Dokter Universitas Ohio Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 177 Mahasiswa

Sabtu, 18 Mei 2019 - 17:24 WIB
Dokter Universitas Ohio...
Dokter Universitas Ohio Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 177 Mahasiswa
A A A
OHIO - Sebuah penyelidikan menemukan bahwa dokter tim Universitas Ohio telah melakukan pelecehan seksual selama lebih dari 20 tahun. Jumlah korbannya mencapai 177 mahasiswa dan pejabat universitas tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya.

Menurut laporan investigasi tersebut, Dr Richard Strauss meraba-raba atau melirik pria muda sambil merawat atlet dari setidaknya 16 cabang olahraga saat bekerja di pusat kesehatan siswa dan klinik luar kampusnya mulai dari 1970 sampai 1990-an.

Menurut para penyelidik, Strauss melecehkan para siswa dari tahun 1979 hingga 1997 di berbagai lokasi di kampus, termasuk kamar periksa, ruang ganti, kamar mandi dan sauna. Strauss sendiri diketahui meninggal bunuh diri pada usia 67 di tahun 2005, hampir satu dekade setelah ia diizinkan pensiun dengan hormat.

Laporan itu merinci bahwa dia membuat para pria muda telanjang dan meraba-rabanya secara seksual. Salah satu korban mengatakan kepada penyelidik bahwa Strauss menghabiskan lima menit membelai alat kelaminnya dan tidak pernah memeriksa bagian lain dari tubuh. Sementara korban lain, yang tumbuh di daerah pedesaan dan tidak pernah mendapatkan pemeriksaan medis yang tepat, menggambarkan Strauss mengenakan stetoskop pada penisnya.

Laporan tersebut juga menyimpulkan bahwa sejumlah personel Universitas Ohio mengetahui tentang keluhan dan kekhawatiran tentang perilaku Strauss pada tahun 1979, tetapi mereka gagal selama bertahun-tahun untuk menyelidiki atau mengambil tindakan yang berarti.

Banyak korban mengatakan bahwa perilaku Strauss itu sudah menjadi rahasia umum dan mereka percaya jika pelatih, trainer, dan dokter tim lainnya tahu apa yang sedang terjadi.

"Kami sangat menyesal bahwa ini terjadi," kata Presiden Universitas Ohio Michael Drake pada konferensi pers, menggunakan kata-kata seperti mengejutkan, mengerikan dan memilukan untuk menggambarkan temuan itu.

Drake, meskipun mengakui kegagalan kelembagaan yang konsisten di universitas terbesar ketiga AS itu, mencatat bahwa ini terjadi lebih dari dua dekade lalu.

"Ini bukan universitas hari ini," imbuhnya seperti dikutip dari Sputnik, Sabtu (18/5/2019).

Tuntutan hukum terhadap Universitas Ohio sedang di mediasi guna mendapatkan ganti rugi terhadap korban. Drake mengatakan firma hukum yang disewa oleh universitas untuk menyelidiki klaim itu telah menelan biaya USD6,2 juta.

Kantor Departemen Hak Asasi Manusia Departemen Pendidikan AS juga memeriksa apakah Universitas Ohio menanggapi keluhan siswa dengan cepat dan adil. Departemen ini dapat memotong dana federal universitas jika diketahui telah melanggar perlindungan hak-hak sipil.
(ian)
Berita Terkait
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Apa Pemicu Kehancuran...
Apa Pemicu Kehancuran Amerika Serikat?
Menhan Prabowo Bertemu...
Menhan Prabowo Bertemu Menhan Amerika Serikat
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Berita Terkini
Venezuela Memohon kepada...
Venezuela Memohon kepada Raja Charles: Serahkan 31 Ton Emas yang Ditahan Inggris
37 menit yang lalu
Uni Eropa Perketat Impor...
Uni Eropa Perketat Impor E-Commerce, Era Paket Murah dari China Mulai Berakhir
1 jam yang lalu
Imbas AS Serang Iran:...
Imbas AS Serang Iran: Qatar, Bahrain, dan Kuwait Panik
1 jam yang lalu
Trump Sebut Iran Sampah,...
Trump Sebut Iran Sampah, Ini Respons Teheran
2 jam yang lalu
Ayatollah Ali Khamenei...
Ayatollah Ali Khamenei Akan Dikuburkan Hari Ini di Tengah Serangan AS terhadap Iran
2 jam yang lalu
AS Diperkirakan Akan...
AS Diperkirakan Akan Pasok 6 Jet Tempur Siluman F-35 ke Turki
3 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Terbaik...
10 Universitas Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved