Duterte Bilang Siap Dibakar di Neraka karena Perangi Narkoba
Jum'at, 03 Mei 2019 - 00:49 WIB
Duterte Bilang Siap Dibakar di Neraka karena Perangi Narkoba
A
A
A
DAVAO CITY - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengaku siap menghadapi kematian sebagai konsekuensi dari tindakannya dalam memerangi narkoba di negaranya. Presiden ini bahkan berseloroh siap dibakar di neraka selamanya jika tindakannya dalam menyelamatkan generasi Filipina dianggap salah.
Dalam pidatonya di pembukaan Palarong Pambansa 2019—acara multi-olahraga tahunan—di Davao City, Duterte blakblakan bahwa dia benar-benar akan membunuh mereka yang berusaha untuk menghancurkan Filipina atau pun mengancam pemuda negara tersebut.
"(Bahkan) jika harus pergi ke neraka untuk dibakar selama-lamanya," katanya, seperti dikutip surat kabar Manila Bulletin, Kamis (2/5/2019).
"Jika mereka ingin saya digantung atau menghadapi regu tembak, saya akan senang bahwa saya mati untuk generasi Filipina berikutnya sehingga mereka akan memiliki kehidupan yang nyaman," lanjut Duterte.
Dia menegaskan bahwa pemerintahannya tetap bertekad memerangi obat-obatan terlarang, kriminalitas dan korupsi di Filipina.
Presiden Duterte juga mendesak masyarakat untuk mendukung upaya-upayanya. Dia memperingatkan bahwa ada 7 juta orang Filipina yang kecanduan sabu-sabu atau metamfetamin.
Menurut Duterte, narkoba tidak hanya menghancurkan kehidupan para pecandu tetapi juga menyebabkan keluarga mereka hancur.
"Saya membutuhkan dukungan Anda, atlet muda kami, dalam upaya ini jika kami ingin memastikan masa depan yang aman dan progresif bagi generasi Filipina berikutnya," kata Duterte.
Sebelumnya, Presiden Filipina tersebut juga mengancam akan mengebiri petugas polisi yang korupsi, yang terlibat dalam perdagangan narkoba.
Duterte memulai kampanye anti-narkoba skala besar pada Juni 2016 sebagai tindak lanjut dari janji kampanye pemilihan presiden untuk menghentikan kejahatan terkait narkoba di negara tersebut.
Inisiatifnya mendapat kecaman keras dari komunitas internasional dan kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) karena banyak orang dibunuh di luar hukum dalam kampanye pemberantasan narkoba.
Dalam pidatonya di pembukaan Palarong Pambansa 2019—acara multi-olahraga tahunan—di Davao City, Duterte blakblakan bahwa dia benar-benar akan membunuh mereka yang berusaha untuk menghancurkan Filipina atau pun mengancam pemuda negara tersebut.
"(Bahkan) jika harus pergi ke neraka untuk dibakar selama-lamanya," katanya, seperti dikutip surat kabar Manila Bulletin, Kamis (2/5/2019).
"Jika mereka ingin saya digantung atau menghadapi regu tembak, saya akan senang bahwa saya mati untuk generasi Filipina berikutnya sehingga mereka akan memiliki kehidupan yang nyaman," lanjut Duterte.
Dia menegaskan bahwa pemerintahannya tetap bertekad memerangi obat-obatan terlarang, kriminalitas dan korupsi di Filipina.
Presiden Duterte juga mendesak masyarakat untuk mendukung upaya-upayanya. Dia memperingatkan bahwa ada 7 juta orang Filipina yang kecanduan sabu-sabu atau metamfetamin.
Menurut Duterte, narkoba tidak hanya menghancurkan kehidupan para pecandu tetapi juga menyebabkan keluarga mereka hancur.
"Saya membutuhkan dukungan Anda, atlet muda kami, dalam upaya ini jika kami ingin memastikan masa depan yang aman dan progresif bagi generasi Filipina berikutnya," kata Duterte.
Sebelumnya, Presiden Filipina tersebut juga mengancam akan mengebiri petugas polisi yang korupsi, yang terlibat dalam perdagangan narkoba.
Duterte memulai kampanye anti-narkoba skala besar pada Juni 2016 sebagai tindak lanjut dari janji kampanye pemilihan presiden untuk menghentikan kejahatan terkait narkoba di negara tersebut.
Inisiatifnya mendapat kecaman keras dari komunitas internasional dan kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) karena banyak orang dibunuh di luar hukum dalam kampanye pemberantasan narkoba.
(mas)