Putra Duterte Maju untuk Kursi Ketua Kongres Filipina
Rabu, 03 Juli 2019 - 12:51 WIB
Putra Duterte Maju untuk Kursi Ketua Kongres Filipina
A
A
A
MANILA - Putra Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Paolo Duterte menyatakan, dia mungkin akan mencalonkan diri sebagai ketua majelis rendah Kongres.
Pencalonan Paolo akan memanaskan persaingan untuk kursi ketua legislatif yang didominasi aliansi ayahnya. Paolo, 44, meraih kursi pada pemilu tengah periode pada Mei lalu. Dia mengusulkan pembagian tiga tahun periode ketua legislatif dan ingin mengatasi perpecahan di parlemen.
“Kita tidak bicara tentang dua orang di sini. Kita bicara tentang negeri tercinta kita,” kata Paolo dilansir Reuters . Dia menambahkan, “Ini bukan tentang kepemimpinan saja, tapi siapa orang yang tepat untuk menyatukan Kongres.”
Presiden belum memberikan dukungan pada salah satu calon ketua parlemen karena masih ada lobi untuk posisi itu. Sebulan lalu, Duterte menyatakan, dia akan mundur dari kursi presiden jika putranya menjadi ketua parlemen karena sudah ada tiga Duterte yang menjabat.
Pernyataan Duterte itu merujuk kepada putrinya Sara Duterte yang menggantikannya sebagai Wali Kota Davao City dan putra termudanya Sebastian yang menjadi Wakil Wali Kota Davao. Sara Duterte dengan cepat menjadi tokoh politik dan diperkirakan akan maju sebagai calon presiden pada pemilu 2022.
Paolo Duterte pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Davao, tapi mengundurkan diri pada akhir 2017 dengan menyebut alasan kegagalan pernikahan dan citranya rusak karena dikaitkan dengan kasus penyitaan narkoba ilegal senilai USD125 juta dari China.
Kasus itu membuat Paolo ha rus diperiksa oleh Senat. Dia menyangkal terlibat dalam kasus itu dan tidak mendapat dakwaan melakukan pelanggaran apapun.
Dengan semakin banyaknya anggota parlemen dari partai berkuasa di Kongres dan Senat, maka pemilihan ketua parlemen sangat penting untuk menentukan kesuksesan atau kegagalan pemerintahan Duterte.
Beberapa pengamat politik menyatakan Duterte perlu mengesahkan agenda legislatifnya sesegera mungkin atau berisiko disandera oleh politik uang, politik dagang sapi atau perubahan aliansi saat pemilu 2022 semakin mendekat. (Syarifudin)
Pencalonan Paolo akan memanaskan persaingan untuk kursi ketua legislatif yang didominasi aliansi ayahnya. Paolo, 44, meraih kursi pada pemilu tengah periode pada Mei lalu. Dia mengusulkan pembagian tiga tahun periode ketua legislatif dan ingin mengatasi perpecahan di parlemen.
“Kita tidak bicara tentang dua orang di sini. Kita bicara tentang negeri tercinta kita,” kata Paolo dilansir Reuters . Dia menambahkan, “Ini bukan tentang kepemimpinan saja, tapi siapa orang yang tepat untuk menyatukan Kongres.”
Presiden belum memberikan dukungan pada salah satu calon ketua parlemen karena masih ada lobi untuk posisi itu. Sebulan lalu, Duterte menyatakan, dia akan mundur dari kursi presiden jika putranya menjadi ketua parlemen karena sudah ada tiga Duterte yang menjabat.
Pernyataan Duterte itu merujuk kepada putrinya Sara Duterte yang menggantikannya sebagai Wali Kota Davao City dan putra termudanya Sebastian yang menjadi Wakil Wali Kota Davao. Sara Duterte dengan cepat menjadi tokoh politik dan diperkirakan akan maju sebagai calon presiden pada pemilu 2022.
Paolo Duterte pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Davao, tapi mengundurkan diri pada akhir 2017 dengan menyebut alasan kegagalan pernikahan dan citranya rusak karena dikaitkan dengan kasus penyitaan narkoba ilegal senilai USD125 juta dari China.
Kasus itu membuat Paolo ha rus diperiksa oleh Senat. Dia menyangkal terlibat dalam kasus itu dan tidak mendapat dakwaan melakukan pelanggaran apapun.
Dengan semakin banyaknya anggota parlemen dari partai berkuasa di Kongres dan Senat, maka pemilihan ketua parlemen sangat penting untuk menentukan kesuksesan atau kegagalan pemerintahan Duterte.
Beberapa pengamat politik menyatakan Duterte perlu mengesahkan agenda legislatifnya sesegera mungkin atau berisiko disandera oleh politik uang, politik dagang sapi atau perubahan aliansi saat pemilu 2022 semakin mendekat. (Syarifudin)
(nfl)