru pada Mei, Juli dan Agustus. Menurut Pusat Studi Nonproliferasi, sebuah kelompok swasta yang berbasis di Monterey California, jangkauan maksimum rudal baru Korut adalah sekitar 430 mil.
Rudal itu jika disempurnakan, dapat menargetkan seluruh Korsel, termasuk setidaknya enam pangkalan AS, dan bagian Jepang, termasuk dua pangkalan besar.
Korut melakukan debut jenis rudal baru pada akhir Juli dan awal Agustus, bersamaan dengan siste peluncur baru. Van Diepen, mantan pejabat tinggi AS tentang senjata pemusnah massal, menggambarkannya sebagai senjata generasi baru yang dapat menembakkan sejumlah rudal yang tidak diketahui secara bersamaan. Untuk diketahui, tipe yang lebih tua bisa menembakkan delapan rudal.
Dalam tulisannya di situs yang memantu Korut, North38, Diepen menyatakan bahwa kisaran rudal yang baru diuji adalah 155 mil atau 40 mil lebih jauh dari versi yang lebih lama. Ia mengatakan ini akan meningkatkan kemampuan Korut untuk melakukan serangan saturasi terhadap sasaran AS dan Korsel, yang juga dapat mengalahkan pertahanan antimisil.
Korut menguji coba rudal baru ketiga sebanyak dua kali pada awal Agustus. Analis belum dapat memastikan kelebihan rudal tersebut.
Kemudian, akhir bulan lalu, Korut juga menembakkan dua proyektil dari apa yang disebutnya sebagai peluncur roket ganda super besar. Vipin Narang mengatakan sistem itu tampak baru, mungkin sistem rudal keempat yang membuat debut pada tahun ini dan pengulangan dari beberapa peluncur roket.
(ian)