Israel Merudal Posisi Militer Assad di Suriah Selatan
Rabu, 24 Juli 2019 - 22:27 WIB
Israel Merudal Posisi Militer Assad di Suriah Selatan
A
A
A
DAMASKUS - Militer Israel melancarkan serangan rudal yang menargetkan posisi militer rezim Presiden Bashar al-Assad dan sekutunya di Suriah selatan pada Rabu (24/7/2019) dini hari. Kantor berita pemerintah Damaskus, SANA, melaporkan serangan tersebut.
Sejumlah rudal ditembakkan ke Suriah selatan yang berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan, wilayah yang diduduki dan dianeksasi oleh Israel.
"Musuh Israel melancarkan agresi setelah tengah malam terhadap daerah Tall al-Hara," tulis SANA, yang menambahkan ada laporan kerusakan properti akibat agresi tersebut.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia sebelumnya juga melaporkan serangan-serangan rudal yang mereka duga dilakukan rezim Zionis. Menurut lembaga pemantau krisis Suriah tersebut, serangan misil menargetkan Tall al-Hara di provinsi Daraa, selatan Damaskus, dan dua daerah di provinsi Quneitra.
"(Sistem) pertahanan anti-pesawat rezim (Assad) telah diaktifkan untuk melawan serangan itu," kata direktur Observatoium Rami Abdulrahman. "Beberapa rudal telah ditembak jatuh, yang lain telah mencapai target."
Menurut Observatorium, ada laporan tentang korban jiwa. Namun, lembaga yang berbasis di Inggris itu tidak merinci jumlahnya.
Israel belum berkomentar dan biasanya menolak mengomentari misi militernya. Rezim Zionis tersebut telah melakukan ratusan serangan udara di Suriah sejak awal konflik pada 2011 dengan menargetkan pasukan loyalis Presiden Assad dan sekutunya, pasukan Iran serta Hizbullah.
Konflik Suriah telah menewaskan lebih dari 370.000 orang dan menjadi menarik negara-negara kekuatan dunia untuk ikut campur. Perang saudara di Suriah dimulai dengan penindasan brutal terhadap protes anti-pemerintah Assad.
Observatorium mengatakan serangan Israel sebelumnya menargetkan Tall al-Hara, di mana Hizbullah telah memasang sistem radar dan rezim Suriah telah mendirikan baterai anti-pesawat.
Pada akhir Juni, enam warga sipil dan sembilan serdadu pro-pemerintah tewas dalam serangan Israel di dekat Damaskus dan provinsi Homs.
Israel telah bersumpah untuk mencegah musuh bebuyutan, Iran, menumpuk kekuatan militernya di Suriah, di mana Teheran mendukung rezim Assad.
Negara Yahudi itu bersikeras bahwa mereka memiliki hak untuk terus menargetkan posisi yang dikendalikan oleh Iran dan Hizbullah Lebanon di wilayah Suriah untuk membela diri.
Serangan rudal Israel hari ini terjadi setelah pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, mengatakan pada awal bulan ini bahwa roket kelompoknya dapat mencapai situs-situs kunci Israel di sepanjang pantai Mediterania, termasuk Tel Aviv.
"Iran dapat membombardir Israel dengan keganasan dan kekuatan, tetapi tidak akan memulai perang," katanya saat itu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian membalas komentar Nasrallah bahwa militer Zionis akan memberikan pukulan yang menghancurkan terhadap Hizbullah dan Lebanon jika nekat menyerang.
Sejumlah rudal ditembakkan ke Suriah selatan yang berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan, wilayah yang diduduki dan dianeksasi oleh Israel.
"Musuh Israel melancarkan agresi setelah tengah malam terhadap daerah Tall al-Hara," tulis SANA, yang menambahkan ada laporan kerusakan properti akibat agresi tersebut.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia sebelumnya juga melaporkan serangan-serangan rudal yang mereka duga dilakukan rezim Zionis. Menurut lembaga pemantau krisis Suriah tersebut, serangan misil menargetkan Tall al-Hara di provinsi Daraa, selatan Damaskus, dan dua daerah di provinsi Quneitra.
"(Sistem) pertahanan anti-pesawat rezim (Assad) telah diaktifkan untuk melawan serangan itu," kata direktur Observatoium Rami Abdulrahman. "Beberapa rudal telah ditembak jatuh, yang lain telah mencapai target."
Menurut Observatorium, ada laporan tentang korban jiwa. Namun, lembaga yang berbasis di Inggris itu tidak merinci jumlahnya.
Israel belum berkomentar dan biasanya menolak mengomentari misi militernya. Rezim Zionis tersebut telah melakukan ratusan serangan udara di Suriah sejak awal konflik pada 2011 dengan menargetkan pasukan loyalis Presiden Assad dan sekutunya, pasukan Iran serta Hizbullah.
Konflik Suriah telah menewaskan lebih dari 370.000 orang dan menjadi menarik negara-negara kekuatan dunia untuk ikut campur. Perang saudara di Suriah dimulai dengan penindasan brutal terhadap protes anti-pemerintah Assad.
Observatorium mengatakan serangan Israel sebelumnya menargetkan Tall al-Hara, di mana Hizbullah telah memasang sistem radar dan rezim Suriah telah mendirikan baterai anti-pesawat.
Pada akhir Juni, enam warga sipil dan sembilan serdadu pro-pemerintah tewas dalam serangan Israel di dekat Damaskus dan provinsi Homs.
Israel telah bersumpah untuk mencegah musuh bebuyutan, Iran, menumpuk kekuatan militernya di Suriah, di mana Teheran mendukung rezim Assad.
Negara Yahudi itu bersikeras bahwa mereka memiliki hak untuk terus menargetkan posisi yang dikendalikan oleh Iran dan Hizbullah Lebanon di wilayah Suriah untuk membela diri.
Serangan rudal Israel hari ini terjadi setelah pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, mengatakan pada awal bulan ini bahwa roket kelompoknya dapat mencapai situs-situs kunci Israel di sepanjang pantai Mediterania, termasuk Tel Aviv.
"Iran dapat membombardir Israel dengan keganasan dan kekuatan, tetapi tidak akan memulai perang," katanya saat itu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian membalas komentar Nasrallah bahwa militer Zionis akan memberikan pukulan yang menghancurkan terhadap Hizbullah dan Lebanon jika nekat menyerang.
(mas)