Legislator Iran Sebut Trump Presiden Gila

Rabu, 22 Mei 2019 - 01:18 WIB
Legislator Iran Sebut...
Legislator Iran Sebut Trump Presiden Gila
A A A
TEHERAN - Direktur urusan luar negeri untuk parlemen Iran, Hossein Amir-Abdollahian menyebut Donald Trump sebagai presiden gila dan pemerintahannya membingungkan. Amir-Abdollahian menunjuk pada kampanye pemimpin Amerika Serikat (AS) yang tengah berlangsung untuk mencekik ekonomi Iran, tapi di satu sisi meminta Teheran untuk berdialog dengannya.

"Dalam benaknya, Trump berpikir dia memiliki senjata di kepala Iran dengan sanksi dan dia berusaha untuk menutup ekonomi kita," kata Amir-Abdollahian mengatakan kepada CNN, Rabu (22/5/2019).

"Ini semua dalam imajinasinya. Sekarang dia ingin kita meneleponnya? Ini presiden gila!" imbuhnya.

"Di dalam Gedung Putih ada banyak pendapat yang saling bertentangan," Amir-Abdollahian melanjutkan, menunjuk pada "penghasut perang" di West Wing dan menunjuk penasihat keamanan nasional John Bolton.

"Juga, Trump tidak cukup seimbang dan stabil dalam pengambilan keputusannya, jadi kita berurusan dengan Gedung Putih yang membingungkan. Iran menerima berbagai sinyal yang menunjukkan bahwa tidak ada yang tahu siapa yang memiliki Gedung Putih," ucapnya.

Sebagai bukti lebih lanjut, Amir-Abdollahian menambahkan bahwa cuitan Trump saling bertentangan.

Amir-Abdollahian memberi isyarat bahwa Iran tidak sepenuhnya menentang pembicaraan, itu hanya masalah cara memintanya.

"Trump dapat mendiskusikan pembicaraan dengan Iran melalui telepon ketika dia tidak menggunakan bahasa ancaman dan kekerasan," kata anggota parlemen Iran itu.

"Dia bisa berbicara tentang menelepon kita ketika dia kembali ke perjanjian nuklir," imbuhnya.

Amir-Abdollahian mengatakan bahwa Trump tidak tahu tentang budaya dan mental orang-orang Iran jika ia berpikir ancaman akan berhasil terhadap Iran.

"Empat puluh tahun Revolusi Islam di Iran telah menunjukkan bahwa Anda tidak dapat berbicara dengan Iran melalui ancaman. Jika ia berpikir dengan membawa beberapa kapal induk dan pesawat pembom, ia dapat mengambil keuntungan dari Iran dan memaksa Iran untuk bernegosiasi dari posisi yang tidak setara, dia salah," tutur Amir-Abdollahian.

"Tetapi ketika kapal mereka mendekati kita, itu adalah ancaman bagi mereka. Kami tidak pernah menyambut perang, tetapi kami berdiri teguh," tukasnya.
(ian)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Elon Musk Bertekad Damaikan...
Elon Musk Bertekad Damaikan Iran dengan Amerika Serikat
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Trump: Terlepas Orang...
Trump: Terlepas Orang Suka atau Tidak, Israel Sekutu Hebat Amerika Serikat
Berita Terkini
Deretan 66 Negara yang...
Deretan 66 Negara yang Memiliki UU Melarang LGBT
4 jam yang lalu
Mojtaba Janji Balas...
Mojtaba Janji Balas Dendam atas Darah Tak Bersalah Ayahnya
5 jam yang lalu
Pecahkan Rekor! 10 Juta...
Pecahkan Rekor! 10 Juta Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei
5 jam yang lalu
Mengapa Turki Jual Sistem...
Mengapa Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA? Ini Alasan Utamanya
7 jam yang lalu
Iran Akui Melakukan...
Iran Akui Melakukan Kesalahan Menembaki Kapal Tanker di Selat Hormuz
8 jam yang lalu
Ini Reaksi 9 Pemimpin...
Ini Reaksi 9 Pemimpin Negara NATO setelah Menerima Hadiah Pistol dari Erdogan
8 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved