Rouhani Bilang Iran Tak Pernah Menginginkan Bom Nuklir
Selasa, 27 Agustus 2019 - 13:50 WIB
Rouhani Bilang Iran Tak Pernah Menginginkan Bom Nuklir
A
A
A
TEHERAN - Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa negaranya tidak pernah menginginkan bom nuklir. Pernyataannya muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron sepakat bahwa Teheran tidak boleh mendapatkan senjata nuklir dan wajib mematuhi kewajiban internasionalnya di bidang tersebut.
Pernyataan pemimpin Iran disampaikan dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi setempat pada hari Selasa (27/8/2019).
Dia mengatakan Teheran sejatinya selalu siap untuk mengadakan pembicaraan dengan siapa pun, termasuk AS, dengan syarat terbebas dari sanksi terlebih dahulu.
"Tapi pertama-tama AS harus bertindak dengan mencabut semua sanksi ilegal dan tidak adil yang dijatuhkan pada Iran," ujarnya, dikutip Reuters.
"Kami akan terus mengurangi komitmen kami berdasarkan kesepakatan 2015 jika minat kami tidak dijamin," lanjut dia mengacu pada perjanjian tentang nuklir Iran yang bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
"Tanpa penghapusan sanksi dan meninggalkan jalan keliru yang telah dipilih AS, kami tidak akan melihat perubahan positif. Washington memiliki kunci untuk perubahan positif," paparnya.
Iran menjadi topik utama diskusi di KTT G-7 di Biarritz, Prancis. Selama KTT, Presiden Trump mengatakan bahwa ia memiliki "perasaan yang baik" tentang negosiasi dengan Iran.
Hubungan antara Washington dan Teheran memburuk secara signifikan ketika pemerintahan Trump menarik AS keluar dari JCPOA 2015 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Republik Islam Iran yang sebelumnya dicabut.
Trump berargumen bahwa kesepakatan tentang nuklir Iran itu ada poin yang cacat dan berulang kali menyarankan pertemuan dengan para pejabat Iran untuk menegosiasikan kesepakatan baru.
Pernyataan pemimpin Iran disampaikan dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi setempat pada hari Selasa (27/8/2019).
Dia mengatakan Teheran sejatinya selalu siap untuk mengadakan pembicaraan dengan siapa pun, termasuk AS, dengan syarat terbebas dari sanksi terlebih dahulu.
"Tapi pertama-tama AS harus bertindak dengan mencabut semua sanksi ilegal dan tidak adil yang dijatuhkan pada Iran," ujarnya, dikutip Reuters.
"Kami akan terus mengurangi komitmen kami berdasarkan kesepakatan 2015 jika minat kami tidak dijamin," lanjut dia mengacu pada perjanjian tentang nuklir Iran yang bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
"Tanpa penghapusan sanksi dan meninggalkan jalan keliru yang telah dipilih AS, kami tidak akan melihat perubahan positif. Washington memiliki kunci untuk perubahan positif," paparnya.
Iran menjadi topik utama diskusi di KTT G-7 di Biarritz, Prancis. Selama KTT, Presiden Trump mengatakan bahwa ia memiliki "perasaan yang baik" tentang negosiasi dengan Iran.
Hubungan antara Washington dan Teheran memburuk secara signifikan ketika pemerintahan Trump menarik AS keluar dari JCPOA 2015 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Republik Islam Iran yang sebelumnya dicabut.
Trump berargumen bahwa kesepakatan tentang nuklir Iran itu ada poin yang cacat dan berulang kali menyarankan pertemuan dengan para pejabat Iran untuk menegosiasikan kesepakatan baru.
(mas)