Terus Lakukan Uji Coba Rudal, Korut Salahkan AS dan Korsel
Jum'at, 30 Agustus 2019 - 06:36 WIB
Terus Lakukan Uji Coba Rudal, Korut Salahkan AS dan Korsel
A
A
A
SEOUL - Surat kabar Korea Utara (Korut), Rodong Sinmun, menerbitkan artikel yang menjelaskan mengapa Pyongyang kembali melakukan uji coba rudal, meskipun hubungan diplomatik dengan Washington tampaknya mencair.
Dalam artikel itu, Korut menyerang Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) dengan menyalahkan mereka karena memaksa Pyongyang melakukan uji coba rudal. Korut menyalahkan "perilaku Imperialistik" dan "hubungan ganda" AS dengan Korsel karena merusak proses denuklirisasi.
"Kita hidup di dunia di mana perilaku imperialistik untuk bermain dengan kedaulatan negara-negara lain semakin mencolok dari sebelumnya dan tidak sedikit negara yang dipaksa untuk memilih nasib buruk karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk membela diri," tulis artikel itu.
"Hari ini kita mengalami setiap hari dari lubuk hati kita betapa bangganya bekerja untuk kemandirian, sambil menyadari berapa banyak harga yang harus kita bayar sebagai akibat dari tunduk pada yang lebih kuat dan ketergantungan pada kekuatan luar," sambung artikel itu yang dikutip Sputnik dari Newsweek, Jumat (30/8/2019).
Menurut artikel itu, AS memprakarsai pembicaraan denuklirisasi tetapi pada saat yang sama terlibat dalam latihan militer dengan Seoul, kegiatan yang dipandang Pyongyang sebagai latihan untuk invasi.
Pada tahun 2018, Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan puncak bersejarah dengan pemimpin Korut Kim Jong-un di Singapura, kontak tingkat tinggi pertama antara kedua negara. Pertemuan itu kemudian diikuti oleh KTT 2019 di Hanoi, yang berakhir setelah Trump pergi dengan tiba-tiba, mengutip tuntutan Korut yang tidak dapat diterima.
Meskipun terjadi insiden diplomatik, kedua pemimpin itu bertemu lagi secara singkat pada bulan Juli selama kunjungan Trump ke Korsel. Pertemuan bulan Juli itu menandai pertama kalinya seorang pemimpin Amerika menginjak tanah Korut, yang disebut Trump sebagai "kehormatan besar."
Meskipun muncul dinamika yang positif, pada bulan Juli AS mengatakan tidak akan membatalkan latihan bersama angkatan lautnya dengan Seoul. Ini mendorong Pyongyang untuk memulai tes rudal baru, memicu kecaman internasional.
Meskipun ada keluhan dari sekutu AS, Trump tidak menganggap tes tersebut perlu diperhatikan, dengan mengatakan karena itu uji coba rudal jarak pendek, mereka tidak menimbulkan ancaman yang signifikan. Latihan militer gabungan AS-Korsel pun berlangsung pada bulan Agustus, berakhir awal pekan lalu. Beberapa hari setelah latihan berakhir, Korut kembali melakukan uji coba rudal ketujuh dalam dua bulan terakhir.
Menurut Newsweek, pemerintahan Trump tidak mau merusak apa yang dianggap oleh pemerintah itu sebagai prestasi diplomatik bersejarah dengan mengutuk peluncuran rudal.
Pada hari Rabu, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan bahwa Washington ingin memahami apa yang mereka lakukan dan mengapa mereka melakukannya, tetapi menekankan bahwa pemerintah AS tidak akan bereaksi berlebihan terhadap uji coba rudal Korut baru-baru ini.
"Kami ingin mengambil respons yang terukur dan memastikan kami tidak menutup pintu menuju diplomasi," kata Esper.
Dalam artikel itu, Korut menyerang Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) dengan menyalahkan mereka karena memaksa Pyongyang melakukan uji coba rudal. Korut menyalahkan "perilaku Imperialistik" dan "hubungan ganda" AS dengan Korsel karena merusak proses denuklirisasi.
"Kita hidup di dunia di mana perilaku imperialistik untuk bermain dengan kedaulatan negara-negara lain semakin mencolok dari sebelumnya dan tidak sedikit negara yang dipaksa untuk memilih nasib buruk karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk membela diri," tulis artikel itu.
"Hari ini kita mengalami setiap hari dari lubuk hati kita betapa bangganya bekerja untuk kemandirian, sambil menyadari berapa banyak harga yang harus kita bayar sebagai akibat dari tunduk pada yang lebih kuat dan ketergantungan pada kekuatan luar," sambung artikel itu yang dikutip Sputnik dari Newsweek, Jumat (30/8/2019).
Menurut artikel itu, AS memprakarsai pembicaraan denuklirisasi tetapi pada saat yang sama terlibat dalam latihan militer dengan Seoul, kegiatan yang dipandang Pyongyang sebagai latihan untuk invasi.
Pada tahun 2018, Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan puncak bersejarah dengan pemimpin Korut Kim Jong-un di Singapura, kontak tingkat tinggi pertama antara kedua negara. Pertemuan itu kemudian diikuti oleh KTT 2019 di Hanoi, yang berakhir setelah Trump pergi dengan tiba-tiba, mengutip tuntutan Korut yang tidak dapat diterima.
Meskipun terjadi insiden diplomatik, kedua pemimpin itu bertemu lagi secara singkat pada bulan Juli selama kunjungan Trump ke Korsel. Pertemuan bulan Juli itu menandai pertama kalinya seorang pemimpin Amerika menginjak tanah Korut, yang disebut Trump sebagai "kehormatan besar."
Meskipun muncul dinamika yang positif, pada bulan Juli AS mengatakan tidak akan membatalkan latihan bersama angkatan lautnya dengan Seoul. Ini mendorong Pyongyang untuk memulai tes rudal baru, memicu kecaman internasional.
Meskipun ada keluhan dari sekutu AS, Trump tidak menganggap tes tersebut perlu diperhatikan, dengan mengatakan karena itu uji coba rudal jarak pendek, mereka tidak menimbulkan ancaman yang signifikan. Latihan militer gabungan AS-Korsel pun berlangsung pada bulan Agustus, berakhir awal pekan lalu. Beberapa hari setelah latihan berakhir, Korut kembali melakukan uji coba rudal ketujuh dalam dua bulan terakhir.
Menurut Newsweek, pemerintahan Trump tidak mau merusak apa yang dianggap oleh pemerintah itu sebagai prestasi diplomatik bersejarah dengan mengutuk peluncuran rudal.
Pada hari Rabu, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan bahwa Washington ingin memahami apa yang mereka lakukan dan mengapa mereka melakukannya, tetapi menekankan bahwa pemerintah AS tidak akan bereaksi berlebihan terhadap uji coba rudal Korut baru-baru ini.
"Kami ingin mengambil respons yang terukur dan memastikan kami tidak menutup pintu menuju diplomasi," kata Esper.
(ian)