Trump Akan Kunjungi Dua Lokasi Penembakan
Selasa, 06 Agustus 2019 - 08:59 WIB
Trump Akan Kunjungi Dua Lokasi Penembakan
A
A
A
WASHINGTON - Gedung Putih mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan akan mengunjungi EL Paso, Texas, dan Dayton, Ohio, dalam beberapa hari mendatang. Dua kota tersebut menjadi lokasi penembakan massal pada akhir pekan kemarin.
"Presiden Trump akan melakukan kunjungan ke Dayton dan El Paso untuk menytakan belasungkawa dan membantu menyediakan sumber daya," kata Penasihat Presiden Kellyanne Conway di Gedung Putih.
"Presiden Trump ingin mendengar lebih banyak dari Walikota dan mereka yang terkena dampak langsung," imbuhnya seperti dilansir dari CNN, Selasa (6/8/2019).
Conway tidak menyebutkan kapan Trump akan mengunjungi dua kota tersebut, tetapi Wali Kota El Paso Dee Margo mengatakan ia akan bertemu dengan Presiden saat ia berkunjung pada Rabu mendatang untuk membahas kekhasan komunitasnya dalam kapasitasnya sebagai Wali Kota. Dee Margo sendiri tidak bertemu dengan Trump selama kunjungan terakhirnya ke kota itu pada awal tahun ini.
Margo mengatakan dia sudah mendapatkan email dan panggilan telepon dari orang-orang.
"Kita sedang berurusan dengan tragedi 22 orang yang telah meninggal karena tindakan jahat kebencian dari seorang supremasi kulit putih," katanya.
"Saya tidak tahu bagaimana kita menghadapi kejahatan. Saya tidak punya buku pelajaran untuk menghadapinya selain dari Alkitab. Saya minta maaf. Kita akan membahas ini. Presiden akan keluar. Saya akan bertemu dengan Presiden. Saya kira untuk orang-orang yang punya banyak waktu, saya akan berurusan dengan email dan panggilan telepon," tuturnya.
Sementara itu Wali Kota Dayton Nan Whaley mengatakan dia belum mendapatkan konfirmasi kunjungan Trump ketika ditanya tentang hal itu.
"Saya pernah mendengar bahwa dia akan datang Rabu, tetapi saya belum mendapat telepon," kata Whaley.
"Dan kamu tahu, dia mungkin akan pergi ke Toledo, Saya tidak tahu," imbuhnya merujuk pada kesalahan ucapan belasungkawa Trump terhadap mereka yang tewas di Dayton pada saat berpidato di Gedung Putih pada Senin waktu setempat.
Dua puluh dua orang tewas dan lebih dari dua lusin terluka akibat penembakan pada hari Sabtu di El Paso, yang merupakan salah satu dari tiga penembakan massal terbesar di seluruh AS dalam sepekan terakhir. Sementara sembilan orang tewas dan 27 lainnya terluka akibat penembakan di Dayton, Ohio.
Awal pekan ini, Trump menyampaikan pidato di Gedung Putih, menyerukan negara itu untuk mengutuk supremasi kulit putih dan bersumpah untuk mengambil tindakan untuk mencegah pembantaian senjata lebih lanjut.
Namun dalam pidatonya, Trump tidak memberikan dukungan terhadap langkah apa pun yang akan memperluas pemeriksaan latar belakang untuk penjualan senjata api, meskipun mengesahkan undang-undang tersebut pada hari sebelumnya. Trump juga tidak menyebutkan langkah-langkah yang spesifik untuk membatasi akses ke senjata api kecuali mengusulkan undang-undang "bendera merah", yang akan mencegah akses senjata api ke orang-orang yang sakit jiwa.
Perwakilan Partai Demokrat Veronica Escobar, yang mewakili El Paso, mengatakan kepada MSNBC bahwa Presiden tidak disambut di komunitasnya.
"Kata-kata memiliki konsekuensi, dan Presiden telah menjadikan komunitas saya dan orang-orang saya musuh," kata Escobar.
"Dia telah mengatakan kepada negara itu bahwa kita adalah orang-orang yang harus ditakuti, orang-orang yang akan dibenci. Dia telah melakukan itu di rapat umum. Dia telah melakukannya melalui Twitter-nya," imbuhnya merujuk pada retorika yang memecah belah dan pernyataan rasis Trump.
"Presiden Trump akan melakukan kunjungan ke Dayton dan El Paso untuk menytakan belasungkawa dan membantu menyediakan sumber daya," kata Penasihat Presiden Kellyanne Conway di Gedung Putih.
"Presiden Trump ingin mendengar lebih banyak dari Walikota dan mereka yang terkena dampak langsung," imbuhnya seperti dilansir dari CNN, Selasa (6/8/2019).
Conway tidak menyebutkan kapan Trump akan mengunjungi dua kota tersebut, tetapi Wali Kota El Paso Dee Margo mengatakan ia akan bertemu dengan Presiden saat ia berkunjung pada Rabu mendatang untuk membahas kekhasan komunitasnya dalam kapasitasnya sebagai Wali Kota. Dee Margo sendiri tidak bertemu dengan Trump selama kunjungan terakhirnya ke kota itu pada awal tahun ini.
Margo mengatakan dia sudah mendapatkan email dan panggilan telepon dari orang-orang.
"Kita sedang berurusan dengan tragedi 22 orang yang telah meninggal karena tindakan jahat kebencian dari seorang supremasi kulit putih," katanya.
"Saya tidak tahu bagaimana kita menghadapi kejahatan. Saya tidak punya buku pelajaran untuk menghadapinya selain dari Alkitab. Saya minta maaf. Kita akan membahas ini. Presiden akan keluar. Saya akan bertemu dengan Presiden. Saya kira untuk orang-orang yang punya banyak waktu, saya akan berurusan dengan email dan panggilan telepon," tuturnya.
Sementara itu Wali Kota Dayton Nan Whaley mengatakan dia belum mendapatkan konfirmasi kunjungan Trump ketika ditanya tentang hal itu.
"Saya pernah mendengar bahwa dia akan datang Rabu, tetapi saya belum mendapat telepon," kata Whaley.
"Dan kamu tahu, dia mungkin akan pergi ke Toledo, Saya tidak tahu," imbuhnya merujuk pada kesalahan ucapan belasungkawa Trump terhadap mereka yang tewas di Dayton pada saat berpidato di Gedung Putih pada Senin waktu setempat.
Dua puluh dua orang tewas dan lebih dari dua lusin terluka akibat penembakan pada hari Sabtu di El Paso, yang merupakan salah satu dari tiga penembakan massal terbesar di seluruh AS dalam sepekan terakhir. Sementara sembilan orang tewas dan 27 lainnya terluka akibat penembakan di Dayton, Ohio.
Awal pekan ini, Trump menyampaikan pidato di Gedung Putih, menyerukan negara itu untuk mengutuk supremasi kulit putih dan bersumpah untuk mengambil tindakan untuk mencegah pembantaian senjata lebih lanjut.
Namun dalam pidatonya, Trump tidak memberikan dukungan terhadap langkah apa pun yang akan memperluas pemeriksaan latar belakang untuk penjualan senjata api, meskipun mengesahkan undang-undang tersebut pada hari sebelumnya. Trump juga tidak menyebutkan langkah-langkah yang spesifik untuk membatasi akses ke senjata api kecuali mengusulkan undang-undang "bendera merah", yang akan mencegah akses senjata api ke orang-orang yang sakit jiwa.
Perwakilan Partai Demokrat Veronica Escobar, yang mewakili El Paso, mengatakan kepada MSNBC bahwa Presiden tidak disambut di komunitasnya.
"Kata-kata memiliki konsekuensi, dan Presiden telah menjadikan komunitas saya dan orang-orang saya musuh," kata Escobar.
"Dia telah mengatakan kepada negara itu bahwa kita adalah orang-orang yang harus ditakuti, orang-orang yang akan dibenci. Dia telah melakukan itu di rapat umum. Dia telah melakukannya melalui Twitter-nya," imbuhnya merujuk pada retorika yang memecah belah dan pernyataan rasis Trump.
(ian)